Hason Sitorus di Rumah Pangan Kita, tempat edukasi dan penyediaan bahan kebutuhan pokok miliknya. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Masyarakat kota lebih suka mengonsumsi beras kualitas premium. Alasannya karena lebih enak, punel dan bersih.

Padahal, beras premium selain harganya jauh lebih tinggi juga memiliki kandungan gula yang sangat tinggi dan gizi yang sangat rendah dibandingkan beras pecah kulit.

Tak mengherankan banyak masyarakat kota yang mengidap penyakit diabates karena mengonsumsi beras yang hanya mengandung gula tinggi.

 Hason Sitorus, mencoba mengedukasi masyarakat agar bisa kembali mengonsumsi beras pecah kulit (brown rice/beras cokelat). Di mana beras ini merupakan hasil penggilingan pertama yang masih menempel kulit arinya.

“Ini yang kandungan gizinya sangat banyak. Air tajin yang bagus buat bayi hanya bisa didapat di beras pecah giling ini, kalau yang sudah polesan tidak ada gizinya,” ujar Hason, pensiunan ASN di Pemkot Surabaya.

Mantam Auditor Bulog ini juga mengaku tertantang untuk mengedukasi masyarakat apalagi di masa pandemi Covid-19 di mana perekonomian sedang menurun dan tingkat pendapatan masyarakat juga menurun drastis.

“Jadi tidak perlu beli beras yang mahal-mahal. Beras poles, harga mahal tidak ada gizi justru banyak kandungan gula. Beras cokelat, harga murah tapi gizinya banyak,” tandasnya.

Bagi Hason, tidak mudah mengedukasi masyarakat tentang beras yang memiliki kandungan gizi banyak. Karena bagi masyarakat, beras pecah kulit itu justru dianggap beras afkiran.

“Makanya edukasi itu saya berikan dulu ke masyarakat kelas atas yang sudah mengetahui beras poles harga mahal. Kalau sudah tahu tentang itu, edukasi tentang beras cokelat ini jauh lebih mudah,” jelasnya.

Selain itu, Hason mencoba mengedukasi masyarakat yang datang ke Rumah Pangan Kita di Kawasan Karang Menjangan Surabaya dengan mendemokan cara penggilingan padi mulai dari beras pecah kulit hingga menjadi beras poles yang harga mahal hasil olahan pabrik.

Hason sengaja menyediakan miniatur mesin penggilingan padi seperti yang dimiliki pabrik-pabrik besar. Penggilan mini itu memiliki 10 tombol mulai angka nol hingga 10. Untuk memproduksi beras pecah kulit hanya dibutuhkan tombol nol dan satu. Inilah beras yang memiliki kualitas bagus dan bergizi karena masih ada kulit arinya.

Untuk memproduksi beras medium harus diputar ke tombol nomor enam. Di sini, beras mulai terlihat putih dan semakin mengikus kulit ari beras. Gizi mulai berkurang.

“Dan kalau mau memproduksi beras premium berkemasan lima kilogram seperti di supermarket, tinggal mindah aja ke tombol sepuluh. Baru akan muncul beras yang bersih, mengkilap dan licin. Ini beras kandungan gulanya sangat tinggi sehingga tidak sehat dikonsumsi, apalagi harganya mahal,” tuturnya.

Karenanya, masyarakat yang datang ke Rumah Pangan Kita biasanya mulai sadar dan beralih mengonsumsi beras cokelat atau pecah kulit. “Kalau kita mengonsumsi beras cokelat itu, petani akan sejahtera karena beras mereka bisa kita serap dengan baik dengan harga yang kompetitif,” kata pria 58 tahun itu. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry