Ilustrasi, bebek diantara sampah plastik. (duta.co/dedik )

MALANG | duta.co -Tiga mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) begitu prihatin terhadap pencemaran lingkungan, terutama terhadap limbah plastik. Mereka pun meneliti tingkat pencemaran sampah plastik pada bebek. Hasilnya mengejutkan, dan menggugah kita semua untuk mulai mengurangi penggunaan plastik.

Menurut Dosen pembimbing penelitian yang mendapat dana hibah Rp 9 juta ini, Drh Nurul Humaida MKES, Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Penelitian Eksakta (PE) ini meneliti mikroplastik yang ada dalam tubuh unggas. Hal ini terkait pencemaran yang negara kita yang masuk ranking ke 2 dalam hal pencemaran lingkungan setelah Cina.

Nurul Hamidah juga menerangkan, bahwa selama ini penelitian pencemaran mikroplastik terbanyak pada hewan ikan. Maka ke tiga mahasiswa ini penasaran, bagaimana pada jenis unggas air, yakni bebek. Penelitian meliputi bebek yang dipelihara bebas dengan sistem umbar, bebek yang dipelihara semi, dan bebek yang benar-benar dikandang tertutup.

“Ternyata jika dilihat dari mikro plastik yang ada di saluran pencernaan tiap bebek tersebut. Tak terduga, yang di dalam kandang pun terpapar mikro plastik,” ungkapnya.

Penelitian juga meliputi zona tanah kering, zona tanah semi basah dan zona tanah di dalam air. Kesemua zona tanah ternyata mengandung mikro plastik. Ke tiga mahasiswa peneliti yang mendapat dana hibah hingga Rp 9 Juta ini gabungan antara 2 mahasiswa fakultas Peternakan dan seorang mahasiswa Mipa

Menurut juru bicara peneliti, Yustian Dwi Cahyono, idenya muncul tatkala ditemukan mikroplatik dalam usus ikan. Nah kemudian pertanyaan selanjutnya, bagaimana kalau di unggas air ?

Penelitian dilakukan di tiga tempat, yakni Kasembon, Junrejo dan Kecamatan Lowokwaru kota Malang yang mengambil sample peternakan intensif. Di Kasembon sendiri peternakan bebek petelur yang saat siang, bebek tersebut dilepas bebas dekat sungai wilayah pemukiman penduduk. Dimana dalam wilayah sungai tersebut banyak ditemukan sampah plastik.

“Junrejo pemeliharan semi intensif digembalakan di sawah. Sedangkan di Lowokwaru wilayah seputar kota peternakan bebek sistem kandang tertutup,” ujar Yustian Dwi.

Penelitian ini masing-masing bebek tersebut dilihat melalui saluran mikroskop. Serta melaui sample saluran pencernaan dan sampel pasir atau tanah di lingkungan kandang.

Yustian Dwi kemudian membeberkan, bebek tersebut dibedah yang kemudian diambil mulai dari eksovakus sampai pada pangkal kolakal. Selanjutnya dibersihkan lalu dihancurkan kemudian dilarutkan dengan cairan KOH 10 %. Tujuannya untuk mengambil ekstrak larutan biologinya. Tahap berikutnya dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam penuh, dengan suhu 60 derajat Celcius. Lalu disaring menggunakan kertas saring wbmen. Hingga tinggal mikro plastik yang tersisa beserta air.

Dari tahapan tadi kemudian dianalisa menggunakan alat khusus dibawah mikroskop pembesaran 40 X dan 100 X. Ternyata dalam tiap sample terdapat mikroplastik di saluran pencernaan bebek.

Mikroplastik sendiri terdapat dua jenis, yaitu fiber  dan film. Jenis fiber merupakan hasil pembuangan plastik jenis tali yang terdapat di tali plastik maupun pakaian yang terpolimerisasi sekunder hingga menjadi fiber. Ada pun jenis mikroplastik film merupakan hasil dari fragmentasi kantong plastik. Juga botol-botol plastik yang teregradasi menjadi mikro plastik jenis film.

Menurut Yustian Dwi, dampak dari mikroplastik ini terhadap bebek sangat fatal. Zat ini akan menetap di dalam ususnya dan menghambat proses pencernaan hingga produksi telur menurun, diiringi pertumbuhan badan yang semakin mengecil. Ini lantaran nutrisi yang dibutuhkan tubuh terhambat oleh mikroplastik.

Penelitian mikroplastik ini pada 30 ekor bebek, dimana tiap jenis kandang diambil sample 10 ekor. “Semua bebek mengandung mikro plastik, namun justru yang kandang kering tingkat kandungan dalam tubuhnya cukup tinggi. Maka kecurigaan kami asal mikroplastik terdapat pada air,” tukas Yustian Dwi.

Dalam sebuah penelitian 2015 lalu, Indonesia penyumbang plastik nomer dua terbesar di dunia. Contoh kasus, ikan Paus yang terdampar di Wakatobi di dalam perutnya terdapat 9,2 Kg sampah plastik.

Yustian Dwi sebelum mengakhiri obrolan berpesan, Pemerintah punya PR besar dalam mengurai sampah plastik, yang selanjutnya mudah terurai dengan netral. Jenis plastik yang beredar di masyarakat saat ini ialah plastik yang tingkat urainya sangat sulit, lantaran plastik yang gampang terurai membutuhkan biaya produksi yang tinggi. Penguraian sampah plastik oleh alam sendiri membutuhkan waktu ratusan tahun.

Judul PKM PE ini sendiri adalah Analisis Kandungan Mikro Plastik pada Bebek. Studi Kasus Tingkat Pencemaran di Ternak Unggas Air. dah

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry