SURABAYA | duta.co – Penyakit degeneratif semakin banyak diderita masyarakat Indonesia seperti diabetes, hipertensi, jantung dan sebagainya.

Ini menggugah dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Dr Prima Retno Wulandari, MSi untuk melakukan penelitian terhadap obat dari penyakit degeneratif yang berbeda dari obat kimia yang saat ini ada dan banyak dikonsumsi pasien.

Prof Prima yang ditemui usai pengukuhannya sebagai guru besar Unesa, Selasa (10/2/2026) mengaku prihatin dengan kondisi ini. “Obat kimia itu jelas berbahaya, apalagi ini dikonsumsinya dalam jangka panjang,” katanya.

Karenanya dia pun melakukan penelitian agar bisa mencari alternatif obat penyakit degeneratif yang lebih aman. “Penelitian saya ini dengan bahan pangan lokal. Tentu ini jauh lebih aman bagi pasien karena dari bahan alami,” tuturnya.

Prof Prima mengaku banyak pangan lokal yang berpotensi menjadi obat dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif. “Bahan lokal itu mengandung probiotik dan prebiotik yang bisa untuk alternatif obat yang lebih aman,” ungkapnya.

Selama menjadi dosen, Prof Prima sudah menghasilkan 27 produk dari hasil penelitiannya bersama mahasiswa dan sejawatnya. Salah satunya adalah kopi probiotik. Hasil penelitian itu sudah diuji cobakan pada tikus. Masih belum pada uji klinis.

“Salah satunya adalah untuk obat diabetes. Tikus yang sudah dibuat diabetes, dikasih obat dari produk penelitian saya, dan kadar gulanya menurun,” tuturnya.

Ke depan, Prof Prima ingin hasil penelitiannya yang sudah diuji ke hewan coba itu, diujicobakan pada manusia atau uji klinis. “Pasti itu akan dilakukan. Tinggal tunggu waktunya,” tandasnya.

Prof Prima adalah wanita kelahiran Jember yang menyelesaikan S1 di ITS, S2 di IPB dan S3 di UGM Yogyakarta. Menjadi dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Unesa sejak 1994 walau dengan keterbatasan fisik karena menderita polio sejak masih kecil.

Prof Prima dikukuhkan menjadi menjadi guru besar Unesa bersama delapan dosen lainnya. Salah satunya adalah Prof Martadi, Wakil Rektor 1 Unesa.

Rektor, Prof Nurhasan mengaku bangga, dosennya sudah banyak yang menjadi guru besar. “Sekarang sudah antre yang mau jadi guru besar. Setelah ini ada empat yang sudah keluar suratnya. Sudah antre lagi tujuh orang. Luar biasa,”  katanya.

Gelar guru besar ini kata Cak Hasan, panggilan akrab Prof Nurhasan, bukan sesuatu yang instan. Tapi akumulasi dari kerja, pengabdian dan komitmen kuat yang menjunjung etika dan integritas akademik.

“Ini  bukan capaian personal tapi capaian institusi yang membanggakan. Terima kasih untuk semuanya,” tuturnya. lis
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry