Hakam Mabruri (tengah) dan istrinya Rofingatul Islamiah (kanan) saat menjalankan ibadah umrah. (FT/Saudi Gazette)

Ketika umat Muslim dari seluruh dunia melakukan ibadah haji ke Mekkah, sebagian besar dari mereka sampai di sana dengan transportasi udara mengingat jarak tempuh perjalanan yang jauh.

Beberapa melakukan perjalanan melalui laut. Sementara mereka yang berasal dari negara-negara tetangga, melakukan perjalanan melalui darat dengan mobil dan bus untuk mencapai tempat tersuci di Bumi. Namun, berbeda dengan Hakam Mabruri dan Rofingatul Islamiah.

Pasangan suami istri yang keduanya berusia 35 tahun itu, berbagi pengalaman berpetualang mereka. Pasangan ini tiba di Mekah setelah mengayuh sepeda yang dibuat khusus untuk mereka dalam melewati tujuh negara dan melintasi jarak sekitar 12.000 kilometer. Perjalanan ini ditempuh mereka bertahun-tahun.

Sebelum memulai perjalanannya pada 17 Desember 2016, pasangan tersebut menghabiskan 1,5 bulan untuk persiapan di kampung halaman mereka di Malang, Jawa Timur.

Hakam dan sang istri sengaja merancang sendiri sepeda impian mereka dan mengirimkan desain ke pabrik. Sepeda itu membutuhkan dua kursi, pengangkut barang dan dua set pedal untuk menjalankannya.

Mereka mendapat dukungan dari berbagai LSM dan masyarakat yang senang dengan tujuan mereka. Hakam dan Islamiah telah memutuskan untuk memanfaatkan perjalanan mereka dengan menyebarkan pesan damai Islam kepada orang-orang dari agama lain yang mereka temui di masing-masing negara yang dilewati.

Hakam mengatakan, dia dan istrinya memilih sepeda untuk perjalanan ke Mekah karena melambangkan harmoni dalam kehidupan pernikahan. Yakni, untuk mendorong roda kehidupan ke depan, pria dan istri harus membuat banyak kompromi dan penyesuaian.

”Sepeda mengajarkan orang bagaimana dengan lancar menavigasi melalui pasang surut dalam kehidupan. Untuk naik ke atas mereka perlu bekerja lebih keras dan saat turun mereka harus menjaga segala sesuatu terkendali. Filosofi ini juga bisa diterapkan untuk menghadapi tantangan hidup,” katanya, yang dikutip Saudi Gazette, Jumat (16/2/2018).

Dengan memilih duduk di depan dan menyediakan kursi belakang untuk istrinya, Hakam mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengisi peran seorang imam, seperti yang diajarkan oleh Islam.

Hakam yang merupakan lulusan ilmu pertanian, telah menikahi seorang psikolog. Tidak banyak waktu Hakam untuk meyakinkan istrinya tentang perjalanan unik itu karena dia sudah mengenalnya sebagai petualang yang banyak bepergian ke dalam dan luar Indonesia.

Namun, kali ini dia menawarkan kesempatan kepada sang istri untuk bergabung dengannya. Perjalanan ke Mekah telah membawa keluarga Hakam lebih dari sekadar berpetualang dan mencari kesenangan. Berita besarnya adalah pasangan yang telah menikah selama empat tahun ini segera memiliki bayi pertama mereka dalam beberapa bulan ke depan.

Terinspirasi dan senang dengan perjalanan petualangan mereka, pasangan tersebut ingin menamai bayi mereka Mukafeh, yang berarti “seorang striver (orang yang berjuang)”.

Sebelum memulai perjalanan, Hakam melakukan “pekerjaan rumah” sebagai persiapan untuk menyesuaikan diri terhadap budaya masyarakat di negara-negara tempat mereka melakukan perjalanan. Dia juga dilatih untuk membantu menjaga perjalanan di jalur yang benar dengan menggunakan teknologi GPS dan Google Maps.

Selain belajar keterampilan memperbaiki sepeda, memasak dan menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda, Hakam percaya bahwa petualangan adalah perjalanan spiritual yang mengajarkan orang bagaimana untuk bersabar, mempercayakan segalanya kepada Allah, dan membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan.

Perjalanan Hakam, yang dimulai di Indonesia, membawanya melewati Malaysia, Thailand, Myanmar dan India. Untuk menghindari negara-negara yang dilanda konflik dalam rute tersebut, dia dan istrinya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Yordania dari India dan kemudian ke Mesir hingga akhirnya sampai di Arab Saudi.

Di banyak negara, mereka mendapatkan visa yang dikeluarkan secara online dan rata-rata waktu tunggunya adalah satu bulan. Sepanjang perjalanan mereka, pasangan tersebut menggunakan perlengkapan tenda untuk beristirahat, memasak makanan sendiri dan minum air minum dengan menggunakan saringan. Setiap saat sebelum pindah dari tempat pemberhentian, mereka kerap memeriksa sepedanya, mengganti ban dan rantai jika perlu dengan bantuan penduduk sekitar.

Hakam mengaku tidak memiliki masalah dengan makan makanan dari budaya yang berbeda. Sang istri juga berjuang untuk beradaptasi di beberapa tempat, meski sempat kehilangan berat bada 5 kilogram.

“Makanan Thailand dan shawarma Arab adalah favoritnya,” ujar sang istri.

Berbicara tentang berbagai orang yang mereka jumpai selama perjalanan, Hakam mengatakan bahwa mereka menemukan orang-orang Mesir di Sinai yang sangat hangat dan ramah.

Meskipun ada ketidaknyamanan di awal bertemu dengan orang-orang Sinai, namun pengunjung segera terkejut dengan sifat rendah hati dan ramah yang membuat semua orang betah.

ketika ditanya bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang-orang yang berbicara bahasa yang berbeda, Hakam berkata; ”Kami mengandalkan pembicaraan dari hati ke hati dan bahasa isyarat.”

Pasangan tersebut menghabiskan sebagian besar bulan Ramadan di komunitas Muslim di wilayah selatan Thailand dan kemudian merayakan Idul Fitri di India. Mereka kemudian pergi ke Amman, di mana mereka merayakan Idul Adha.

Di Mesir, mereka mengadakan pertemuan pertama dengan masyarakat campuran berbagai budaya Arab sebelum mereka tiba di Madinah.

Pasangan ini berencana untuk pulang ke rumah dengan pesawat setelah melakukan umrah. Mereka akan membuat negara mereka bangga sebagai pasangan Indonesia pertama yang melakukan perjalanan ke Mekah dengan satu sepeda.

Dan jika semuanya berjalan dengan lancar, mereka akan mengayuh sepeda lagi dalam beberapa tahun ke depan untuk perjalanan yang sama. Hanya saja, perjalanan ke depan yakni untuk ibadah haji yang wajib bagi Muslim.

Untuk saat ini, Hakam merencanakan petualangan selanjutnya ke Selandia Baru dan Australia setelah beristirahat sebentar di Indonesia.

Sumber: Saudi Gazette

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.