
(Catatan Sederhana Ngaji Qalbu bersama Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, Kitab Maraaqi Al ‘Ubudiyyah karya Syeikh Nawawi al-Bantani; Selasa, 13 Januari 2026)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif
PAGI belum sepenuhnya bangun ketika pendopo Pesantren Pasulukan Al Masykuriyah mulai bernafas pelan. Udara Condet masih menyimpan sisa dingin malam, embun menempel di ujung daun, dan cahaya matahari datang dengan langkah malu-malu, menyelinap dari sela pepohonan yang mengelilingi pesantren.
Di tengah pendopo, Sang Guru duduk bersila. Tubuhnya tenang, punggung tegak tanpa dibuat-buat. Sorban putih terlipat rapi, wajahnya menyimpan keteduhan yang hanya lahir dari usia panjang bersama wirid dan laku. Di hadapannya, para santri dan jamaah duduk melingkar, sebagian menunduk, sebagian memejamkan mata, seakan takut kehilangan satu suku kata yang akan jatuh dari lisan beliau.
Di sudut pendopo, sebuah layar menyala. Wajah-wajah dari berbagai kota hadir dalam bingkai kecil, para murid yang mengikuti dari kejauhan, melalui Zoom. Meski terpisah jarak, kesunyian mereka sama. Tidak ada yang tergesa. Tidak ada yang menyela. Semua menunggu.
Sang Guru membuka pengajian dengan suara rendah, nyaris seperti doa yang sedang berpikir.
“Ketahuilah, wahai jiwa-jiwa yang sedang berjalan pulang kepada Tuhan-nya, bahwa Hari Jumat bukan sekadar penanda waktu, melainkan perayaan ruhani yang diturunkan Allah setiap pekan bagi orang-orang beriman. Ia adalah lebarannya kaum mukmin, hari ketika langit lebih dekat ke bumi, dan doa-doa lebih cepat sampai ke hadirat-Nya.”
Kalimat itu tidak dibacakan, melainkan dihadirkan. Seakan Jumat bukan konsep, tetapi tamu agung yang sedang berjalan pelan menuju rumah-rumah hati.
Beliau melanjutkan, bahwa Jumat adalah sayyidul ayyam, pemimpin seluruh hari. Bukan karena panjangnya, melainkan karena beratnya rahmat yang diturunkan Allah pada hari itu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat.” (HR. Muslim)
Angin pagi berembus pelan. Seorang santri merapatkan sarungnya. Di layar Zoom, seseorang menunduk lebih dalam. Sang Guru meneruskan dengan nada yang lebih lirih:
“Karena itu para ulama menyebutnya sayyidul ayyam, pemimpin seluruh hari. Bahkan, dalam keutamaannya, Jumat disebut lebih agung daripada Idul Fitri dan Idul Adha, karena shalat di kedua hari raya itu Sunnah, sementara shalat Jum’at adalah wajib. Bahkan keutamaannya melebihi Yaumul ‘Arafah. Dan ibadah haji dimana wukuf di arafahnya bertepatan dengan hari Jum’at, maka haji itu dikenal sebagai Haji Akbar. Sebab di hari Jumat, umat Rasulullah ﷺ dimuliakan dengan karunia yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya.”
Beberapa wajah terangkat. Tidak heran, tapi tertegun. Karena bagi orang-orang yang berjalan di jalan batin, kemuliaan tidak diukur oleh keramaian, melainkan oleh kedekatan.
Beliau mengingatkan bahwa pada setiap Jumat, Allah membebaskan ribuan hamba dari siksa neraka. Maka siapa pun yang hadir di Jumat dengan lalai, sesungguhnya sedang menyia-nyiakan pintu yang terbuka lebar.
Kemudian Sang Guru berhenti sejenak. Hening. Seperti memberi ruang agar kalimat itu menemukan tempatnya masing-masing di dada para murid. Kemudian Sang Guru melanjutkan dengan suara yang sangat lembut:
“Wahai, para muridku…!! Ketahuilah, bahwa Allah SWT menjadikan Jumat sebagai hari limpahan ampunan. Disebutkan dalam banyak atsar, bahwa pada setiap hari Jumat Allah membebaskan ribuan hamba dari siksa neraka. Maka betapa ruginya seseorang yang menjumpai Jumat, namun tidak tersentuh oleh rahmatnya. Lebih dari itu, siapa saja yang diwafatkan pada hari atau malam Jumat, diberi anugerah istimewa.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْر
“Tidaklah seorang muslim wafat pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah melindunginya dari fitnah kubur.” (HR. Tirmidzi)
“Ia digolongkan sebagai syahid secara keutamaan, bukan karena pedang, tetapi karena kemuliaan waktu,” Lanjut Sang Guru.
Di pendopo itu, kematian tidak terdengar menakutkan. Ia terdengar seperti kepulangan yang dijemput lembut.
DETIK YANG DISEMBUNYIKAN: SAAT MUSTAJABAH
Sang Guru lalu menjelaskan tentang waktu mustajabah di hari Jumat. Suaranya pelan, tapi menggetarkan setiap yang mendengarnya:
“Ketahuilah, bahwa pada hari Jumat, Allah menyembunyikan satu waktu yang sangat singkat, namun nilainya melebihi umur panjang tanpa doa. Itulah waktu mustajabah, saat doa tidak tertolak.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Di hari Jumat terdapat satu waktu, tidaklah seorang hamba muslim memohon kepada Allah pada waktu itu, melainkan Allah akan mengabulkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama berbeda pendapat tentang kapan waktunya. Sebagian mengatakan di akhir hari setelah Ashar, karena pada waktu itulah Nabi Adam عليه السلام diciptakan. Maka para guru ruhani mengingatkan: jaga lisan di waktu itu, hindari sumpah serapah, sebab boleh jadi satu kata melayang ke langit dalam keadaan pintu-pintu rahmat sedang terbuka.
Pendapat lain menyebutkan, waktu itu berada di antara imam duduk di mimbar hingga salam shalat Jumat. Singkat. Tidak panjang. Maka jangan menyia-nyiakannya dengan kelalaian. Berdoalah dengan sadar, dengan hati yang hadir. Jumat bukan tempat bercakap, tetapi tempat memohon dengan benar.
ADAB MENYAMBUT JUM’AT: MENYUCIKAN LAHIR, MENGHADIRKAN BATIN
Pengajian itu lalu bergeser pelan, seperti perahu yang meninggalkan tepi danau menuju air yang lebih dalam. Sang Guru tidak segera berbicara. Beliau menunduk sejenak, jari-jarinya bertaut di atas lutut, seakan sedang menimbang kata agar tidak jatuh sembarangan.
Lalu suaranya terdengar rendah, tenang, dan pasti.
“Jumat itu tidak disambut pada hari Jumat.”
Para murid terdiam. Di pendopo, suara burung pagi seakan ikut menahan napas. Di layar Zoom, beberapa wajah mendekat ke kamera, seolah takut kehilangan kelanjutannya.
“Ia disambut sejak Kamis sore.”
Kalimat itu jatuh perlahan, seperti senja yang mulai merapikan cahaya. Sang Guru melanjutkan, bahwa siapa pun yang datang ke Jumat tanpa persiapan, sejatinya datang terlambat, meski ia duduk di saf paling depan.
Kamis sore, kata beliau, adalah pintu awal Jumat.
Saat matahari condong ke barat, seorang mukmin yang peka sudah mulai menggeser orientasi hatinya. Ia memilih pakaian terbaik, bukan untuk dipamerkan, tetapi sebagai adab bertamu kepada Allah. Ia membersihkan tubuhnya, bukan karena kotor, tetapi karena ingin hadir dalam keadaan layak di hadapan Yang Maha Suci.
Namun Sang Guru menegaskan, yang paling awal disiapkan bukan kain, bukan air, melainkan niat.
“Kalau niat belum ditata,” ujar beliau pelan,
“Pakaian sebersih apa pun hanya akan menjadi penutup tubuh, bukan penutup lalai.”
Beliau mengingatkan, bahwa pada malam Kamis dan hari Jumat, ada karunia yang tidak diberikan kecuali diminta. Karena itu, Kamis sore bukan waktu menumpuk beban dunia, melainkan saat melepaskan satu demi satu, agar Jumat datang dan menemukan ruang.
Tentang puasa, Sang Guru mengingatkan dengan nada penuh kehati-hatian, seolah sedang menuntun langkah agar tidak terpeleset di jalan ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَخْتَصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ
“Janganlah kalian mengkhususkan hari Jumat dengan puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kecuali jika didahului Kamis atau disambung Sabtu, agar Jumat tetap berdiri sebagai hari raya, bukan hari menyepi.
Karena Jumat adalah hari raya, bukan hari menyepi. Ia bukan ruang untuk menarik diri, tetapi ruang untuk hadir sepenuhnya, bersama jamaah, bersama dzikir, bersama rahmat yang turun berlapis-lapis.
Sang Guru lalu mengangkat pandangan. Matanya menyapu pendopo, juga layar di kejauhan. Suaranya mengeras sedikit, bukan karena marah, tetapi karena ingin kalimatnya menetap.
“Siapa yang menyambut Jumat dengan asal-asalan, akan pulang dengan asal-asalan pula.” Kata-kata itu tidak menghakimi. Ia mengajak bercermin.
Maka Kamis sore, dalam pandangan para arif, bukan sekadar jeda sebelum Jumat, melainkan latihan pulang. Pulang dari sibuk yang berlebihan. Pulang dari niat yang tercerai. Pulang menuju satu hari yang oleh Rasulullah ﷺ disebut hari terbaik di bawah matahari.
Dan Jumat pun datang, bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai tamu agung yang telah lama disiapkan tempatnya. Para arifin tidak menyambut Jumat dengan tergesa-gesa. Persiapannya dimulai sejak Kamis sore, karena malam Jumat bukan sekadar pergantian hari, melainkan pintu awal turunnya karunia.
Disebutkan oleh para ulama: “Ada anugerah yang tidak diberikan kepada seorang hamba, kecuali ia memintanya pada malam Jumat dan hari Jumat.”
Maka disunnahkan menyiapkan pakaian terbaik, membersihkan diri, dan mengenakan wewangian, bukan untuk manusia, tetapi sebagai adab di hadapan Allah.
MANDI JUM’AT: AIR YANG MENYAPU LALAI
Ketika pembahasan sampai pada mandi Jumat, suasana pendopo berubah semakin hening. Seolah para murid tidak lagi sekadar mendengar, tetapi mulai membayangkan air yang mengalir di tubuh mereka sendiri, dingin, jujur, dan tak bisa berdusta.
Sang Guru menarik napas perlahan. Lalu berkata, bukan dengan nada perintah, melainkan ajakan pulang ke kesadaran.
“Allah tidak meminta tubuh yang sempurna, tetapi tubuh yang tahu kapan harus disucikan.”
Air, kata beliau, adalah bahasa paling awal dalam penciptaan. Dari air segala yang hidup dijadikan. Maka ketika seorang mukmin menyiramkan air di hari Jumat, sesungguhnya ia sedang mengulang pelajaran pertama tentang hidup, bahwa kotor bukan untuk disimpan, dan lalai bukan untuk dipelihara.
Mandi Jumat bukan sekadar membasuh debu perjalanan pekan. Ia adalah isyarat kesiapan. Isyarat bahwa seseorang hendak melangkah ke rumah Allah tanpa membawa beban yang bisa ditanggalkan lebih dulu.
Barulah setelah itu, Sang Guru menyebutkan nama para ulama, bukan sebagai otoritas yang mengikat, tetapi sebagai lentera yang menerangi jalan adab.
“Imam al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Syeikh Nawawi al-Bantani dalam Maraaqi Al ‘Ubudiyyah, menyebutkan bahwa mandi Jumat sebaiknya dilakukan sejak pagi setelah Subuh. Namun jika belum menuju masjid, maka mandi didekatkan dengan waktu berangkat, agar kesegaran lahir menyertai kekhusyukan batin”, jelas beliau dengan penuh khidmat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
“Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebagian ulama memahaminya sebagai wajib adab, sebagian lain sebagai sunnah muakkadah yang mendekati wajib. Adapun berwudhu saja sudah mencukupi kewajiban shalat, namun mandi adalah keutamaan yang menyempurnakan cahaya Jumat. Air mandi Jumat bukan sekadar membersihkan tubuh, tetapi menyapu sisa lalai yang menempel sepanjang pekan, meluruhkan sisa dunia yang melekat di hati.
PENUTUP: JUM’AT SEBAGAI JANJI PULANG
Jumat bukan hanya hari shalat berjamaah. Ia adalah janji pulang mingguan bagi ruh yang letih berjalan di dunia. Siapa yang menyambutnya dengan adab, akan dijemput dengan rahmat. Siapa yang memuliakannya, akan dimuliakan.
Maka ketika azan Jumat berkumandang, dengarlah dengan hati, sebagaimana perintah Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kalian menuju dzikir kepada Allah dan tinggalkan jual beli.” (QS. Al-Jumu‘ah: 9)
Karena sesungguhnya, yang kita datangi bukan masjid semata, melainkan Tuhan yang sedang menunggu hamba-Nya pulang dengan hati yang utuh.
Ketika pengajian itu benar-benar usai, matahari telah naik sepenggalah, cahayanya jatuh miring ke lantai pendopo, membentuk bayang-bayang tiang yang memanjang seperti garis waktu yang baru saja dilalui bersama. Udara pagi tak lagi dingin, namun masih cukup lembut untuk menyimpan sisa-sisa hening.
Pendopo tetap sunyi.
Sunyi yang tidak kosong.
Sunyi yang penuh isi.
Tidak ada tepuk tangan yang pecah terburu-buru. Tidak ada suara kursi digeser, tidak pula obrolan yang saling menyela. Para murid duduk sejenak lebih lama, seolah takut berdiri akan menggugurkan sesuatu yang baru saja menetap di dalam dada.
Sebagian menunduk. Sebagian memejamkan mata. Bukan karena lelah, tetapi karena sedang mengemas pulang. Yang dibawa bukan catatan, bukan kutipan, melainkan rasa, rasa Jumat yang sudah lebih dulu hadir, meski hari itu sendiri belum tiba. Jumat yang tidak lagi berada di kalender, tetapi di dalam langkah dan niat.
Di sudut pendopo, layar Zoom masih menyala. Wajah-wajah di dalamnya perlahan memudar, satu per satu menghilang dari bingkai cahaya. Namun anehnya, ketika gambar itu padam, kehadiran mereka justru terasa lebih dekat, tinggal lebih lama, berdiam lebih dalam, di ruang yang tak bisa dijangkau kamera.
Akhirnya pendopo pun benar-benar lengang. Namun bukan kosong, sebab Jumat telah dititipkan, di hati-hati yang pulang dengan langkah lebih pelan, napas lebih sadar, dan niat yang kini tahu ke mana harus kembali.(*)
#NgajiQalbu
#PonpesAlMasykuriyah
#AliMasykurMusa






































