PASURUAN | duta.co – Para habaib, kiai, dan masyayikh menggelar istighotsah dan pernyataan politik mendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Calon Presiden dan Wakil Presiden pada Pilpres 2019. Istighotsah dan pernyataan politik mendukung Prabowo-Sandi dilakukan di halaman dalem KH Abdulloh Siroj (anggota Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri), di Desa Ngempit, Kec. Kraton, Kab. Pasuruan, Sabtu 12 Januari 2019 hari ini.
Para ulama itu memilih mendukung Prabowo-Sandi setelah mempelajari dengan seksama, antara maslahah dan madlaratnya, selama 4 tahun pemerintahan Jokowi-JK yang tidak memiliki nilai positif terhadap masa depan agama Islam dan rakyat Indonesia secara umum. Karena itu para habib, kiai dan masyayikh Jawa Timur memutuskan, cukup bagi Jokowi hanya satu periode saja. Sekarang giliran Prabowo-Sandi untuk memimpin Indonesia. Itulah yang menjadi alasan utama mereka menggelar Istighotsah untuk Keselamatan Bangsa sekaligus Deklarasi Dukungan Prabowo Sandi.
“Pertama dan terutama, adalah demi masa depan umat Islam Indonesia. Para habib, kiai dan masyayikh merasakan betapa karut marut, tercerai berai umat Islam sekarang ini. Mereka ingin ke depan lebih baik. Pasangan Prabowo-Sandi dinilai paling memiliki kepedulian terhadap umat Islam,” kata Habib Hasan bin Salim Assegaf, sekretaris panitia kepada duta.co.
Ketika disebut nama KH Ma’ruf Amin, Habib Hasan tidak mengelak. Kepada Kiai Ma’ruf harus hormat, takdzim. Tetapi, semua paham peran wakil dalam perpolitikan di negeri ini amat kecil.
“Kami sangat hormat, takdzim kepada Kiai Ma’ruf. Tetapi semua tahu, posisi wakil itu seperti ban serep. Pak JK yang dikenal jauh lebih senior, punya pengalaman lebih, nyatanya juga tidak bisa berbuat banyak,” jelasnya.
Negeri ini, tambah Habib Hasan, butuh pemimpin tegas, bukan petugas partai. Di samping itu, membutuhkan sosok yang pengalaman, terutama dalam menggerakkan roda ekonomi rakyat. Keberanian Prabowo memilih Cawapres Sandi, dinilai sangat tepat.
“Semua tahu, Pak Prabowo itu orangnya tegas. Dan dia tahu persis apa yang dibutuhkan bangsa sekarang ini. Pilihan Cawapres yang jatuh pada sosok Sandi, adalah tepat. Dia memiliki pengalaman pajang menata ekonomi umat,” tambahnya.
Istighotsah dan pernyataan politik yang dilakukan di halaman dalem KH Abdulloh Siroj (anggota Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri), di Desa Ngempit, Kec Kraton, Kab. Pasuruan, berangkat dari takaran masalah dan mafsadatnya.
Sebagaimana kaidah fiqih yang popular di kalangan ahlusunnah waljamah bahwa tasharraful ‘ala rai’yatihi lil maslahatil ‘ammah (kebijakan seorang pemimpin harus dapat mencerminkan kemaslahatan seluruh rakyat red.). Pertama, kata salah seorang kiai, terhadap khifdzul din menjaga agama. Empat tahun terakhir ini, kondisinya sangat memprihatinkan.
Kedua, pemerintah mestinya juga mampu menjaga kekayaan (khifdzul al-mal). Yang terjadi sekarang, kekayaan di negeri ini terbang ke luar negeri. Terlebih soal utang, semakin hari utang Indonesia semakin menumpuk. “Ini beda jauh dengan zaman Gus Dur. Nah, kalau sampai kepemimpinan ini diteruskan, Anda bisa bayangkan bertapa hancur lebur masa depan kita,” tegasnya.
“Lebih parah lagi, kebijakan impor pangan gila-gilaan. Ini membuat para petani kehilangan pendapatan, selain itu impor baja dan berbagai barang komiditi serta membanjirnya tenaga kerja asing, membuat kita semakin miris,” urainya.
Untuk itu, tambahnya, para habaib, kiai dan masyayikh dengan merujuk hasil istikharah KH Toifur (Madura) yang mengarahkan dukungan pada Prabowo-Sandi, maka, mulai hari ini secara blak-blakan dukungan ini harus sampai kepada umat.
“Insya-Allah setelah ini nahdliyin khususnya, umat Islam umumnya akan bergerak massif memenangkan Prabowo-Sandi,” tegasnya.
Paradoks Indonesia
Sebelumnya Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno, sudah sowan ke sejumlah kiai, habaib, dan masyayikh di sejumlah daerah di di Jawa Timur. Pasangan capres Prabowo Subianto itu berkunjung ke Ponpes Sidogiri Pasuruan, Sabtu (6/10/2018).
Di pesantren ini, Cawapres yang berdampingan dengan Prabowo Subianto ini disambut oleh KH Abdullah Siraj dan KH Fuad Nur Hasan, Anggota Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri.
Sandi tiba di lokasi dengan menggunakan sarung hijau, khas warna kebesaran Sidogiri. Berpeci hitam, ia lantas berjalan menyusur pesantren bersama KH Abdullah Syaukat.
Sontak, kedatangan Sandi disambut ribuan santri di pesantren disebut yang mayoritas dari santri juga bersarung hijau. Sebagian dari mereka ada yang bersalaman, ada pula yang swafoto, bersama Sandi. Para santri senang dengan sikap ramah dan senyuman Sandi.
Di dalam kunjungannya, Sandi sempat membagikan beberapa buku Paradoks Indonesia, sebuah buku yang ditulis oleh Prabowo. Di hadapan keluarga pesantren, Sandi menjelaskan isi buku tersebut.
Menurutnya, saat ini hampir semua sektor mengalami pelemahan. Di antaranya, sektor industri. “Banyak program yang memanjakan kalangan-kalangan tertentu. Contohnya, banyak program impor, namun ekspornya tidak dipikirkan,” kata Sandi.
Menurutnya, hal ini berbanding terbalik dengan potensi yang dimiliki Indonesia. “Padahal Indonesia merupakan daerah subur, gemah ripah loh jinawi. Sebuah negara maritim yang besar,” kata Sandi.
Ia mencontohkan beberapa produk impor yang sebenarnya bisa diproduksi di Indonesia. “Kita punya banyak ikan, beras, hingga garam. Pada intinya, sebenarnya realisasi dan solusi itu banyak yang bertolak belakang. Inilah yang dinamakan Paradoks Indonesia,” imbuhnya.
Menjawab masalah itu, Sandi membawa isu perbaikan ekonomi. “Bagaimana nantinya kita akan membuat dan meningkatkan sumber-sumber produksi nasional,” kata Sandi.
Oleh karenanya, ia bersama Prabowo akan bersama-sama untuk mengutamakan pembangunan ekonomi kalangan menengah ke bawah.
“Tanpa bermaksud merendahkan pemerintahan sebelumnya, kami berkomitmen untuk fokus menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan,” lanjut Sandi.
Salah satu caranya, menurut Sandi adalah fokus memperdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). “Kami ingin memberikan solusi terhadap padadoks ini. Di antaranya, pemerintah harus hadir untuk mengawal kalangan ekonomi kelas bawah,” katanya.
(mky)