JOMBANG | duta.co  – Rangkaian acara Haul ke-9 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)  di Ponpes Tebuireng Jombang Jawa Timur semakin istimewa dengan peresmian Museum Islam  Indonesia KH Hasyim Asy’ari Selasa 18 Desember 2018 hari ini. Museum yang mulai dibangun pada tahun 2014 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) atas usulan dari KH Salahudin Wahid ini soft launching-nya  dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.
Islam masuk ke Indonesia sebagai bagian dari semakin menyatunya dunia. Jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Barat (Eropa) agama Islam telah masuk dan menyebar ke seluruh penjuru Asia. Para pedagang Islam sejak abad ke-7 Masehi telah mulai aktif dalam kegiatan perdagangan yang menghubungkan antara Samudera Hindia, Laut Jawa, dan Laut Cina Selatan.
Peta penyebaran Islam yang dimulai di pesisir Samudera Pasai pada tahun 1290 Masehi, kemudian menyebar ke Brunei dan Banjarmasin. Pada tahun 1410 M Islamisasi juga mulai menyebar ke daerah Gresik, lalu Demak tahun 1480 M, Banten pada tahun 1525 M, Cirebon tahun 1525 Masehi, hingga ke Makassar, Ternate dan Buton.
Perjalanan panjang dari proses Islamisasi serta berbagai naskah atau benda terkait Islamisasi inilah yang menjadi salah satu tema utama yang diangkat di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari yang berada di Kawasan Pendidikan Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.  Koordinator tim penyusun storyline Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari, Bondan Kanumoyoso, menjelaskan museum ini didesain untuk secara spesifik menjelaskan perjalanan panjang proses Islamisasi di seluruh Indonesia. Diharapkan, proses Islamisasi dan perjuangan para ulama di masa lalu menjadi edukasi bagi masyarakat.
“Intinya kami coba rangkum, perjalanan panjang islamisasi ini. Meskipun tidak bisa secara rinci, karena memang perjalanan sejarah dan islamisasi itu bersamaan di beberapa tempat. Tapi secara storyline kami berusaha hadirkan di museum ini,” kata Bondan saat diwawancarai, Selasa (18/12/2018).
Bondan menjelaskan, secara garis besar museum ini terbagi menjadi tiga lantai dengan tema berbeda. Lantai pertama bertema Jaringan Islam Nusantara, untuk lantai kedua bertema Interaksi Islam dengan Bangsa Lain, dan lantai ketiga bertemakan Islam Kontemporer.
“Tapi yang sekarang baru diluncurkan, karena ya ini baru soft opening, jadi baru lantai satu yang sudah siap,” jelas Bondan.
Beberapa koleksi yang dihadirkan pada soft opening Museum saat ini merupakan bentuk kerja sama dengan beberapa museum seperti Museum Nasional, Perpustakaan Nasional, Museum Sono Budoyo, BPCB Trowulan, Museum Bait Quran, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Museum, Museum Tekstil, dan Museum Balaputradewa.
Staf Seksi Alquran dan Pameran Bait Quran Ida Fitriyani menjelaskan ada beberapa koleksi dari Museum Bait Quran yang dihadirkan di Museum Islam Indonesia. Seperti Mushaf Alquran dari Aceh dan Kerinci, serta beberapa Naskah Fiqih.
Semua koleksi itu, kata Ida, merupakan tulisan tangan karena mushaf dan naskah itu diperkirakan dibuat pada abad ke-18. Dia pun berharap, dengan dihadirkannya mushaf Alquran dan naskah fikih ini dapat mengedukasi masyarakat terkait perjuangan ulama terdahulu dalam menyebarkan agama Islam ke Tanah Air.
“Para ulama kita di Nusantara sangat perduli terkait penulisan alquran, dengan tulis tangan dan proses yang panjang. Semangat inilah yang harus kita sebarkan kepada masyarakat, “ tegas dia. (Rpk)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.