
“Bulan puasa sejatinya bukan bulan penderitaan tetapi bulan kemakmuran. Justru dengan banyaknya donasi makanan maupun uang serta minuman yang kian membesar setiap harinya, menjadi penanda bahwa inilah bulan kesejahteraan itu.”
Oleh Suparto Wijoyo*
TENTU perkembangan perang di Timur Tengah terus menyertai pemberitaan. Publik tidak ingin melewatkan perkembangan yang sangat cepat. Apalagi dibarengi dengan kurs rupiah yang anjlok di mata dolar USA. Saya tetap menempuh rutinitas agenda rumah sampai kampus dengan beragam acara Ramadhan yang padat. Saya tertegun. Dalam perjalanan pulang dari Universitas Airlangga menuju kawasan Surabaya barat, saya menyaksikan penuh kagum di pekan-pekan Ramadan 1447 H ini. Sebuah gambaran realistis tentang makmurnya bulan Ramadan. Bagaimana tidak? Di tataran pemerintahan kita menyimak dalam-dalam mengenai efisiensi anggaran.
Di lingkup global yang mendidih geopolitiknya dan dalam diri BUMN-BUMD terjadi peristiwa yang menyentakkan dalam tata kelola korporasi yang baik, yang jauh dari nilai-nilai dasar good corporate governance. Korupsi menghentak kesadaran publik dengan langkah penegakan hukum oleh KPK maupun Kejaksaan Agung RI. Skema bahan bakar minyak oplosan menjadi ajang diskusi kelas rumahan sampai gedongan. Areal cangkruakan seakan bergeser dari diskusi mengenai pemagaran laut menuju bincangan soal korupsi di Pertamina terus menggema, di samping kepala daerah Pekalongan yang terkena OTT KPK. Pemberitaan menampilkan buruknya wajah bernegara yang selama ini sangat dominan dalam penyediaan BBM yang dikhawatirkan terkerek naik di seluruh Nusantara.
Menggelisahkan, tentu. Tetapi nuansa Ramadan ini membuat beda. Ramadan ini menyuguhkan makna spiritual yang anggun, tetapi tidak norak. Mengenai kegelisahan laku korupsi serta tata keuangan negara yang harus “kencangkan ikat pinggang”, ternyata tidak membuat geliat umat mandeg. Masyarakat telah menemukan jalannya sendiri agar tetap bertahan menyemaikan hidupnya. Rakyat tahu persis dalam pemenuhan kebutuhannya. Jamaah masjid dan musallah telah bergerak cepat. Mereka memiliki kesadaran bahwa Ramadan ini adalah bulan untuk mendermakan segala milik setelah terhelatnya kebutuhan dirinya. Kaum filantropi muncul di gang-gang sempit serta lorong-lorong tengah kota. Spanduk besar-besar digeber untuk woro-woro bahwa mereka menyediakan takjil gratis bagi siapa saja yang melintasinya. Serumpunan jamaah pengajian, penyedia iftar itu tidak tanya apakah yang turut antri mengambil makanan takjil itu berpuasa apa tidak? Urusan puasa diyakininya sebagai urusan yang sangat privat dengan Tuhan.
Anak-anak muda mudi itu terpotret aktif menjadi roda pergerakan umat. Mereka berbagi. Inilah insan-insan filantropis yang menemukan jalan pengabdiannya. Para donator atau para penyedia bungkusan makanan yang diterima dari warga perumahan atau anggota komunitasnya, jelas ikhlas tanpa perlu banyak bertanya. Lihat juga tumpukan makanan setiap sore di masjid-masjid yang ada di setiap kampung. Tidak ada yang kekurangan bahan makanan untuk jamaahnya. Setiap hari selalu saja bertambah orang yang datang mengantarkan jajanan buat iftar. Sungguh ini adalah bulan yang Allah swt memiliki caranya sendiri untuk meramaikannya.
Bulan puasa sejatinya bukan bulan penderitaan tetapi bulan kemakmuran. Justru dengan banyaknya donasi makanan maupun uang serta minuman yang kian membesar setiap harinya, menjadi penanda bahwa inilah bulan kesejahteraan itu. Mereka yang berpuasa saya yakini tidak ada yang kuatir tidak bisa takjil. Asal mau datang ke tempat ibadah, di masjid, di langgar, di musallah atau surau-surau kecil di kampung, insyaAllah selalu tersedia makanan berbuka. Dengan Ramadan ini berarti perekonomian berjalan. Silaturahmi semakin terbangun melalui undangan buka puasa bersama kolega, kerabat, sanak-saudara, termasuk tetangga dan handai taulan. Dengan ramainya ajakan buka bersama dan takjil yang diorganisir berarti ada gerakan perekonomian umat. Ini semua tentu ada anyaman pendapatan serta pemerataan kemakmuran yang sedang bergerak cepat melalui skema puasa Ramadan. Produk-produk UMKM dan toko-toko atau lapak-lapak di setiap gang kampung halaman kota acapkali ramai orang membuka “tikar” jualannya. Terdapat matarantai produksi menuju distribusi. Tetangga di gang-gang kampung yang sempit, yang selama ini tidak pernah berjualan, kini dengan datangnya Ramadan mencoba berjualan minuman dan gorengan. Alhamdulillah laku sesuai dengan espektasinya. Harganya murah bukan karena mencari untung tetapi diniatkan juga membantu sesama anak negeri agar tidak jedah waktu membatalkan puasanya menungggu lama, selama dalamperjalanan pulang.
Inovasi dan kreasi diri dari setiap keluarga kecil perkotaan kini bermuatan ekonomi. Nilai-nilai produksi diubah menjadi distribusi, sehingga ada gairah ekonomi rakyat. Ramadan menjadi forum tumbuhkembangnya perekonomian rakyat. Tidak pakai program pemerintah dan anggaran negara. Tuhan hadir dengan ajaran Ramadan telah menunjukkan adanya instrumen pergerakan ekonomi umat, di tengah-tengah anggaran negara yang dipangkasi di sana sini. Inilah konstruksi kesadaran mendistribusi harta benda atau milik pribadi untuk dapat dinikmati orang lain. Ini bagi saya adalah pengamalan ujaran Rasulullah Saw: “Barangsiapa diantara kamu tidak sanggup menjaga diri dari api neraka, maka bersedekahlah walaupun hanya dengan sebiji kurma, dan barangsiapa yang tidak sanggup maka bersedekahlah dengan perkataan yang baik.’’
Hadits Riwayat Ahmad dan Muslim tersebut tentu dapat dimaknai untuk dapat berbagi minuman buat iftar, meski hanya sesendok teh hangat. Berhadiah-berhadiahan alias saling tukar hadiah sesama kit,a juga bagus adanya. Terdapat riwayat lagi bahwa: “Dari Aisyah ra: Nabi Muhammad Saw pernah menerima hadiah dan beliau balas hadiah itu’’ Inilah Hadist yang diriwayatnkan oleh Bukhari dan Abu Dawud. Demikian pula Hadist yang diriwayatkan oleh Dasri Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda: “Saling memberi hadiahlah, pasti kalian akan saling mencintai’’. Saat berdistribusi dari rangkaian produksi selama sebelas bulan lamanya, selama ini. Inilah hari-hari berdistribusi. Barokallah.
*Suparto Wijoyo adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur




































