Memperingati Hari Gizi Nasional, mahasiswa Program Studi (Prodi) Gizi, Fakultas Kesehatan (FKes) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), mengajak orang tua, anak dan guru di KB/TK Khadijah Ahmad Yani untuk mengenal gizi seimbang. Karena masalah gizi adalah masalah bersama dan harus dipahami semua pihak.

Memahami gizi seimbang memag sangat penting. Namun, jika dilakukan dengan cara yang kurang komunikatif maka tidak akan mengenan ke sasaran. Apalagi sasarannya adalah siswa yang masih duduk di pra sekolah atau kelompok bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK).

Karenanya, sosialisasi dan kegiatan ini dilakukan dalam bentuk yang berbeda, santai dan sambil bermain. Melalui kegiatan ini diharapkan anak dan orang tua memahami tentang pentingnya gizi seimbang.

 “Makanan dan minuman dengan kandungan gizi dalam keadaan alami berperan penting bagi tumbuh kembang anak. Gizi seimbang dibutuhkan tubuh dan dapat diserap dengan baik oleh sistem pencernaan,” kata Nisa’ Hidayah, Ketua Himpunan Mahasiswa Gizi Unusa.

Melihat peran gizi seimbang inilah, mahasiswi semester VI dan kawan-kawannya mensosialisasikan gizi seimbangdengan menggelar kegiatan fun cooking dan mewarnai.

 “Kami mengambil momentum Hari Gizi Nasional ke-59 tahun 2019 ini.Mengambil sub tema ‘Keluarga Sadar Gizi, Indonesia Sehat dan Produktif’ dan Selogan ‘Gizi Seimbang, Prestasi Gemilang’, kami menginisiasi sosialisasi akan pentingnya gizi seimbang,” kata Nisa’.

Selain menggelar fun cooking dan mewarnai, para mahasiswa juga melakukan kegiatan pengukuran antropometri, yakni pengukuran berat dan tinggi badan anak, untuk mengetahui tumbuhkembang anak ideal.

Para mahasiswa berharap melalui pengenalan akan bahan makanan dan bagaimana cara memasak yang benar pada orang tua serta mewarnai jenis makanan sehat untuk anak-anak, kesadaran terhadap pentingnya gizi seimbang dapat tersampaikan dengan baik.

Ketua Program Studi Gizi Unusa, Rizki Nurmalya Kardina, S.Gz., M.Kes., yang mendampingi para mahasiswanya mengungkapkan, setiap orang tua pasti mendambakan buah hatinya tumbuh sehat dan cerdas hingga kelak ia dewasa. Untuk mencapai target tersebut, tentu para orang tua membutuhkan dan menerapkan strategi tepat. Salah satunya pemenuhan gizi seimbang sejak dini.

“Masa pertumbuhan anak membutuhkan berbagai jenis zat gizi yang terdiri dari makronutrein dan mikronutrien. Makronutrien mencakup karbohidrat, protein dan lemak. Sedangkan makronutrein mencakup berbagai vitamin dan mineral di berbagai jenis pangan. Berbagai jenis zat gizi ini perlu dicerna dan diserap sengan sempurna oleh saluran pencernaan,”kata dosen mata Mata Kuliah Kesehatan dan Gizi Anak.

Dijelaskannya, gizi seimbang juga bisa meningkatkan daya tahan tubuh si kecil. Sebab, gizi seimbang bisa dapat terserap dengan sempurna dan mudah dicerna oleh saluran pencernaan anak.

“Dulu kita mengenalnya dengan gerakan empat sehat lima sempurna, sekarang diubah menjadi gizi seimbang. Gizi seimbang karena mudah dicerna, proses penyerapan juga berlangsung dengan lebih baik sehingga seluruh zat gizi yang masuk diserap seluruhnya,” katanya.

Karena itu, katanya menambahkan, ada baiknya para orang tua mulai mencermati makanan dan minuman untuk si kecil dan pilihlah yang mengandung gizi dalam keadaan alami.

 “Untuk mengetahui status gizi dan kesehatan anak secara menyeluruh dapat dilihat mulai dari penampilan umum (berat badan dan tinggi badan), tanda-tanda fisik, motorik, fungsional, emosi dan kognisi anak. Berdasarkan pengukuran antropometri, maka anak yang sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi dikaitkan dengan kecukupan asupan makronutrien, kalsium, magnesium, fosfor, vitamin D, yodium dan seng,” katanya.

Selain itu, pesan Rizki Nurmalya, orang tua harus mengetahui fase pertumbuhan anaknya sedini mungkin. Karena, kondisi kesehatan yang dialami anak berpengaruh terhadap pertumbuhannya. Pada usia 0-6 tahun anak mengalami pertumbuhan cepat. Usia 6-2 tahun pertumbuhannya datar. Sementara pada usia 12-18 tahun anak mengalami pertumbuhan cepat.

Kepala KB?TK Khadijah Ahmad Yani, Suhartin mengamati siswinya yang sedang mewarnai gambar buah dan sayur. DUTA/endang

“Pada usia 0-6 tahun pertumbuhan otak anak mencapai 95 persen. Di atas usia 6 tahun, perkembangan otaknya hanya lima persen. Karena itu, usia 0-6 tahun merupakan fase penting bagi anak atau windows of opportunity. Pada masa ini nutrisi dan eksperimen orang tuadibutuhkan anak,” katanya menegaskan.

Kepala Sekolah KB/TK Khadijah Ahmad Yani Surabaya, Suhartin mengaku senang mahasiswa dan dosen Unusa datang ke sekolahnya dan memberikan edukasi kepada siswa dan orang tua.

Karena diakuinya masalah gizi ini adalah masalah bersama, tidak boleh satu atau dua pihak.

“Senang mahasiswa bisa hadir di sini. Karena kegiatan seperti ini penting dilakukan. Apalagi kegiatan ini menghadirkan pakar-pakar yang sangat ahli di bidang gizi. Sering-sering main ke sini (TK Khadijah Ahmad Yani,red),” tukasnya. end/rud

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry