JAKARTA | duta.co – Rakyat semakin menjerit dengan kenaikan tarif berbagai layanan. Khususnya transportasi. Kali ini harga tiket penerbangan naik sehingga tidak ada lagi penerbangan murah. Bahkan untuk penerbangan Banda Aceh – Jakarta dikabarkan tiketnya lebih murah bila naik pesawat jurusan Kuala Lumpur-Jakarta. Sungguh ironis.
“Saya pernah berangkat dari Aceh ke Bandung tapi saya pilih ke Malaysia dulu biar harganya lebih murah. Itu harga tiketnya pada 2018 bisa lebih murah sampai 70%,” kata seorang warga Meulaboh, Aceh, Dedi Iskandar saat berbincang dengan detikTravel.
Waktu itu memang dia tidak langsung terbang via Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar, Aceh. Tapi Dedi terbang dari Bandara Cut Nyak Dhien, Nagan Raya Aceh menuju ke Bandara Kuala Namu di Sumatera Utara. Nah, dari Bandara Kuala Namu baru terbang ke Bandung dan memilih transit di Kuala Lumpur.
“Kalau terbang langsung dari Aceh ke Bandung itu mahal. Tiketnya bisa sampai Rp 3 juta lebih, kalau transit dapat sekitar Rp 900 ribu. Tapi saya harus nginap satu malam di Bandara Kuala Lumpur,” jelas Dedi.
Ia mengaku baru sekali merasakan bepergian dengan harga tiket selangit dan memilih transit di luar negeri. Menurutnya, keuntungan memilih tiket murah yaitu sisa uang beli tiket dapat dimanfaatkan untuk beli oleh-oleh di Malaysia.
“Transit jauh lebih hemat, malah (uangnya) bisa buat makan, dan beli oleh-oleh. Tidak enaknya, ketika sampai di Bandung saya dicurigai sama imigrasi. Saya diperiksalah sama imigrasi,” ungkapnya.
Seorang warga Aceh lainnya, Hotli Simanjuntak, mengaku juga pernah punya pengalaman yang sama. Dia menghemat uang saku saat ke Jakarta dengan memesan tiket pesawat transit di Malaysia. Meski demikian, dia harus rela menikmati transit hingga delapan jam.
“Waktu saya ke Jakarta dan transit di Kuala Lumpur, itu bisa menghemat Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu. Bedanya, kita harus transit selama delapan jam di Kuala Lumpur,” ungkap Hotli.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengaku akan mengecek kabar soal warga Aceh yang memilih terbang ke Malaysia terlebih dahulu supaya mendapat tiket yang lebih murah untuk terbang ke Jawa. Termasuk, rumor yang menyatakan warga Aceh ramai-ramai bikin paspor untuk bisa singgah ke Malaysia dengan tujuan mendapat tiket murah.
“Nanti dicek, karena waktu pertama kali saya ada petisi itu ternyata ada kelompok tertentu, yang secara khusus mengangkat ini. Secara proporsional nggak begitu sebenarnya. Kalau itu kita cek lagi,” kata dia di JIExpo Kemayoran Jakarta, Sabtu (12/1/2019).
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga buka suara terkait kenaikan harga tiket pesawat yang dikeluhkan masyarakat belakangan ini. Menurut Budi Karya, tarif yang berlaku saat ini masih sesuai ketentuan karena berada di bawah batas atas.
Menurut Budi, harga tiket pesawat saat ini terkesan tinggi karena sebelumnya maskapai kerap ‘perang tarif’ memberikan harga penerbangan murah.
“Kita secara umum, apa yang dilakukan itu masih di bawah tarif batas atas, memang selama ini mereka perang tarif, begitu harga normal seolah-olah tinggi. Namun demikian, saya memang mengajak mereka secara bijaksana melakukan kenaikan secara bertahap, kita lagi bicara,” kata Budi Karya.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga memperbolehkan maskapai Lion Air Grup khususnya pesawat Lion Air dan Wings Air untuk mengenakan biaya bagasi kepada penumpangnya. Pengenaan biaya, kata Budi Karya, bisa berlaku setelah sosialisasi selama dua minggu atau berlaku pada 22 Januari 2019.
“Jadi saya beri policy, boleh tanggal 8 (Januari) tapi grace periode dua minggu. Jadi tetap sambil sosialisasi. Dua minggu setelah tanggal 8 (Januari) baru berlaku efektif,” kata Budi Karya di Komplek Istana, Jakarta Pusat, Selasa (8/1/2019) lalu.
Budi menyebut, dalam waktu dua minggu ke depan maka pihak Lion Air Grup bisa mensosialisasikan kepada para penumpangnya terkait dengan pengubahan kebijakan bagasi. Sehingga, dari awal berlaku tanggal 8 Januari, menjadi efektif tanggal 22 Januari 2019.
Bukan hanya Lion Air, maskapai Citilink juga menerapkan tarif bagasi. Dengan tarif bagasi, maka biaya yang ditanggung konsumen meningkat.
Dengan peningkatan biaya ini, apakah maskapai masih bisa disebut penerbangan berbiaya murah atau biasa disebut low cost carrier (LCC)?
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi hanya mengatakan, penerbangan murah dan full service memiliki layanan berbeda. Hal tersebut membuat ceruk pasar kedua maskapai tersebut juga berbeda. (dtf/wis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.