BOGONEGORO | duta.co – Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre III Bojonegoro, Jawa Timur, tanggapi serius soal anjloknya harga gabah hasil panen petani. Mereka menegaskan tidak ada permainan dari Bulog ataupun mitra kerja terkait kondisi harga gabah saat ini.

Wakil Pimpinan Bulog Sub Divre III Bojonegoro, Hendra Kurniawan mengatakan, terkait anjloknya harga gabah saat ini, pihaknya memastikan tidak ada permainan dari oknum internal maupun mitra kerja Bulog.

“Soal itu (anjloknya harga gabah) saya pastikan tidak ada permainan dari internal maupun mitra kerja kami,” ucapnya, Jumat (12/3/2021).

Dia melanjutkan, bagi siapa  pun yang mengetahui ada oknum yang bermain, baik itu dari internal maupun mitra, dipersilakan untuk melaporkan.

“Silahkan melapor ke kami jika terbukti ada yang bermain harga,” lanjutnya.

Sejak awal musim panen, kata dia, pihaknya juga sudah mendapat informasi bahwa harga gabah anjlok. Untuk menyikapi itu Bulog Subdivre III Bojonegoro langsung turun ke lapangan guna memastikan kebenarannya.

“Kabar itu benar adanya, harga gabah berada pada posisi di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP),” imbuhnya.

Menurutnya, salah satu faktor penyebab anjlokya harga gabah adalah dari segi kualitas. Yakni gabah hasil panen masih banyak bercampur dengan yang berwarna hijau. Jadi dapat diartikan banyak yang belum memasuki usia panen tapi dipaksakan untuk panen.

“Temuan di lapangan seperti itu,” terangnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pihaknya dengan sigap melakukan penyerapan hasil panen. Pihaknya berharap dari penyerapan itu dapat mengkatrol harga gabah.

“Tentunya itu (penyerapan) harus mengikuti standar kualitas yang ditetapkan oleh Bulog,” pungkasnya.

Perlu diketahui, harga gabah hasil panen petani saat ini dikisaran Rp. 3.300 hingga Rp. 3.400 per kilogram (Kg). Sedangkan Permendagri No 24 Tahun 2020 menentukan HPP Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 4.200 per kg. (abr)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry