Petani garam yang sedang panen di Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. (DUTA.CO/Abdul Aziz)

PASURUAN | duta.co – Petani garam yang tersebar di beberapa pesisir pantai utara, seperti di Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, sejak dua bulan ini mengalami hasil panen melimpah. Namun panen yang penuhi target tersebut, tak dibarengi dengan harga yang di pasaran. Bahkan harga garam merosot seiring dengan banyaknya hasil panen garam di beberapa daerah lain.

Meski demikian, para petani tak putus asa untuk tetap meningkatkan hasil produksinya, di samping adanya dukungan kemarau yang cukup panjang. “Saat ini hasil panen cukup bagus dari pada tahun lalu. Disamping kualitas garam milik petani di wilayah Desa Gerongan kualitasnya cukup bagus sejak beberapa bulan ini,” papar Badrus, petani garam Gerongan, Jumat (12/11/2018).

Menurut dia, petani garam lebih selektif untuk menjaga kualitas garamnya, agar mampu bersaing dengan produksi petani garam dari daerah lain di Jawa Timur. Sehingga harga jual yang tinggi sangat diharapkan, sehingga keuntungannya juga meningkat. “Upaya selama ini dilakukan dikarenakan banyak petani garam yang menghendaki agar kualitas garamnya lebih baik,” urainya.

Dikatakannya, petani di Desa Gerongan saat ini tidak lagi untuk memproduksi garam dengan menggunakan cara tradisional lagi seperti tahun-tahun lalu. Namun sejak gencarnya sosialisasi dari Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan, petani di Gerongan banyak yang beralih dengan menggunakan sistem geomembran (pakai alas terpal plastik), agar kualitas garamnya putih dan bagus.

Ia menjelaskan, secara keseluruhan petani garam menginginkan agar panen melimpah saat ini disertai dengan harga stabil. Karena diakuinya saat ini harganya anjlok. “Saat ini harga untuk jenis garam kasar sekitar Rp 800/kg. Sedangkan untuk jenis kasar putih harganya saat ini mencapai Rp 950/kg, yang tentunya petani inginkan harga naik dan tak terlalu merosot,” beber dia.

Bila dibanding tahun lalu, kata Badrus ,petani garam di beberapa kecamatan di Kabupaten Pasuruan lebih banyak diuntungkan. “Untuk harga garam kasar biasa, saat itu mencapai Rp 3.000 lebih perkilonya. Sedangkan yang kasar putih bisa tembus harga Rp 4.000 per kilonya. Namun turun lagi harganya kisaran antara Rp 1500 lebih perkilonya harga terendahnya, ungkap Badrus.

Terkait harga yang dimungkinkan akan merosot lagi, pihaknya meminta pada pihak terkait dan Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan, untuk ikut memikirkan soal harga yang banyak dikeluhkan kalangan petani garam. Paling tidak ada solusi agar harga tak makin terpuruk. Selain itu agar petani garam bisa bergairah lagi untuk meningkatkan produksi garamnya. (dul)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.