SURABAYA | duta.co – Harga cabai di Jawa Timur terus meningkat. Per 30 Juli 2019, harga rata-rata cabai naik 1,63 persen. Dari Rp 74.325 per kilogram satu hari sebelumnya, menjadi Rp 75.537 per kilogram sesuai data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo).

Kondisi ini merata di semua daerah. Tertinggi terjadi di kabupaten Lumajang harga cabai mencapai Rp 85.000/kg dan terendah di Kota Mojokerto Rp 64.000/kg.

Atas kondisi ini Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Jawa Timur tak memiliki solusi lain, selain menunggu panen raya cabai.

Kepala Disperindag Jawa Timur, Drajat Irawan mengaku, tidak bisa berbuat banyak dalam menstabilkan harga cabai selain menunggu panen. Karena cabai saat disimlam tak akan tahan terlalu lama. Lima sampai enam hari cabai sudah busuk. Sebab itu perlu ada pengaturan masa tanam agar produksi tetap terjaga

Dia mengatakan, hanya bisa menunggu panen raya disentra produksi cabai antara Agustus hingga September. Dengan begitu harga cabai akan kembali normal. “Sementara ini masih diisi sebagian dari Malang, sebagian dari Banyuwangi. Sambil menunggu sentra yang utama panen,” imbuhnya, Selasa (30/7/2019).

Lanjutnya, naiknya harga cabai ini karena minimnya stok di tingkat hulu atau petani. Sentra cabai di Jawa Timur belum memasuki masa panen.

“Ini juga karena berakhirnya musim panen

Juni lalu. Sehingga memicu harga yang cukup signifikan,” ujar Drajat.

Padahal dua bulan lalu, saat harga cabai murah, Pemprov Jawa Timur menyiapkan dua langkah melakukan intervensi dan langkah strategis untuk bisa mengendalikan harga saat terjadi over supply, sehingga petani atau produsen tidak mengalami rugi.

Untuk penanganan jangka pendek menyikapi anjloknya harga cabai rawit di Jawa Timur, Gubernur meminta agar kepala daerah mulai bupati dan walikota agar melakukan aksi borong cabai di pasar-pasar tradisional.

Untuk penanganan jangka panjang, Pemprov Jawa Timur bakal segera membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khusus pangan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Jawa Timur Hadi Sulistyo mengatakan, ketersediaan cabai April-Mei lalu sempat alami kelebihan produksi. Data Distan Jatim produksi cabai April mencapai 77.171 ton, sedangkan Mei sebesar 32.136 ton.

Produksi cabai mulai turun pada Juni yang hanya 23.437 ton. Tren tersebut terus berlanjut pada Juli yang hanya 17.353 ton. “April-Mei terjadi over produksi, dan cabai menjadi turun harganya karena yang beli tidak ada. Nah Juni-Juuli belum ada produksi, masih sisa-sisa yang kemarin (April-Mei),” kata Hadi.

Ia memprediksi Agustus produksi cabai sudah kembali naik. Beberala wilayah sentra produksi cabai, Kabupaten Blitar, Kediri, Kabupaten Malang, Tuban, Sampang, dan Pamekasan sudag mulai memanen. Hitungan Distan Jatim pada bulan itu sentra produkai cabai mampu menghasilkan sekitar 25.666 ton. (Zal)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry