
JOMBANG | duta.co – Harga daging ayam di Pasar Pon Jombang kembali naik. Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), komoditas ini mencapai Rp36.000 per kilogram, level tertinggi sejak pertengahan tahun. Kenaikan berlangsung cepat: pekan lalu harga masih berada di kisaran Rp32.000–33.000.
Kenaikan ini bukan sekadar faktor musiman. Dewi Nurkamaru (51), pedagang ayam, menilai program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) mendorong permintaan dari sekolah, katering, dan pemasok lain. “Permintaan naik, stok cepat habis. Ya akhirnya harga ikut naik,” ujarnya, Senin (8/12).
Dewi memperkirakan harga saat ini sudah menyentuh batas atas pasaran Jombang. Namun, ia mengakui mekanisme pasar cenderung mengikuti tekanan permintaan. “Kalau pasokan menipis, bisa aja naik lagi,” katanya.
Kondisi ini berdampak langsung pada omzet pedagang. Dalam situasi normal, Dewi bisa menghabiskan 5 kuintal ayam per hari. Kini jumlah itu menurun tajam karena pelanggan mengurangi belanja. “Pembeli bagi-bagi uang. Cabai dan yang lain juga naik,” ujarnya.
Sorotan serupa datang dari pembeli, salah satunya Umrotin (43), pedagang mie ayam. Ia terpaksa memangkas pembelian harian karena modal membengkak, sementara harga jual tak mungkin dinaikkan dalam waktu dekat.
“Kalau dinaikkan, pelanggan pasti protes. Jadi mau tidak mau harus ngirit bahan,” keluhnya.
Lonjakan ayam ini menambah daftar komoditas yang naik menjelang akhir tahun. Pemerintah daerah dan pemasok belum merilis langkah stabilisasi apa pun, sementara pasar terus merespons tekanan permintaan.
Pedagang mengingatkan, jika harga tidak dikelola, kelompok usaha kecil menjadi yang paling rentan. “Berat kalau begini terus. Kita enggak punya ruang gerak,” pungkas Umrotin. (din)





































