JAKARTA | duta.co – Opsi perang darat di Iran cuma hiburan bagi Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS). Begitu juga keinginannya mengusai Selat Hormuz, jauh panggang dari api. Kini tinggal koar-koar damai dari mulut Trump.

Terbaru, parlemen Iran berencana memperkenalkan rezim navigasi baru di Selat Hormuz, yang akan memastikan keselamatan pelayaran kapal sekaligus menetapkan biaya transit. Pernyataan ini disampaikan anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen, Alaeddin Boroujerdi, Senin (30/3/2026).

“Dengan persetujuan parlemen, rezim baru akan diberlakukan di selat tersebut,” kata Boroujerdi seperti dikutip penyiar IRIB, dilansir dari Sputnik.

Boroujerdi menegaskan bahwa tidak ada kapal yang akan diperbolehkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari Iran. Selain itu, Teheran akan menjamin keamanan kapal serta memberlakukan tarif transit.

Indonesia? Meski sempat alot, dua kapal minyaknya suda diizinkan lewsat. Kini dunia tenang-tenang saja. Justru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang harus memutuskan. Terus membombardir Iran atau mendengar jutaan warganya yang sedang turun jalan.

Dunia makin paham, bahwa Trump telah terjebak nafsu Israel. Akhirnya tanpa ada alasan menyerang Iran, sampai-sampai menewaskan Ayatollah Ali Khamenei. Wajar kalau Iran marah.

Apalagi, sampai detik ini, hampir sebulan perang berlangsung belum ada tanda-tanda perang berakhir. Minggu (29/3/2026) kemarin, AS dan Israel masih meluncurkan serangan terhadap Iran. Dan, Iran tak kalah dahsyat, Israel dibuat babak belur. Pesawat raksasa AS pun kini menjadi puing-puing.

Iran juga membalas dengan menyerang Israel dan fasilitas militer AS di negara-negara Teluk. Iran juga melakukan kontrol ketat di Selat Hormuz yang memicu harga minyak dunia melonjak tinggi. Karuan dunia, benar-benar mengecam kebiadaban AS dan Israel. Merekalah teroris sejati, bukan juru damai.

Warga AS pun muak. Ribuan demonstran berkumpul di seluruh Amerika Serikat (AS) untuk menentang Presiden Donald Trump. Mereka melampiaskan kemarahan atas gaya pemerintahan Trump yang dinilai otoriter, kebijakan imigrasi garis kerasnya, dan perang dengan Iran

Dilansir AFP, Aksi demonstrasi berlangsung Sabtu (29/3/2026) waktu setempat. Penyelenggara mengatakan setidaknya 8 juta orang berkumpul di lebih dari 3.300 acara di seluruh 50 negara bagian dari kota-kota besar hingga kota-kota kecil.

Ini adalah kali ketiga dalam kurang dari setahun warga Amerika turun ke jalan sebagai bagian dari gerakan akar rumput yang disebut ‘No Kings’, saluran oposisi yang paling vokal dan visual terhadap Trump sejak ia memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.

Di New York, kota terpadat di Amerika, puluhan ribu demonstran berkumpul, termasuk aktor peraih Oscar Robert De Niro, seorang kritikus Trump yang sering menyebut presiden Trump ancaman eksistensial bagi kebebasan dan keamanan kita. Bahkan demi kali ini bisa disebut terbesar dalam sejarah AS.

Aksi protes berlangsung dari Atlanta hingga San Diego. Mereka merasa konstitusi terancam. “Tidak ada negara yang dapat memerintah tanpa persetujuan rakyat,” kata veteran militer berusia 36 tahun, Marc McCaughey, kepada AFP di Atlanta, tempat ribuan orang turun ke jalan. “Kami di sini karena kami merasa Konstitusi terancam dalam berbagai cara. Keadaan tidak normal. Keadaan tidak baik,” ucapnya.

Di kota West Bloomfield, Michigan, dekat Detroit, orang-orang menantang suhu di bawah titik beku untuk berdemonstrasi. Dan di ibu kota AS, Washington, ribuan demonstran beberapa membawa spanduk bertuliskan “Trump Harus Mundur Sekarang!” dan “Lawan Fasisme” berbondong-bondong ke National Mall.

“Dia terus berbohong dan berbohong dan berbohong dan berbohong, dan tidak ada yang mengatakan apa pun. Jadi ini situasi yang mengerikan yang kita alami,” kata seorang pensiunan berusia 67 tahun, Robert Pavosevich kepada AFP.

Suasana anti-Trump telah meluas hingga ke luar perbatasan AS, dengan demonstrasi pada hari Sabtu di kota-kota Eropa termasuk Amsterdam, Madrid, dan Roma, di mana 20 ribu orang berbaris di bawah pengawasan ketat polisi.

Seperti diketahui, hari protes nasional “No Kings” pertama terjadi Juni lalu pada ulang tahun Trump yang ke-79 dan bertepatan dengan parade militer yang ia selenggarakan di Washington. Beberapa juta orang turun ke jalan, dari New York hingga San Francisco. Protes kedua, pada bulan Oktober, menarik sekitar tujuh juta demonstran. Menurut penyelenggara, acara hari Sabtu lalu diikuti oleh satu juta peserta lagi dan 600 demonstrasi tambahan.

Pengamat politik menilai, gelombang protes raksasa ini akan menjadi tekanan politik baru yang sangat berat bagi Donald Trump. Terlebih, aksi ini meledak menjelang pemilu paruh waktu (midterm election), tepat di tengah tren menurunnya popularitas Trump dan derasnya kritik terhadap pemerintahannya. Tinggal cepat atau tidak Trump memilih. Pilih hentikan perang atau dia akan babak belur.

American Civil Liberties Union bersama sejumlah anggota parlemen Demokrat juga mendesak Kongres menghentikan aksi militer terhadap Iran, dengan menegaskan bahwa Konstitusi AS mengharuskan persetujuan legislatif atas penggunaan kekuatan militer.

Perang ini memasuki babak baru setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim akan mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Iran untuk mengakhiri pertempuran yang telah berlangsung tiga pekan itu. Menurutnya pembicaraan sedang dilakukan dengan sangat baik, meski Iran membantah. Lalu apa saja updatenya? CNBC Indonesia, telah menurunkan indikator tersebut.

Kejutan pernyataan soal upaya negosiasi dan penghentian serangan AS ke Iran membuat negara-negara Teluk menghela napas lega. Padahal sebelumnya Trump mengancam akan menargetkan infrastruktur listrik Iran, Selasa malam, jika pintu Selat Hormuz tak dibuka. Kini hanya tinggal 2 pilihan bagi Trump. Mundur atau babak belur. (net)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry