Suasana Halaqah ketujuh di PP Darunnajah, Jakarta Selatan. (FT/MKY)

JAKARTA | duta.co —  Halaqah ketujuh Komite Khitthah 1926 Nahdlatul Ulama (KK26NU) , berlangsung di Jakarta, tepatnya di PP Darunnajah, Sabtu (30/3/2019). Semangat dan dukungan untuk menegakkan khitthah makin kuat.

Ratusan kiai dan habaib hadir di Pondok Pesantren yang terletak di Jalan Ulujami Raya 86, Pesanggrahan,  Jakarta Selatan. “Mungkin banyak yang bertanya, mengapa di PP Darunnajah? Paling tidak ini membuktikan bahwa NU itu milik semua,” jelas KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) saat memberikan taushiyah tentang khitthah.

Pengasuh PP Tebuireng, Jombang ini juga mewanti-wanti agar peserta halaqah mampu mengendalikan diri untuk tidak menyampaikan masalah terkait politik praktis, dukung mendukung apakah itu pasangan 01 maupun kosong 02. “Kita harus konsentrasi masalah khitthah. Jangan ada dukung mendukung dalam halaqah ini,” tegasnya.

Ratusan peserta halaqah juga berkesempatan mendengar taushiyah Prof Dr KH Tholchah Hasan, sesepuh NU dari Malang yang disampaikan dalam halaqah ke-5 di Pasuruan. Dalam taushiyahnya, Kiai Tholchah berharap perjuangan komite khitthah bisa berhasil dalam menyemalatkan NU. “Keluarkan NU dari wadah kecil, politik praktis,” tegas Kiai Tholchah.

Bukan Alat Politik

Saat halaqah (ke-5) yang berlangsung di PP Al-Taqwa, Cabean, Pasuruan, Sabtu 16 Februari 2019, itu  KH Tholchah juga menjelaskan soal paradigma yang harus dibangun oleh pengurus NU.

“NU ini (oleh pendiri red.) sudah diberi pakem, yaitu melayani umat, bukan menguasai umat,” demikian disampaikan KH Tholchah yang juga dikenal sebagai pendiri Universitas Islam Malang (UNISMA) di depan peserta halawah V KK-26 NU.

NU sebagai sarana atau alat untuk melayani umat Islam di Indonesia, bukan dijadikan alat untuk mengausai umat. “Melayani dan menguasai ini, tafsirkan sendiri, punya arti berbeda. Kalau melayani apa yang diberikan, sementara kalau menguasai apa yang bisa kami peroleh dari umat,” tegasnya.

Kiai Tholchah kemudian menjelaskan bagaimana kegelisahan warga NU yang terjadi pada tahun  1970-an. Hari ini, bisa jadi, sama, karena sekarang ada kegelisahan yang sama, di mana NU tidak lagi berfungsi melayani, melain menguasai umat.

Tampak hadir dalam halaqah ketujuh di PP Darunnajah, selain Gus Solah dan KH Shofwan (pengasuh PP Darunnajah), tampak Prof Dr H Juhaya S Praja Pengasuh PP Al-Qutub Bandung, Prof Dr Nasihin, Prof Dr Ahmad Zahron, KH Suyuthi Toha, Drs Choirul Anam, para kiai dan habaib dari Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur,  (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.