
(Caratan Reflektif Ngaji Qalbu bersama Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa; Kitab Sirr al-Asrār karya Syeikh Abdul Qadir Al Jailani; Sabtu, 31 Januari 2026)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif
SABTU pagi setelah Subuh, udara masih menyimpan dingin sisa malam. Di serambi pondok, para santri telah duduk bersila dengan kitab terbuka. Sebagian hadir langsung, sebagian lagi mengikuti dari berbagai kota melalui layar Zoom, ratusan wajah kecil berbaris dalam kotak-kotak cahaya.
Majelis Ngaji Qalbu dimulai. Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, membuka kitab Sirr al-Asrār karya Sulthanul Auliya Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani pada Bab 18 tentang Haji.
Suara beliau membaca teks Arab terdengar tenang dan jernih, bukan sekadar membacakan, tetapi seolah menuntun masuk ke lorong makna.
> الحج على نوعين: حج الشريعة، وحج الطريقة
Haji itu ada dua macam: haji syariat dan haji thariqah.
Beliau berhenti sejenak. Lalu menatap jamaah.
“Para ulama tasawuf tidak pernah menghapus syariat. Justru mereka memperdalamnya. Jangan dibalik,” ujar beliau pelan namun berwibawa, sebuah peringatan metodologis khas manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.
Haji Syariat: Perjalanan Jasad Menuju Rumah Allah
Haji syariat adalah yang dikenal dalam fiqh sebagai perjalanan ke Baitullah dengan seluruh rukun dan wajibnya, berupa ihram, thawaf, sa’i, wukuf, dan manasik lainnya. Ia adalah ibadah lahir yang tertib, terukur, dan memiliki ketentuan yang jelas.
Dalilnya tegas:
> وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Wajib bagi manusia berhaji ke Baitullah bagi yang mampu.” (QS Ali ‘Imran: 97)
Sang Guru menjelaskan, haji syariat adalah madrasah ketaatan paling konkret. Tubuh dilatih tunduk melalui aturan. Waktu diikat. Gerak dibatasi. Pakaian diseragamkan.
“Ihram itu bukan hanya ganti kain,” jelas beliau. “Itu latihan melepaskan identitas. Di hadapan Allah, gelar tidak ikut thawaf, jabatan tidak ikut sa’i.”
Nabi ﷺ bersabda:
> مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa berhaji karena Allah, tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, ia kembali seperti hari dilahirkan ibunya.”
(HR. Bukhari-Muslim)
Di sini, haji tampak bukan sekadar perjalanan geografis, tetapi operasi penyucian moral.
Haji Thariqah: Perjalanan Hati Menuju Tauhid
Setelah menjelaskan dimensi syariat, Sang Guru melanjutkan pembacaan bagian berikutnya. Di sinilah Sirr al-Asrār membuka lapisan makna yang lebih dalam, yakni haji thariqah, haji sebagai sebuah perjalanan batin.
Jika haji syariat menuju Ka’bah lahir, maka haji thariqah menuju Ka’bah hati (batin).
Dalam penjelasan Sang Guru, manasik haji tidak berhenti sebagai rangkaian gerak ritual, tetapi dibaca sebagai peta penyucian jiwa.
Ihram bukan sekadar mengganti pakaian, melainkan tanda menanggalkan kesombongan, status, dan rasa memiliki diri. Seorang hamba masuk ke hadapan Allah tanpa atribut dunia, tanpa gelar, tanpa kuasa , hanya membawa kefakiran.
Dari titik ini, thawaf menjadi pelajaran tentang orientasi hidup, sebagaimana tubuh mengelilingi Ka’bah, demikian pula hati dilatih beredar hanya pada satu pusat, yaitu tauhid. Tidak lagi hidup berputar pada pujian manusia, kepentingan diri, atau ketakutan dunia, melainkan pada ridha Allah semata.
Sa’i antara Shafa dan Marwah dibaca sebagai gerak batin antara raja’ dan khauf, harap dan takut, sebagaimana Hajar berlari bukan dalam putus asa, tetapi dalam keyakinan yang gelisah namun hidup.
Lalu wukuf di Arafah menjadi puncak perhentian eksistensial, yakni berhenti total di hadapan Allah, mengenali diri tanpa topeng, mengakui luka, dosa, dan keterbatasan. Di sana, hamba belajar bahwa mengenal diri adalah pintu awal mengenal Tuhan, ‘man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbah’ dalam makna hikmahnya.
Melempar jumrah kemudian tidak lagi dipahami sekadar lemparan batu, tetapi tekad sadar memerangi sifat setan dalam batin, yakni kesombongan, iri, rakus, dan pembangkangan halus yang sering bersembunyi di balik amal. Dan qurban menjadi penutupnya , bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menyembelih ego yang ingin selalu di depan, selalu benar, selalu dipuji.
Dengan demikian, seluruh manasik berubah dari perjalanan tubuh menjadi perjalanan ruh, bahwa haji tidak hanya ditempuh dengan langkah kaki, tetapi dengan keberanian membersihkan hati.
Selanjutnya dengan suara yang menggetarkan kalbu Sang Guru membaca ayat:
> لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging dan darahnya tidak sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalian yang sampai.” (QS al-Hajj: 37)
Penjelasan beliau mengalir: “Simbol tidak menggantikan syariat, akan tetapi menghidupkan syariat. Tanpa makna batin, manasik bisa menjadi gerak kosong. Dengan makna batin, setiap gerak menjadi zikir hidup.”
Beliau menambahkan ayat yang sering dikutip para arif:
> فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ
“Ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah.” (QS al-Baqarah: 115)
Lalu Sang Guru Ali memberi penegasan metodologis terkait haji thariqah ini:
“Bukan berarti tidak perlu ke Ka’bah. Justru setelah ke Ka’bah, jangan kehilangan Allah di luar Ka’bah.”
Itulah keseimbangan tasawuf dalam ajaran Ahli as-Sunnah wal-Jama’ah NU bahwa batin hidup, fiqh tetap tegak.
Haji Hakikat: Kembali Tanpa Membawa Selain Allah
Bagian terdalam dari bab ini berbicara tentang hakikat haji, keadaan di mana perjalanan lahir dan batin menyatu. Di sini, yang pulang bukan hanya jamaah haji, tetapi hamba.
Haji hakikat bukan klaim pengalaman spiritual, tetapi perubahan orientasi hidup. Tidak lagi berporos pada diri, melainkan pada Allah.
Sang Guru melantunkan sebuah ayat Al Quran dengan merdu:
> وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ
“Kepada Allah semua urusan kembali.” (QS al-Baqarah: 210)
Para ulama hikmah mengatakan:
> ليس الشأن أن تصل، الشأن أن تُوصَل
“Bukan urusanmu merasa sampai, tetapi disampaikan oleh Allah.”
Sang Guru menunduk sejenak sebelum menutup penjelasan:
“Haji syariat membuat ibadahmu sah.
Haji thariqah membuat ibadahmu hidup.
Haji hakikat membuat dirimu tunduk.”
Sunyi menyelimuti majelis. Bahkan layar Zoom terasa hening.
Jalan Ruhani yang Dijaga Syariat
Dalam tradisi NU, tasawuf tidak pernah dilepas dari fiqh, dan fiqh tidak dibiarkan kering tanpa tasawuf. Syariat adalah pagar. Thariqah adalah jalan. Hakikat adalah cahaya.
Imam Malik rahimahullah telah memberi kaidah emas:
> من تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن جمع بينهما فقد تحقق
“Siapa berfiqh tanpa tasawuf bisa menjadi fasik. Siapa bertasawuf tanpa fiqh bisa menyimpang. Siapa menghimpun keduanya, dialah yang sampai pada kebenaran.
Haji, dengan demikian, bukan sekadar rukun Islam kelima. Ia adalah miniatur perjalanan hidup manusia: keluar dari diri, membersihkan hati, memerangi ego, lalu kembali kepada Allah dengan jiwa yang lebih jernih.
Majelis ditutup doa. Kitab ditutup perlahan. Jamaah bubar, namun pertanyaan tinggal di dada:
Apakah kita hanya ingin sampai ke Ka’bah atau sampai kepada Allah?
#NgajiQalbu
#SirrAlAsrar
#SyeikhAbdulQadirAlJailani
#PonpesAlMasykuriyah
#AliMaaykurMusa





































