
Oleh Fahmi Arif El Muniry*
RIBUAN jamaah pulang dari Tanah Suci setiap tahun. Pesawat-pesawat mendarat membawa wajah-wajah letih yang dipenuhi haru. Di bandara, keluarga menyambut dengan pelukan, doa, dan rasa syukur. Gelar “Pak Haji” atau “Bu Hajjah” mulai disematkan. Oleh-oleh dibagikan. Air zamzam dituangkan ke gelas-gelas kecil. Kisah tentang Makkah, Madinah, Arafah, dan Mina memenuhi ruang tamu dan obrolan di kampung.
Indonesia sendiri menjadi negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia. Setiap tahun lebih dari 200 ribu jamaah diberangkatkan ke Tanah Suci. Jika dihitung sejak masa kemerdekaan, diperkirakan lebih dari 10 juta masyarakat Indonesia telah menunaikan ibadah haji. Haji akhirnya bukan hanya menjadi ibadah personal, tetapi sudah menjadi laku budaya dan laku spiritual masyarakat Muslim Nusantara.
Namun dalam tradisi pesantren, selalu ada pertanyaan penting, apakah hajinya hanya selesai secara manasik, atau benar-benar melahirkan kemabruran? Sebab bagi kalangan pesantren, haji bukan sekadar safar jasadiyah menuju Makkah, tetapi juga safar ruhaniyah menuju Allah. Yang berat bukan hanya thawaf mengelilingi Ka’bah, melainkan bagaimana hati tetap istiqamah setelah pulang ke rumah.
Ketika di Tanah Suci, hati manusia biasanya lebih lembut. Mudah menangis saat melihat Ka’bah. Mudah tersentuh ketika mendengar talbiyah. Mudah merasa hina di hadapan Allah. Tetapi setelah pulang, manusia kembali berhadapan dengan urusan dunia berupa pekerjaan, jabatan, persaingan hidup, bahkan hiruk-pikuk dunia digital yang kadang membuat hati kembali keras.
Hari ini, ujian kemabruran tidak hanya hadir di pasar, kantor, atau lingkungan sosial, tetapi juga di layar telepon genggam. Banyak orang mampu menjaga lisannya di depan orang lain, tetapi gagal menjaga jarinya di media sosial. Mudah menulis komentar kasar, menyebarkan fitnah, memamerkan ibadah, atau sibuk mencari pengakuan digital. Padahal para ulama pesantren sejak dahulu sudah mengingatkan pentingnya adab sebelum ilmu, dan pentingnya kebeningan hati sebelum banyak bicara.
Karena itu, ukuran haji mabrur dalam tradisi pesantren bukan terletak pada banyaknya foto di depan Ka’bah atau panjangnya cerita perjalanan. Ukurannya adalah akhlak, termasuk akhlak digital. Kalau sebelum haji mudah marah di media sosial, selepas haji mestinya lebih teduh dalam berkomentar. Kalau sebelumnya gemar menyindir dan mempermalukan orang lain di ruang digital, selepas haji mestinya lebih hati-hati menjaga lisan dan tulisan. Kalau sebelumnya sibuk mencari validasi dan pujian, selepas haji mestinya lebih ikhlas dalam beramal.
Pandangan tersebut juga tampak dalam kitab Manasik al-Hajj wa al-Umrah wa Adab al-Ziyarah li Sayyid al-Mursalin karya Muhammad Sholeh Darat yang diterbitkan sekitar 1340 H/1922 M. Kiai Soleh Darat menjelaskan bahwa haji bukan hanya perjalanan badan menuju Baitullah, tetapi perjalanan hati menuju ma’rifatullah. Karena itu, tanda haji mabrur harus terlihat pada akhlak dan kepedulian sosial selepas seseorang pulang dari Tanah Suci.
Masalahnya, dunia digital hari ini sering membuat manusia terjebak pada simbol. Foto ibadah mudah diunggah, tetapi keikhlasan sulit dijaga. Ceramah mudah dibagikan, tetapi nasihat sulit diamalkan. Orang bisa tampak saleh di media sosial, tetapi masih mudah merendahkan orang lain di kolom komentar.
Fenomena ini pernah dibaca oleh Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation (1981). Baudrillard menjelaskan bahwa masyarakat modern sering terjebak dalam dunia simulasi, ketika simbol dan tampilan luar dianggap lebih penting daripada makna yang sesungguhnya. Dalam konteks keagamaan, seseorang bisa terlihat religius di ruang digital, tetapi kehilangan kedalaman spiritual dan akhlak sosial dalam kehidupan nyata.
Pandangan serupa juga dijelaskan Sherry Turkle dalam Alone Together (2011). Ia melihat bahwa dunia digital membuat manusia tampak semakin terhubung, tetapi perlahan kehilangan kedalaman relasi dan refleksi batin. Dalam kehidupan keagamaan, media sosial kadang menjadikan ibadah sekadar tampilan visual dan pencitraan spiritual, sementara kehangatan akhlak, kepedulian sosial, dan keikhlasan justru semakin menipis.
Karena itu, haji mabrur di era digital bukan hanya tentang rajin mengunggah foto di depan Ka’bah, tetapi bagaimana menghadirkan akhlak Ka’bah di ruang digital dengan tidak mudah menghina, tidak gemar menyebar kebencian, dan tidak menjadikan agama sebagai alat pamer kesalehan.
Membawa Arafah ke Rumah Digital
Ada pemandangan yang sangat agung di Padang Arafah. Jutaan manusia berdiri bersama dengan pakaian putih yang sama. Tidak ada simbol pangkat. Tidak ada tanda kekayaan. Semua tampak kecil di hadapan Allah. Arafah seperti mahsyar kecil. Tempat manusia diingatkan bahwa jabatan akan selesai, kekayaan akan ditinggalkan, dan popularitas suatu saat akan hilang. Yang tersisa hanyalah amal saleh dan jejak kebaikan.
Di era digital hari ini, manusia sering mengejar viralitas dan pengakuan. Ukuran keberhasilan kadang berubah menjadi jumlah likes, viewers, dan followers. Akibatnya, banyak orang sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun jiwa. Karena itu, orang yang pulang haji semestinya membawa semangat Arafah ke dalam kehidupan digitalnya. Menjadi pribadi yang lebih hati-hati dalam menulis, lebih lembut dalam berkomentar, dan lebih bijak menggunakan media sosial.
Secara sosial, hal ini pernah dijelaskan Max Weber dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1905). Weber mengatakan bahwa agama sejatinya melahirkan etika sosial, bukan hanya ritual simbolik. Maka ibadah harus terlihat dalam kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama, termasuk di ruang digital.
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak haji yang menghadirkan kesejukan sosial, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Haji yang membuat media sosial lebih teduh, lebih santun, dan lebih penuh kasih sayang. Sebab pada akhirnya, haji mabrur bukan sekadar pernah datang ke Baitullah, tetapi ketika sepulang dari Tanah Suci, hati menjadi lebih bening, lisan lebih terjaga, jari lebih bijak, dan hidup semakin manfaat untuk semua.(*)




































