SURABAYA | duta.co – Banyak yang unik dari gelar ‘Rembuk Ketatanegaraan’ yang bertajuk ‘Gerakan Pemulihan Kedaulatan Rakyat’ di Pelataran Museum NU, Surabaya, Rabu (10/8/22) kemarin. Salah satunya munculnya puisi dari Totenk MT Rusmawan.

“Saya Rusmawan. (Gerakan ini) diawali ajakan dengan berkunjung ke Gus Solah (almaghfurlah KH Salahuddin Wahid) Tebuireng (Jombang) dengan tema yang sama, Kepedulian akan Kedaulatan Rakyat. Lalu, (gerakan) ini diteruskan di Gedung DHD (Dewan Harian Daerah) 1945 Provinsi Jawa Timur di Surabaya, kemudian sampai pada gugatan Dokter Zulkifli (terhadap UUD 1945 yang palsu),” demikian lelaki yang dikenal sebagai murid WS Rendra ini.

Suaranya lantang, menggelegar, membuat ratusan peserta ‘Rembuk Ketatanegaraan’ terdiam beku. Isi puisinya mengisahkan Burung Garuda yang (kini) ‘tersesat’. Ia (Garuda) terkendalikan kekuatan asing. Rusmawan kemudian menyebut kekuatan China dan Amerika.

Karena itu, jelasnya, hari ini, rayat harus bangkit. Selamatkan negeri ini, kembalikan kedaulatan rakyat. Selamatkan Garuda Pancasila. Bisa jadi, jantungmu (Garuda) sudah rusak. Tetapi, lebih rusak lagi otak para penungangmu. “Hai Garuda, Rakyatmu Jauh Lebih Menderita! Rakyat siap menunggangmu. Dari Bumi Gayungan (Surabaya) rakyat bergerak,” tegasnya dengan suara lantang. (zal)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry