Narasumber Prof Mun’im Sirry PhD, saat mempresentasikan uraiannya dalam seminar Metodologi Rekrontruksi Pengkajian Islam.

MALANG | duta.co – Universitas Islam Malang (UIN) Malang menggelar Workshop Metodologi Rekrontruksi Pengkajian Islam. Dengan menghadirkan dua narasumber sekaligus,yang merupakan Guru Besar bidang Teologi di Amerika dan Profesor Ushul Fiqih.

Menurut moderator pemandu acara, dosen UIN Malang yang juga Pembina Studi Islam Masyarakat Muslim Melboorne Australia, Mokhamad Yahya MA PhD,bahwa pembahasan Webinar kali ini membahas pentingnya mempelajari masa lalu dan dampaknya pada masa kini. Menurutnya tanpa mempelajari masa lalu dapat menjadi rujukan menghadapi masalah saat ini yang sudah sedemikan komplek.

“Bentuk Islam saat ini dapat diketahui melalui sejarah. Maka sangat penting mempelajari sejarah Islam pada masa lalu,” ungkap Mokhamad Yahya, Senin (26/07).

Seminar Online antar Negara ini sengaja digelar oleh Pusat Studi Integrasi Islam dan Sains, Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Malang. Dengan menghadirkan Prof Mun’im Sirry PhD, Profesor Teologi dan Studi Islam di University of NotreDame USA. Serta pembicara kedua, Prof Dr Hj Tutik Hamidah MAg, Profesor Ushul Fiqih UIN Malang.

Menurut Prof Mun’im, Islam tidak lahir secara terisolasi dari iklim monoteisme, dan Islam awal sebagai agama Late Atiquity. Hingga terbangunnya Iman dan kesadaran historis yang tinggi pada saat itu. Ia menengarai, terdapat bias kekuasaan, atau kepentingan kekuasaan dalam penulisan Siroh Nabi. Pasalnya para penulis mempersembahkan untuk khilafah saat itu, seperti yang dilakukan putra Usman Bin Affan, Aban Bin Usman yang pertama kali menulis Siroh Nabi.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Tutik Hamidah menguraikan tentang dua model mempelajari Islam, yakni dengan melakukan penelitian dan mengkaji agama ini dengan upaya untuk memahami dan menjelaskan tentang Dinul Islam. Selanjutnya dengan model pengajian, guna memahami, mempraktekan dan untuk meningkatkan ketaqwaan.

Sedangkan untuk mengkaji Alquran terdapat tiga model, diantaranya dengan melahirkan Istikhrooj, yaknisemua ilmu pengetahuan dari Alquran, yang mengandung 7.7200 ilmu. Sebanyak kalimat Alquran yang dikalikan empat . Sebab setiap kalimat memiliki makna Zahir, batin, had dan mathla.’

“Termasuk juga menerapkan teori ilmu pengetahuan kedalam ayat Alquran. Selain itu dengan menggunakan Istikhdaam atau sain modern untuk metode memahami dan menjelaskan Kitabulloh ini,” pungkasnya. (adv/dah)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry