SURABAYA | duta.co -Eksistensi transportasi online di Indonesia makin dibutuhkan. Rata-rata masyarakat Indonesia memanfaatkan kendaraan pribadi habiskan waktu hingga 4 jam per hari di jalan akibat kemacetan.

Ini hasil survei internal yang dilakukan GO-JEK lebih dari 1000 responden di 8 kota besar di Indonesia. Fakta tersebut mendasari GO-JEK pelopor penyedia layanan ride-hailing di Indonesia luncurkan kampanye #UdahWaktunya.

VP Corporate Affairs GO-JEK Michael Say mengatakan GO-JEK terus mengembangkan produk dan layanan sekaligus memecahkan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat. Saat ini mitra driver go jek lebih dari satu juta, mitra Go Food sekitar 250 ribu tenant, dimana 80 persen diantaranya pengusaha mikro atau Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

“GO-JEK konsisten mengembangkan Micropreneur dengan memmberi kesempatan sebanyak mungkin mitra Go Food. Mereka tidak perlu buka warung seperti biasanya, melainkan di rumah juga bisa,” jelasnya disela peluncuran kampanye #UdahWaktunya di House of Sampoerna Surabaya kemarin.

Michael menambahkan semua layanan GO-JEK bertujuan supaya hidup konsumen kami semakin mudah. Mau bepergian tinggal pilih tanpa repot GO-RIDE atau GO-CAR, ingin pesan makan ada GO-FOOD, mau pijat ada GO-MASSAGE.

Dia menambahkan, “Udah waktunya juga konsumen lebih produktif dan bebas stress. Tidak perlu takut pesan GO-CAR dan GO-RIDE karena kami memberikan pelatihan safety driving untuk para mitra. Sehingga mereka mampu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi konsumen saat sedang berkendara di jalan,” tutup Michael

VP Marketing Transport GO-JEK Monita Moerdani, “Lamanya waktu yang dihabiskan di jalan akibat nyetir dan menggunakan kendaraan pribadi bisa menyebabkan masyarakat tidak produktif. Waktu tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan untuk bersama keluarga, teman, beristirahat atau melakukan hobi. Bila masyarakat menggunakan layanan ride-hailing mereka bisa hemat waktu. Masyarakat Surabaya bisa hemat 45% waktu perjalanan memanfaatkan GO-RIDE.”

Menurut Monita, banyak konsumen atau pengguna kendaraan pribadi tidak memperhitungkan waktu macet dan cari parkir dalam rencana perjalanan mereka.

“Dari hasil survei kami, kedua aktivitas ini lumayan menghabiskan waktu perjalanan. Apalagi, bila konsumen membawa kendaraan pribadi. Dengan kampanye #UdahWaktunya, kami mengajak masyarakat untuk berpindah dari kendaraan pribadi ke layanan ride-hailing dari GO-JEK, karena ini udah waktunya masyarakat tidak terhambat macet.”

Psikolog Klinis dari Universitas Indonesia Dessy Ilsanty mengatakan masyarakat urban usia produktif yang biasa membawa kendaraan pribadi dan terjebak macet, memiliki tekanan dari lingkungan misalnya harus berada di suatu tempat pada waktu yang ditentukan.

“Sedangkan dia masih berada di tempat yang kurang lebih sama akibat macet, sehingga memunculkan persepsi bahwa kondisi dirinya tidak dapat memenuhi tuntutan yang ada yakni tidak bisa tiba di waktu yang diharapkan. Hal ini lah yang akan memunculkan stress,” kata Dessy.

Sebagai contoh pada pekerja kantoran, terjadinya stress ini akan berpengaruh pada kinerjanya dalam menjalankan pekerjaan, lanjut Dessy.

“Nantinya seseorang yang terlalu lama menyetir dalam kemacetan akan mengalami gejala psikis negatif seperti mudah lupa, sulit berkonsentrasi, serta mudah terdistraksi,” tambahnya. (imm)

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry