Ketua Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Khadijah, Abdullah Sani melihat guru sekolah Khadijah praktik menggunakan AI untuk mempermudah pembelajaran, Kamis (15/7/2026). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Menghadapi percepatan zaman dan pesatnya arus digitalisasi, Yayasan Khadijah bergerak cepat merancang masa depan pendidikan yang progresif.

Saat ini, yayasan tengah mematangkan Rencana Pengembangan Jangka Panjang (RPJP) 10 tahun (2026–2035).

Salah satu target mutakhir dalam Indikator Kinerja Utama (IKU) yayasan adalah mengarahkan seluruh sistem pembelajaran pada pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan penguasaan bahasa global atau Bahasa Inggris.

Langkah konkret ini diawali dengan digelarnya workshop strategis yang menghadirkan pakar sekaligus pemilik perusahaan AI terkemuka asal Malaysia. Tidak sekadar workshop, Yayasan Khadijah juga mendapat kepercayaan penuh untuk menjadi proyek percontohan (piloting) pembelajaran Bahasa Inggris berbasis AI selama tiga bulan, mulai 1 Agustus hingga 31 Oktober 2026.

Ketua Yayasan Khadijah, Abdullah Sani, mengungkapkan bahwa proyek piloting ini akan diterapkan perdana pada siswa kelas 7 SMP Khadijah. Selama tiga bulan, efektivitas program akan dipantau ketat melalui instrumen pre-test, mid-test, hingga post-test.

“Kami ingin melihat sejauh mana efektivitas platform ini. Anak-anak yang terdaftar akan diberikan PIN khusus agar mereka bisa belajar secara mandiri secara maksimal di rumah, tanpa mengganggu jadwal pelajaran reguler lainnya,” ujar Abdullah Sani.

Evaluasi Ketat untuk Lompatan Lebih Jauh

Yayasan Khadijah menaruh harapan besar pada proyek ini. Jika hasil evaluasi post-test menunjukkan percepatan kemampuan yang luar biasa pada siswa, yayasan bersiap mengambil langkah yang lebih masif.

Program ini rencananya akan diperluas ke kelas-kelas lain dengan tetap mengacu pada kurikulum Kemendikdasmen yang diperkuat oleh platform AI tersebut.

Lebih lanjut, Abdullah Sani menegaskan bahwa integrasi teknologi ini tidak hanya menyasar para murid, melainkan wajib diadopsi oleh para pendidik.

“Kami akan mengkaji betul aspek ini. Ke depan, seluruh guru, bukan hanya guru bahasa Inggris, kami dorong untuk memanfaatkan AI dalam pembelajaran. Meskipun saat ini belum menjadi kebijakan umum nasional, secara personal guru-guru harus mulai memanfaatkan AI hingga nantinya matang menjadi kebijakan internal yayasan,” imbuhnya.

Teknologi Maju, Akhlak Tetap Nomor Satu

Di tengah ambisi besar menuju pembelajaran abad ke-21 (21st Century Learning), Yayasan Khadijah tetap memegang teguh identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam. Pihak yayasan mengingatkan agar adopsi teknologi yang agresif ini tidak membuat para siswa dan guru kehilangan arah.

“Teknologi digital dan AI boleh diadopsi setinggi-tingginya, namun basic karakter harus tetap kuat. Akhlakul karimah adalah fondasi utama yang tidak boleh ditinggalkan. Penggunaan teknologi ini ada batasnya, jangan sampai kita kebablasan,” pungkas Abdullah Sani secara tegas.

Melalui penyusunan RPJP 2026–2035 dan implementasi piloting AI ini, Yayasan Khadijah siap mencetak generasi masa depan yang tidak hanya fasih berbahasa global dan mahir teknologi, tetapi juga berkarakter mulia.

Pakar AI yang dihadirkan yakni Franklin Styne mengajari banyak pada para kepala sekolah dan guru di lingkup yayasan tentang AI. Bagaimana penggunaan untuk mempermudah guru dalam memberikan pembelajaran.

Salah satu guru dari TK Khadijah Pandegiling, Sugiati Ningsih mengaku senang bisa mendapatkan pembelajaran langsung tentang AI. “Saya akhirnya bisa membuat bahan pembelajaran sendiri, bikin flyer, pamflet sendiri. Alhamdulilah bisa efektif dan efisien,” tandasnya.

Pembelajaran AI dan bahasa Inggris ini akan dilakukan secara berkala hingga semua guru dan kepala sekolah paham dan mahir. lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry