SALATIGA | duta.co – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng membekali aparatur kelurahan dan desa di Salatiga untuk mencegah berkembangnya paham radikal-teror dengan mengelar kegiatan Penguatan Aparatur Kelurahan dan Desa Dalam Pencegahan Terorisme di Hotel Laras Asri Jalan Jenderal Sudirman No.335, Ledok, Argomulyo, Kota Salatiga Rabu (11/07/2018).

Kegiatan ini diikuti 100 peserta dari unsur perangkat desa, kelurahan, Babinsa, dan Babinkabtibmas se Kota Salatiga.

Ketua FKPT Jateng, Dr Drs Budiyanto SH MHum mengungkapkan bahwa terorisme adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa, sehingga tidak hanya menjadi musuh militer dan aparatur negara saja, namun juga musuh bangsa secara menyeluruh.

“Teroris membunuh yang tidak sepaham dengan berbagai macam rangkaian aksi, dan 100 negara di dunia sudah menyatakan memerangi terorisme,” kata Budiyanto.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki budaya yang khas sehingga memiliki upaya tersendiri yang diakui oleh dunia. Raja Salman salah satunya, saat bertandang ke Indonesia menyatakan bahwa Indonesia paling berhasil dalam mengelola dan menangani terorisme.

Ancaman Bisa Di mana Saja

Selain itu, Budiyanto mengungkapkan tekad Pemerintah dalam usahanya tanpa bantuan asing, “Indonesia tidak mau menerima bantuan dari luar negeri karena Pemerintah Indonesia sudah terbantu dengan partisipasi masyarakat,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga menerangkan peran dan adanya harapan FKPT. “FKPT sebagai bagian dari elemen yang dibentuk pemerintah diharapkan memerangi terorisme secara halus, yakni meningkatkan peran masyarakat dalam memerangi paham radikal-teror,” terangnya.

Budiyanto menyatakan harapan FKPT agar semua elemen yang ada dari tingkat kabupaten / kota hingga tingkat RT bisa berperan aktif memerangi paham radikal teror. Peran masyarakat ini lebih efektif dalam mencegah penyebaran paham tersebut, sebab, kata Budiyanto, setiap ada warga baru, kos, kontrak atau hanya sekedar menginap semalam tentu ada laporan ke RT. Hal ini bisa dikontrol dengan baik tanpa harus dengan menginterogasi secara kasar.

Budiyanto juga mengingatkan agar bersama-sama menyatukan pikiran bahwa rakyat ini yang butuh Negara.

“Kita ini yang membutuhkan negara,” tegasnya.

“Negara ini ada karena perjuangan pendahulu kita agar bersatu mewujudkan negara yang berdaulat, adil dan makmur. Nah, saat ini ancaman bukan perang militer antarnegara. Namun, radikal-teror,” kata dia menerangkan.

“Dahulu, dan rakyat Majapahit tak pernah berpikir Kerajaannya akan bubar. Namun sekarang ini sudah tidak ada. Maka dari itu, kita jangan berpikir Indonesia akan bubar dan mari terus berjuang bersama menjaga kedaulatan Negara ini sampai pada kejayaan,” ucapnya dengan penuh motivasi.

Saat diwawancarai terkait Kota Salatiga sebagai tempat yang dipilih untuk kegiatan, Budiyanto menjawab, bahwa ancaman bisa datang dari mana saja.

“Teroris merupakan ancaman nyata dan berbahaya, maka dinyatakan sebagai kejahatan luar biasa. Ancaman ini tidak bisa difokuskan pada satu titik saja. Karena itu fokus FKPT Jateng ya di Jateng, bukan salah satu atau beberapa kabupaten/kota,” katanya.

Dia menerangkan FKPT Jateng telah dan terus meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak yang ada di seluruh Kabupaten Kota di Jawa Tengah.

Sementara, Wakil Walikota Salatiga, Muhammad Haris SS MSi mengatakan bahwa para pelaku teror dalam datanya berusia muda, mereka memiliki kesamaan karakter penyebaran dengan narkoba. Yakni, pada usia produktif dengan latar belakang permasalahan dalam keluarga dan berfikiran kurang terbuka atau terbiasa hidup dengan komunitas yang heterogen. (RQ)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.