
JAKARTA | duta.co – Dunia media sosial (medsos) semakin panas. Setelah aksi penolakan GP Ansor Kabupaten Sidoarjo terhadap dai wahabi Khalid Basalamah, kini muncul perang surat terbuka. Diawali oleh seseorang yang menyebut dirinya Habib Abu Syuja’ Al-Khathab bin Muhammad bin Abu Syaib bin Abu Muhammad Al-Banjari (Keturunan Nabi Adam ‘Alaihissalam dari Generasi yang ke sekian). Abu Syuja’ menulis panjang lebar, intinya merendahkan GP Ansor dengan berbagai stigma buruk.
Katanya, “Tidak ada SATU GOLONGAN pun yg menolak sebuah DA’WAH ILALLAH yang datang dari Nabi Mulia, melainkan mereka adalah salah satu dari 4 GOLONGAN berikut ini : ORANG-ORANG KAFIR, ORANG-ORANG MUNAFIQ, ORANG-ORANG JAHIL, PARA PENGEKOR HAWA NAFSU. Jika kita tarik pada keadaan di Indonesia saat ini, seiring dengan begitu banyaknya PENOLAKAN terhadap Da’i-Da’i Sunah, yang selalu menyeru kepada Kemurnian Aqidah, Entah kalian (BANSER GP ANSHOR) berada pada GOLONGAN yang mana ?..” begitu Abu Syuja’ dalam surat terbukanya.
Dia juga ingin mempertanyakan, “Pada waktu yg sama kami pun mempertanyakan, sejauh mana kecintaan kalian (BANSER GP ANSHOR) kepada HADRATUSY SYEIKH HASYIM ASY’ARI ?, Sejauh apa kesungguhan kalian dalam mengamalkan Syariat Islam yg telah beliau wariskan ?.. Pernahkah beliau mengajarkan tentang bolehnya melakukan ceramah di gereja (dihadapan umat nashrani) & dengan membenarkan ajaran agama mereka ?.. Adakah fatwa dari beliau tentang bolehnya menjaga gereja saat perayaan natal & tahun baru ?.. Adakah perintah dari beliau untuk membubarkan setiap majelis ilmu dr selain Golongan NU & bersikap keras terhadap sesama muslim, namun lembek terhadap orang kafir ?.. Adakah fatwa beliau tentang bolehnya menjaga & berkasih sayang dengan orang-orang SYI’AH (Baca : Anak Dajjal) ?..”
Hari ini, Selasa (7/3/2017), tak kalah viral, surat terbuka (balasan) untuk Abu Syuja’ Al-Banjari. Surat tertangga 6 Maret 2017 itu, ditulis Habib Moh Zain Bin Syuja’i Bin Abdurrohman Bin Adam Al-Bangkalani. Sama, ia menggunakan istilah (Keturunan Nabi Adam Generasi yang ke sekian).
“Saudaraku Abu Syuja’ yang semoga dimuliakan Alloh, surat yang anda kirimkan melalui status di FB untuk sahabat Ansor Sidoarjo secara khusus dan untuk Sahabat Ansor secara umum, telah sampai kepada saya melalui brodcas yang dikirim ke Group WA dimana saya menjadi salah satu anggotanya dan sudah saya baca dengan seksama,” tulisnya.
“Saya husnudzon mungkin maksud saudara menulis surat kepada Ansor adalah untuk memberikan teguran kepada sahabat kami, dimana yang menurut anda sahabat kami (Ansor Sidoarjo) telah melakukan sebuah tindakan yang diluar batas etika, membubarkan Majelis Ilmu (Taman Surga) versi anda,” tambahnya.
Baiklah saudara, lanjut Habib Moh Zain Bin Syuja’I, sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas surat yang anda layangkan secara terbuka melalui media, dan akan saya tanggapi via media pula.
“Saudara Abu Syuja’ yang mulia, anda mengatakan sahabat kami telah melakukan tindakan pembubaran sebuah Majelis Ilmu? Begini saudara, sedikit saya jelaskan Kronologinya supaya anda tidak mudah main Klaim bahwa sahabat Ansor telah membubarkan Majelis Ilmu, pertama yang dimaksud Majelis Ilmu (Taman Surga/Roudotul Jannah) adalah suatu perkumpulan yang didalamnya diisi dengan Kajian Ilmu baik Ilmu Syari’at, Tasyowwuf dll, yang dibahas oleh seorang guru/ustadz/kyai yang tentunya dengan mengamalkan etika yang baik / akhlaqul karimah, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ghozali dalam kitabnya Bidayatul Hidayah, salah satu etika atau adab seorang guru dalam Majelis Ilmu adalah,” begitu argumentasi Habib Moh Zain Bin Syuja’i.
“Lalu bandingkan dengan sikap Khalid Basalamah dalam setiap kajiannya, di Youtobe sudah banyak kita saksikan bahkan dengan mudah kita akses Video Khalid Basalamah disetiap momen Pengajiannya, apa yang terjadi disana.? Selain hobi mensyirik-syirikkan amaliyah yang tak sepaham dengannya, Khalid Basalamah acap kali mengucapkan (Amalan yang mereka lalukan tidak ada Dalilnya) artinya Khalid Basalamah disini bersikap Sombong dan Congkak menganggap orang lain melakukan Amaliyah tanpa ada landasannya, bukan hanya itu saja, bahkan dalam kajiannya Khalid Basalamah mengatakan Orang Tua Nabi Muhammad SAW adalah orang Kafir yang berada didalam Neraka, lagi-lagi ia menjelaskan dengan nada congkak dan sombong bahwa bagaimana mungkin lafadz AB bisa dimaknai seorang Paman, seakan akan hanya dia yang menguasai bahasa Arab. Lucu kan? Apakah seperti ini yang dikatakan Majelis Ilmu (Taman Surga) wahai Saudara Abu Syuja’?” tanya Habib Moh Zain Bin Syuja’i.
Ia kemudian menganjak Abu Syuja’ untuk berpikir jernih. “Tapi tidak perlu anda jawab, sebab diatas hanyalah sedikit penjelasan adab dan etika dalam Majelis Ilmu sehingga Nabi mengatakan Majelis Ilmu adalah Taman Surga, yang didalamnya terdapat berbagai Ilmu Pengetahuan, mengalir barokah, serta menjadikan hati dan fikiran adem, tenang, jernih dan cerah,” katanya.
“Namun inti tanggapan saya adalah. Anda mengatakan Khalid Basalamah adalah Da’i Sunnah yang mencerahkan Ummat, bahkan anda menyamakan dengan Da’wah Baginda Nabi Muhammad SAW saat ditolak di Tho’if, waw wow waw sekali anda menyamakan Dakwah Nabi dengan Dakwah Khalid Basalamah, lancang dan berani sekali anda menyamakan Dakwah Nabi dengan Dakwah Basalamah, sehingga anda mengatakan Da’i Sunnah ditolak bukan hal yang baru, idzinkan saya tertawa 😀 😀 :D.”
Logika yang disampaikan Habib Moh Zain Bin Syuja’i memang dapat diterima. “Sungguh penyamaan ini adalah sebuah penghinaan kepada Nabi, pelecehan terhadap Nabi, karena sama saja anda mengatakan bahwa Nabi berdakwah dengan cara menyalahkan, mensyirikkan, bahkan mengkafirkan, marah dan sombong terhadap orang lain yang tidak mau mengikuti apa yang disampaikannya, padahal Faktanya ketika Nabi dilempari batu dan diusir dari Tho’if, seandainya Nabi marah maka tatkala itu Penduduk Thoif sudah Alloh timpa dengan kedua gunung yang ada dimakkah yaitu Gunung Abu Qubais dan yang di seberangnya, Gunung Qoiqo’an) terhadap penduduk Tho’if, lalu bagaimana dengan sikap Basalamah? Duh jauuuuuh sekali saudara Abu Syuja’ jauuuuuuhhhh, yang ada malah Maksa main Bom dan Teror karena kagak mau ikut Dakwah Wahbabi,” jelasnya.
“Lalu kemudian anda mengatakan bahwa Da’i Sunnah sangat mencintai Ahlul Bait / Dzurriah Nabi Muhammad SAW? Duh sebaiknya anda beli kaca lalu ngaca deh yah, sejarah kelam Wahhabi (yang anda sebut Da’i Sunnah) pada masa Syarif Husain dan Muhammad Bin Abdul Wahhab, Faktanya adalah pembantai para Ahlul Bait Nabi, pembunuh keji Ummat Islam yang berpaham Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah dengan alasan Musyrik, lalu anda mengaku para Da’i Sunnah mencintai Ahlul Baitin Nabi? Duh nggak usah sok romantis deh yah Abu Syuja,” tambanya.
Habib Moh Zain Bin Syuja’i juga menyinggung soal Mbah Hasyim. “Anda mengatakan sangat menghormati Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari salah satu Pendiri NU, bahkan anda katakan mengakui sebagai Ulama? gile lu brooo, Mbah Hasyim Asy’ari itu adalah salah satu Ulama yang paling menentang ajaran Wahhabi yang bro, bahkan KH Hasyim mengibaratkan Wahhabi itu ibarat daging busuk dibagian anggota tubuh yang WAJIB dipotong, paham kan maksudnya? Lalu bagaimana mungkin anda mengaku mencintai beliau dan mengakui beliau sebagai seorang Ulama sedang ama Banser saja yang baru menolak begitu saja kalian marahnya bukan main, belum lagi Amaliyah yang diajarkan KH Hasyim Asy’ari yang kalian Cap Syirik, Kafir dan Murtad, duh ngakunya jangan lebay gitu lah saudara Abu Syuja’.”
Masih dalam surat Habib Moh Zain Bin Syuja’i, “Terakhir anda mengatakan Islam cinta persatuan & kesatuan, perbedaan Fiqhiyah harusnya mampu menjadikan kita lebih arif & bijaksana dalam bersikap. “Maaf yah bro, anda ngimpi apa ngelindur? Bukankah golongan anda para Da’i Sunnah yang sedang anda bela, yang selama ini kerjaannya menyalahkan amaliyah orang lain, menuduh sesat, musyrik dan kafir, menjadikan perbedaan sebagai permusuhan, kok sekarang malah mengatakan demikian, apa karena kefefet ingin pembelaan?,” jelasnya.
“Saya tekankan pointnya yah saudara Abu Syuja’, Sahabat kami Ansor tetap berkomitmen akan menolak siapapun yang menebarkan kebencian, menanamkan permusuhan, berteriak anti NKRI yang membuat perpecahan, SAHABAT ANSOR bukan anti Majelis Ilmu, tapi Anti Majelis Jamu (ngoceh ra karuan, menanamkan permusuhan) semoga bisa dipahami,” demikian Habib Zain As-Syuja’i mengakhiri surat terbukanya. (hud)