Meme berisi foto Gus Yahya dan Haidar Nashir itu beredar di medsos. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Ketua Harian PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah), H Tjetjep Mohammad Yasien, yakin, terpilihnya Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) sebagai Ketua Umum PBNU, membuat hubungan NU-Muhammadiyah semakin kokoh.

“Saya sangat yakin, pertama menyimak jargon-jargon Gus Yahya dalam banyak kesempatan. Kedua, latar belakangnya sebagai kader HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang dekat dengan muhammadiyah. Ini menjadi modal kuat untuk memperkokoh NU-Muhammadiyah. Kalau hubungan NU-Muhammadiyah kokoh, selesai sudah masalah Indonesia,” terangnya kepada duta.co, Selasa (28/12/21).

Ketua Harian PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah), H Tjetjep Mohammad Yasien (FT/MKY)

Menurut Gus Yasein, selama ini, nyaris mustahil ada kader HMI bisa memimpin NU. Bahkan tidak sedikit, kader-kader terbaik yang harus minggir gara-gara tertuduh HMI. “Jangankan tingkatan PBNU, di jajaran bawah juga demikian. Banyak kader baik yang harus minggir karena stigma HMI, HTI. Ini stigma ngawur yang mereka pelihara untuk kepentingan pribadi. Dengan tampilnya Gus Yahya, saya yakin stigma itu akan hilang,” jelasnya.

Sekarang, jelasnya, warga NU sudah tidak zamannya membuat pertentangan HMI-PMII. NU sudah terbuka lebar demi kepentingan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

“Terpilihnya Gus Yahya, harus menjadi pintu besar keutuhan umat Islam. Dengan begitu, umat tidak mudah tergosok provokasi. Kalau umat Islam bersatu, maka, pengayoman terhadap non-muslim juga semakin kuat. Saya sendiri sebagai KAHMI menyambut baik terpilihnya kader NU dari HMI. In syaa Allah ini semakin merekatkan hubungan baik HMI dan PMII,” tambahnya.

Di sisi lain, lanjutnya, adalah istimewanya hubungan NU-Muhammadiyah.  Semua mafhum, Gus Yahya C Tsaquf yang terpilih menjadi Ketum PBNU, itu alumni UGM. Prof Dr KH Haedar Nashir (HN),  Ketum Muhammadiyah juga alumni UGM. Keduanya terikat hubungan keluarga dalam wadah KAGAMA, Keluarga Alumni Gajah Mada.

“Dampak positifnya, In syaa Allah ke bawah, membuat NU dan Muhammadiyah semakin mesra. Kalau HMI dan PMII bisa kolaborasi, hubungan NU dan Muhammadiyah semakin kokoh, saya yakin sembilan puluh persen persoalan Indonesia selesai, hanya tinggal sepuluh persen yang menjadi beban pemerintah sebagai penyelenggara Negara,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry