DEMI AHOK: Tampak Gus Nuril memberikan sambutan dalam acara Istighotsah Kebangsaan dengan memasang logo NU dan mendatangkan Ahok. Acara ini kemudian diprotes warga NU Jakarta dan daerah. (FT/youtube).
DEMI AHOK: Tampak Gus Nuril memberikan sambutan dalam acara Istighotsah Kebangsaan dengan memasang logo NU dan mendatangkan Ahok. Acara ini kemudian diprotes warga NU Jakarta dan daerah. (FT/youtube).

JAKARTA | duta.co – Lagi, nama KH Nuril Arifin Husein atau sering dipanggil Gus Nuril menjadi perbincangan. Kali ini soal ‘konsistensinya’ membela Ahok yang membuat warga NU terheran-heran. Betapa tidak, hanya untuk memenangkan Ahok, sampai tega memanipulasi fakta. Berani menyebut bahwa ayah KH Maimoen Zubair (Kiai Zubair) itu berasal dari Bangka Belitung, satu daerah dengan Ahok. “Kiai Zubair itu ada keturunan dari Aga Khan, yaitu saudaranya Kubilai Khan (Raja Mongolia),” kata Gus Nuril.

Cukup? Belum. Gus Nuril juga mengaku membawa pesan dari KH Maimoen Zubair. Katanya, Mbah Maimoen mengundang Ahok untuk sowan ke rumahnya. Kalau Ahok tidak datang, akan kuwalat. Yang lebih lucu lagi, Nuril sebagaimana ditulis situs kompas.com (6 Februari 2017) sebagai pendiri Banser. Berita kompas.com ini kemudian diralat setelah ada bantahan dari GP Ansor.

Karuan, pernyataan Gus Nuril ini banyak yang membantah. Tidak sedikit akun facebook yang tertawa dengan klaim-klaim dia. Apalagi setelah fotonya terpampang dalam istighotsah Ahok dengan memasang logo NU. Ada yang menyebut Gus Nuril telah ‘menjual habis’ NU untuk Ahok. Bahkan Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Gus Yaqut Kholil, juga ikut berkomentar atas ujaran Gus Nuril tersebut.

Wong iki pancen ngacau (orang ini memang mengacau) di mana-mana. Mosok dhekne (masak dia mengaku) pendiri Banser? Ning ndi-ndi yo ngaku (di mana-mana selalu mengaku) panglima Banser. Ora jelas kapan melu (tidak jelas kapan mengikuti) Diklatsare. Wis tahu diperingatke (sudah pernah diingatkan) , tapi isih ndableg ae (tapi masih bandel saja). Iki menowo bakal dadi peringatan terakhir kanggo dhekne (barangkali ini menjadi peringatan terakhir bagi dia). Warga NU kudu paham lan ngerti sopojan-jane wong iki (warga NU harus tahu siapa sesungguhnya dia). Ben ora angger manut (biar tidak sembarang ikut),” terang Gus Yaqut sebagaimana ditulis dutaislam.com.

Ketua Umum GP Ansor ini juga merasa perlu mengklarifikasi bahwa Gus Nuril bukanlah pendiri Banser sebagaimana ditulis kompas.com. Dan yang bersangkutan tidak memiliki otoritas apa pun atas institusi dan personel Banser. Lucunya dalam laporan berita yang ditulis oleh media online Kompas dan Tribun (kini sudah diralat), Gus Nuril disebut sebagai Pendiri Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Identitas itu ditulis untuk melengkapi berita berjudul “Pendiri Banser NU Sebut Banyak Orang Mendadak NU, Banyak Memprovokasi NU” yang dimuat pada Senin (06/02/2017).

Logikanya tidak ketemu. Jika Gus Nuril pada tahun 1937 sudah lahir procot, langsung gedhe (besar) dan mendirikan Banser, mestinya umurnya sekarang sudah 80 tahun. Padalah Ia lahir di Gresik 12 Juli 1959 (sekarang 57 tahun). Jadi? Ketika ia masih bayi, Banser sudah berusia 22 tahun. Itu pun jika dirunut nama Bansernya. Lalu dari mana dalilnya, Gus Nuril disebut sebagai pendiri Banser?

Apalagi jauh sebelum itu, Banser sejatinya adalah embrio Hizbullah pasca NU berdiri 1926. Jadi, menyebut Gus Nuril sebagai pendiri Banser adalah lucu, asumsi yang tidak merujuk fakta. Begitu pula, menyebut dia sebagai panglima Banser. “Kapan dia ikut Diklatsar?” begitu tanya Gus Yaqut.

Soal Gus Nuril menyebut KH Maimoen Zubair masih keturunan Tionghoa sehingga Ahok, katanya, sudah seharusnya sowan ke Mbah Moen agar tidak kuwalat, ini juga menyesatkan.

“Kaitanya dengan Simbah KH Zubair bin Dahlan, saya yaqin saudara saya H Nuril tidak paham dengan sejarah Sarang. Memang di Sarang ada dukuh namanya Blitung dan dekat dukuh Gondan. Dua-duanya masuk desa Kalipang. Mbah Zubair lahir di dukuh Gondan,” demikian Gus Yaqut. (hud)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry