(DUTA.CO/MKY)

PEKALONGAN | duta.co – Keras! KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), cucu pendiri NU (Almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari) memberikan warning keras soal politisasi Ormas NU. Setelah membaca catatan-catatan M Subhan SD bertajuk “Bangsa Mati di Tangan Politikus”, Gus Solah merasakan hal yang sama di NU.

“Kalau tulisan Subhan berjudul ‘Bangsa Mati di Tangan Politisi’, menurut saya ‘NU Mati di Tangan Politisi’,” tegas Gus Solah disambut tepuk tangan ratusan peserta halaqah ke-9 yang digelar Komite Khitthah 1926 NU (KK-26 NU) di Gedung Pertemuan Batik Pekajangan, Kedungwuni, Pekalongan, Jateng, Rabu (17/7/2019).

Menurut Gus Solah, NU harus dikembalikan kepada maqomnya civil society, keummatan, membela rakyat sipil. Ini yang harus diperankan NU sebagai Ormas Islam, ormas keagamaan. NU harus berssama-sama dengan dunia kampus, akademisi, profesional.

“Dalam konteks Indonesia, adalah NU dan Muhammadiyah. Muhamamdiyah itu masih setia berada di  masyarakat sipil. Sementara NU di tengah, satu kaki di masyarakat sipil, satu kaki di politik. Dan ingat! NU tidak boleh menjadi alat partai. Ini tugas bapak-bapak semua,” tegasnya.

Moderator halaqah ke-9, Prof Nasihin Hasan juga mengaku kaget dengan sikap tegas Gus Solah ini. Menurut Prof Nasihin, setidaknya tiga tahun sudah, warga NU digelisahkan, dan dibingungkan oleh gerakan politisasi organisasi (NU) yang dilakukan pengurus NU.

Ketika diberi kesempatan menyampaikan aspirasi, peserta halaqah pun memanfaatkan forum ini dengan berbagai keseriusan. KH Malik Said misalnya, langsung mengusulkan agar ada gerakan konkret untuk menyudahi politisasi jamiyah NU ini.

“Saatnya kita bekerja keras untuk mengembalikan NU ke jalurnya, khitthah. Jadi bagaimana caranya muktamar 34 nanti, terpilih pemimpin NU yang bisa menjaga khitthah,” tegasnya. (mky)