
Oleh Bey Arifin*
WAJAR! Kalau ada oknum yang merasa tertanggu dengannya. Ini lantaran Nahdlatul Ulama tidak sekedar mencari seorang ketua. NU sekarang membutuhkan seorang pemimpin yang mampu membaca perubahan zaman, memahami akar sejarah, menjaga tradisi keulamaan, sekaligus membawa jamâiyah memasuki masa depan dengan penuh percaya diri.
Dalam konteks itulah sosok KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin layak dibaca sebagai salah satu figur pemimpin visioner dalam bursa Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35. Pencalonannya bukan semata lahir dari ambisi personal. PWNU Jawa Timur secara resmi menugaskan Gus Kikin, setelah melalui proses konsolidasi internal dan memperoleh dukungan dari PCNU se-Jawa Timur.
Di sinilah letak menariknya kepemimpinan Gus Kikin: memimpin bukan karena mengejar jabatan, tetapi bersedia menerima amanah ketika organisasi memintanya. Sikap semacam ini penting bagi NU. Sebab, jabatan dalam tradisi pesantren bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan beban khidmah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan umat, organisasi, dan Allah SWT.
Pemimpin visioner bukan hanya orang yang mampu melihat jauh ke depan. Ia juga harus tahu dari mana NU berasal. Masa depan NU tidak boleh dibangun dengan memutus mata rantai sejarahnya. Modernisasi organisasi harus berjalan bersama penguatan tradisi keilmuan, sanad ulama, adab, Aswaja, dan nilai-nilai yang diwariskan para muassis.
Karena itu, gagasan Gus Kikin untuk memperkuat kembali Qanun Asasi menjadi penting. Qanun Asasi bukan sekadar dokumen sejarah, tetapi dapat menjadi kompas moral dan organisatoris agar NU tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. Gus Kikin sendiri menyampaikan pentingnya penguatan Qanun Asasi dalam agenda pencalonannya.
Visioner berarti mampu mempertemukan akar dan masa depan. NU tidak boleh menjadi organisasi yang hanya sibuk mengenang masa lalu, tetapi juga tidak boleh menjadi organisasi yang kehilangan jati diri karena terlalu mengejar masa depan.
NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjadikan pesantren sebagai sumber inspirasi, teknologi sebagai instrumen, ekonomi sebagai kekuatan kemandirian, pendidikan sebagai investasi peradaban, dan politik kebangsaan sebagai ruang pengabdian bukan sebagai arena perebutan kepentingan.
Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, NU juga membutuhkan kepemimpinan yang mampu melakukan transformasi organisasi. Struktur NU harus kuat dari pusat hingga ranting. Data harus akurat. Kaderisasi harus terukur. Pendidikan harus adaptif. Ekonomi warga harus diperkuat. Dakwah harus mampu masuk ke ruang digital tanpa kehilangan kedalaman keilmuan.
Di sinilah seorang pemimpin visioner diuji: bukan pada seberapa banyak gagasan yang dapat diucapkan, tetapi pada seberapa jauh gagasan tersebut mampu diterjemahkan menjadi kebijakan dan kerja nyata.
Gus Kikin memiliki modal penting untuk itu: pengalaman memimpin PWNU Jawa Timur, pengalaman dalam struktur NU, latar belakang pesantren Tebuireng, serta kedekatan dengan tradisi keilmuan yang diwariskan Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asyâari.
Namun, modal terbesar seorang pemimpin bukanlah popularitas. Modal terbesar adalah integritas.
Muktamar NU bukan sekadar kompetisi mendapatkan suara. Muktamar adalah momentum memilih arah perjalanan jamâiyah. Karena itu, prosesnya harus berlangsung dengan adab, jujur, terbuka, bermartabat, dan jauh dari praktik yang merusak marwah organisasi.
Gus Kikin sendiri pernah menegaskan kesiapannya untuk dipilih maupun tidak dipilih serta tidak menghendaki pencalonan ditempuh dengan cara-cara yang menghalalkan segala cara. Sikap semacam ini penting karena NU tidak boleh kehilangan ruh pesantrennya hanya karena perebutan posisi struktural.
Pada akhirnya, pemimpin visioner bukan yang paling keras meneriakkan dirinya sebagai calon pemimpin, melainkan yang mampu membuat orang lain percaya bahwa masa depan NU dapat menjadi lebih baik.
Gus Kikin mempunyai kesempatan untuk menawarkan visi tersebut: mengembalikan NU kepada fondasi Qanun Asasi, memperkuat tradisi ulama, membangun organisasi yang profesional, memperkokoh kemandirian ekonomi,melakukan transformasi digital, memperkuat kaderisasi, dan menjadikan NU sebagai kekuatan peradaban yang tetap berakar pada pesantren.
Jika visi itu mampu diterjemahkan menjadi agenda konkret, terukur, dan konsisten, maka kepemimpinan Gus Kikin tidak sekadar berbicara tentang siapa yang menjadi Ketua Umum PBNU.
Lebih jauh dari itu, ia berbicara tentang NU seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab NU masa depan tidak cukup hanya besar secara jumlah.
NU harus kuat secara tradisi, tajam secara keilmuan, mandiri secara ekonomi, profesional dalam organisasi, matang dalam kebangsaan, dan beradab dalam menghadapi perbedaan.
Dan seorang pemimpin visioner adalah mereka yang mampu membawa NU menuju masa depan tanpa membuat NU kehilangan dirinya sendiri.



































