
“Munculnya kabar kesiapan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) untuk dipilih maupun tidak dipilih dalam Muktamar ke-35 NU mendatang, cukup melegakan.”

Oleh Bey Arifin*
ALHAMDULILLAH! Akhirnya menjelang konstelasi PBNU 2026–2031, muncullah nama KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Ini melegakan. Ia bukan sekadar pengasuh pesantren, melainkan simpul strategis yang menghubungkan tradisi, struktur, dan masa depan Nahdlatul Ulama.
Di tengah tarik-menarik kepentingan antara elite struktural, kekuatan pesantren, dan arus politik nasional, Gus Kikin hadir sebagai figur penyeimbang tenang, namun menentukan.
Tarik-Menarik Empat Poros
Peta PBNU hari ini bergerak dalam empat poros besar. Pertama, poros struktural yang masih dikendalikan oleh kepemimpinan Gus Yahya Cholil Staquf dan KH Miftachul Akhyar kuat secara organisasi, namun kerap dinilai berjarak dari basis kultural pesantren.
Kedua, poros pesantren tradisional warisan langsung dari Hadrotussyeh KH Hasyim Asy’ari yang menyimpan legitimasi keilmuan dan loyalitas akar rumput. Di sinilah Gus Kikin berdiri paling kokoh, dengan Tebuireng sebagai episentrum sejarah sekaligus simbol.
Ketiga, poros politik praktis yang bergerak cair mengikuti arus kekuasaan. Kuat secara logistik, namun kerap rapuh dalam legitimasi moral. Dan, keempat, poros intelektual muda dan digital penggerak wacana baru yang cepat, kritis, tapi belum sepenuhnya berakar pada basis tradisional.
Figur Tengah, Tidak Berisik, Tapi Menentukan
Di antara semua poros itu, Gus Kikin menempati posisi unik: bukan ekstrem mana pun, melainkan titik temu. Beliau kuat di pesantren. Beliau hadir di structural. Beliau memiliki akses ke jejaring ekonomi dan kekuasaan.
Namun yang paling menonjol bukan itu, melainkan gaya kepemimpinannya: kalem, tidak konfrontatif, tetapi sistematis. Dalam tradisi NU, model seperti ini justru menjadi penentu arah, bukan sekadar peserta kontestasi.
Antara Pemain Utama atau King Maker
Secara realistis, ada dua skenario besar. Pertama, Gus Kikin naik sebagai aktor utama. Syaratnya, Satu: Konsolidasi pesantren harus solid, terutama Jawa Timur sebagai jantung NU.
Kedua dan ini yang paling mungkin baginBeliau menjadi king maker: tidak selalu di depan, tetapi menentukan siapa yang berada di depan. Dalam tradisi NU, posisi kedua ini justru sering lebih kuat. Ia bekerja dalam senyap, namun menentukan hasil.
Ujian Sesungguhnya: Menyatukan Pesantren
Kunci masa depan Gus Kikin bukan pada popularitas atau jabatan, melainkan pada satu hal krusial: mampukah ia menyatukan fragmentasi pesantren menjadi kekuatan kultural yang terorganisir?
Jika berhasil, maka yang terjadi bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi kebangkitan kembali poros Tebuireng dalam skala nasional. Jika gagal, ia hanya akan menjadi satu dari sekian tokoh besar tanpa daya ungkit strategis.
Penutup
Dalam dinamika PBNU 2026–2031, pertarungan bukan sekadar soal kursi, melainkan arah NU ke depan: antara tradisi, modernitas, dan kekuasaan. Dan di tengah pusaran itu, Gus Kikin berdiri sebagai variabel kunci.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah ia akan tampil, melainkan: Seberapa besar kekuatan yang mampu ia satukan dan ke mana ia akan mengarahkan jamiyah Nahdlatul Ulama yang kita cintai ini.
*Bey Arifin adalah Pengurus IKAPETE Jombang






































