
Oleh: Andi Jamaro Dulung, Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi PB IKA PMII
KONON, perseteruan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Muhaimin Iskandar (Gus Imin) sudah dimulai jauh sebelum keduanya mengenal partai, jabatan, muktamar, dan kekuasaan.
Mulainya sederhana: rebutan gundu alias kelereng.
Keduanya memang bukan orang lain. Gus Ipul lahir pada 1964, Gus Imin pada 1966. Mereka tumbuh di lingkungan keluarga besar Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, yang didirikan KH. Bisri Syansuri, salah seorang muassis NU.
Ibu keduanya bersaudara kandung. Jadi Gus Ipul dan Gus Imin adalah sepupu pertama dan sama-sama cicit Kiai Bisri.
Konon, ketika kecil keduanya sering berebut mainan, termasuk gundu, sampai terkadang harus dilerai pamannya, KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Tentu ini anekdot keluarga, bukan teori ilmu politik.
Tetapi politik memang kadang punya selera humor.
Anak-anak tumbuh dewasa. Gundunya berganti. Dahulu kelereng, kemudian berubah menjadi partai, jabatan, jaringan, pengaruh, dan kekuasaan. Yang tampaknya tetap adalah semangat berebutnya.
Dari Gundu ke PKB
Salah satu pertandingan paling seru terjadi di PKB pada awal 2000-an. Pada Januari 2002, konflik PKB yang sebelumnya menempatkan Matori Abdul Djalil sebagai Ketua Umum dan Muhaimin Iskandar sebagai Sekretaris Jenderal berujung pada forum luar biasa di Yogyakarta.
Hasil kontestasinya: Alwi Shihab menang, Saifullah Yusuf urutan kedua, dan saya, Andi Jamaro Dulung, urutan ketiga.
Konfigurasi berikutnya menempatkan Alwi Shihab sebagai Ketua Umum dan Gus Ipul sebagai Sekretaris Jenderal. Gus Imin yang sebelumnya menjadi Sekjen tiba-tiba kehilangan posisi strategis dan kendali terhadap partai yang ikut dibesarkannya.
Gundu itu semakin mahal. Dulu kalah bermain kelereng paling-paling pulang sambil manyun. Dalam politik, kalah bisa berarti kehilangan jabatan, jaringan, dan kendali kekuasaan.
Bergulir ke Muktamar NU
Jejak rivalitas tersebut kemudian ikut terasa dalam dinamika Muktamar ke-35 NU di Jombang. Tentu terlalu sederhana jika seluruh dinamika Muktamar direduksi menjadi Gus Ipul versus Gus Imin. Banyak kiai, pesantren, PWNU, PCNU, serta berbagai kepentingan dan jaringan yang terlibat.
Namun juga terlalu naif jika kita berpura-pura tidak melihat persilangan jaringan politik di dalamnya. Yang menjadi soal, simbol PMII dan HMI kemudian ikut ditarik ke gelanggang.
Padahal sejarah keduanya tidak sesederhana pertandingan tinju. Ketua Umum pertama PB PMII, almarhum Mahbub Djunaidi, memiliki persinggungan historis dengan HMI sebelum menjadi figur utama PMII.
PMII dan HMI adalah organisasi kaderisasi, bukan pasukan cadangan setiap kali elite sedang berebut gundu.
Mereka Tetap Sepupu
Di tengah kerasnya pertarungan, para pendukung kadang melupakan satu fakta sederhana: Gus Ipul dan Gus Imin tetap saudara sepupu. Ibu mereka bersaudara kandung.
Partai bisa pecah. Koalisi berubah. Jabatan datang dan pergi. Lawan hari ini bisa menjadi kawan besok pagi. Tetapi sepupu tetap sepupu.
Jadi jangan kaget kalau suatu hari keduanya kembali duduk bersama, bersalaman, berpelukan, minum kopi, lalu tertawa mengenang masa kecil ketika masih berebut gundu di Denanyar. Selesai. Namanya juga saudara.
LALU, ROMLI DAPAT APA?
Nah, persoalan sesungguhnya justru ada pada orang-orang yang ikut berbaris di belakang mereka. Sebut saja semuanya: Romli. Ada Romli kubu Gus Ipul. Ada Romli kubu Gus Imin.
Ada yang ikut karena keyakinan, persahabatan, organisasi, jabatan, patronase, bahkan mungkin ada yang sebenarnya tidak tahu gundu siapa yang diperebutkan tetapi telanjur ikut berteriak.
Romli kemudian saling sindir, saling serang, keluar grup WhatsApp, bikin grup tandingan, bahkan bisa merusak persahabatan. Padahal Gus Ipul dan Gus Imin mempunyai jalan keluar paling sederhana: mereka keluarga.
Besok kalau berdamai, tinggal salaman. Kalau kurang afdal, pelukan. Kalau masih kurang, makan bersama di Denanyar.
Lalu Romli? Romli yang telanjur memblokir nomor temannya bagaimana? Romli yang telanjur bermusuhan bagaimana? Romli yang sudah menulis puluhan status menyerang kubu sebelah bagaimana?
Inilah ironi politik patronase: elite bertengkar memakai kalkulator, pengikut bertengkar memakai perasaan. Ketika kalkulasinya berubah, elite bisa segera berdamai. Perasaan Romli belum tentu.
JANGAN JADIKAN NU GUNDU
Karena itu, pelajaran terpentingnya bukan soal siapa yang menang. Gus Ipul boleh punya jaringan. Gus Imin juga boleh punya jaringan. Alumni PMII dan HMI bebas mempunyai pilihan politik. Tetapi jangan jadikan NU sebagai gundu raksasa yang diperebutkan. NU bukan milik Gus Ipul. Bukan milik Gus Imin. Bukan milik satu partai atau kelompok alumni.
NU adalah amanah para muassis, termasuk KH. Bisri Syansuri—leluhur dari dua tokoh yang sedang kita bicarakan. Dan kepada para Romli di semua kubu, ada nasihat sederhana: jangan terlalu serius ikut bertengkar.
Sebab orang yang kita bela mati-matian hari ini, besok pagi mungkin sudah ngopi bersama dengan orang yang kita maki-maki. Apalagi kalau keduanya saudara sepupu.
Pada akhirnya, Gus Ipul dan Gus Imin mungkin kembali ke Denanyar, duduk bersama dan tertawa mengenang masa ketika gundu masih benar-benar berupa kelereng.
Sedangkan Romli? Bisa jadi masih sibuk berdebat di grup WhatsApp tentang siapa pemilik gundu yang sah. Maka biarlah elite berebut gundu politik. Tetapi jangan jadikan NU sebagai gundunya, dan jangan biarkan Romli menjadi kelereng yang dimainkan elite. (*)




































