Oleh: Makmur Idrus,
Aktivis NU dan Sesepuh GP Ansor Sulawesi Selatan

INDONESIA terlalu luas untuk dirawat dengan hubungan yang hanya bertumpu pada jabatan, daerah asal, atau kepentingan sesaat. Dari Aceh hingga Papua, bangsa ini membutuhkan kesediaan untuk saling mengenal, mendengar, dan menghargai.

Salah satu pengikatnya adalah persahabatan.

Itulah yang terlintas ketika saya menulis tentang Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul. Selama puluhan tahun mengenalnya, ada sesuatu yang berkesan bagi saya: kemampuannya menjaga hubungan dengan sahabat-sahabat yang ditemuinya dalam perjalanan organisasi.

Jabatan menjadi bagian dari perjalanan itu. Namun, persahabatan mempunyai ukuran waktunya sendiri. Ia dapat bertahan jauh setelah sebuah kepengurusan berakhir dan orang-orang berpindah tempat pengabdian.

Saya mengenal Gus Ipul melalui lingkungan GP Ansor. Hubungan kami tumbuh dalam perjumpaan antara kader daerah dan pimpinan nasional. Ketika itu, tentu tidak ada yang bisa memastikan bahwa komunikasi tersebut akan terus terpelihara hingga puluhan tahun kemudian.

Forum organisasi mempertemukan kami dengan kader dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka datang membawa logat, kebiasaan, pengalaman, dan persoalan daerah masing-masing. Dalam pertemuan itulah kami belajar bahwa Indonesia jauh lebih beragam daripada lingkungan tempat kami sehari-hari bergaul.

Setelah forum selesai, peserta kembali ke daerahnya. Akan tetapi, perkenalan tidak harus ikut selesai. Ada percakapan yang berlanjut, kabar yang saling ditanyakan, dan persaudaraan yang perlahan tumbuh.

Bagi saya, hubungan semacam itulah salah satu hasil berharga dari berorganisasi.

Dalam organisasi nasional, jarak pusat dan daerah tidak selalu berupa kilometer. Ada pula jarak perasaan: apakah kader di daerah merasa didengar, dihargai, dan dilibatkan.

Indonesia bukan hanya Jakarta. NU bukan hanya Jawa. Ansor juga hidup melalui pengabdian kader-kader di kabupaten, pulau kecil, kawasan pesisir, pegunungan, dan kampung-kampung yang jauh dari sorotan media.

Mereka menggerakkan kegiatan, menjaga hubungan dengan masyarakat, dan menghidupkan organisasi dengan kemampuan yang tersedia. Tidak semua meminta kedudukan. Ada yang cukup merasa dikuatkan ketika kabarnya ditanyakan dan pekerjaannya mendapat perhatian.

Dalam pengalaman saya, Gus Ipul mampu menjaga keakraban itu. Ketika bertemu, asal daerah tidak menjadi penghalang untuk berbicara sebagai sahabat. Kesan serupa juga saya dengar dari sahabat-sahabat di luar Jawa.

Pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa struktur nasional perlu disertai rasa kebersamaan yang menjangkau seluruh daerah. Kader harus merasa menjadi bagian dari keluarga yang sama, termasuk ketika tidak sedang berlangsung kongres, konferensi, atau muktamar.

Orang daerah jangan hanya dicari ketika suaranya dibutuhkan. Hubungan perlu tetap dirawat setelah pemilihan selesai, ketika panggung dibongkar dan para peserta kembali menjalani kesibukan masing-masing.

Di situlah ketulusan memperoleh ujiannya.

Kita mengenal gejala yang kadang mengundang senyum dalam kehidupan organisasi. Saat seseorang menjabat, teleponnya ramai, pesan berdatangan, dan undangan bertumpuk. Begitu masa jabatan berakhir, teleponnya seolah ikut menerima surat pensiun.

Karena itu, saya menghargai komunikasi yang tetap terpelihara bersama Gus Ipul. Zaman berubah, kesibukan bertambah, dan posisi kami berbeda. Namun, ketika bertemu, kami masih dapat berbicara sebagai sahabat lama.

Pengalaman pribadi itulah yang membuat saya menyebutnya “sahabat tanpa batas”: persahabatan yang tetap memberi ruang bagi keakraban di tengah perbedaan kedudukan, wilayah, dan perjalanan hidup.

Tentu, persahabatan juga memerlukan kejujuran. Kedekatan pribadi tidak menghapus tanggung jawab publik seseorang. Kebijakan tetap patut dinilai berdasarkan manfaatnya bagi masyarakat. Sahabat pun perlu bersedia mendengar kritik dan mengingatkan apabila ada yang keliru.

Justru hubungan yang dewasa memungkinkan perbedaan disampaikan tanpa saling merendahkan. Kita dapat menjaga keakraban sekaligus mempertahankan sikap.

Nilai semacam ini relevan bagi kehidupan kebangsaan kita. Perbedaan pilihan politik, organisasi, dan pandangan sering membuat orang enggan mendengar satu sama lain. Percakapan berhenti sebelum penjelasan selesai. Identitas kelompok kadang lebih cepat dinilai daripada isi pikiran seseorang.

Dalam pengalaman bergaul di lingkungan NU, saya menemukan kebiasaan sederhana yang patut dipelihara: datang, duduk, ngopi, bercerita, berdebat, lalu tetap makan bersama.

Perbedaan tidak selalu selesai dalam satu pertemuan. Namun, kesediaan untuk kembali bertemu membuat hubungan tetap terbuka. Kadang secangkir kopi memberi ruang bicara yang tidak sempat muncul dalam rapat berjam-jam.

Bagi generasi muda Ansor dan NU, forum organisasi menyediakan kesempatan besar untuk membangun hubungan seperti itu. Hadirilah kongres dengan perhatian pada masa depan organisasi, sekaligus dengan kesediaan memperbanyak saudara.

Kenallah kader dari Papua. Dengarkan pengalaman sahabat di Kalimantan dan Maluku. Pelajari tantangan saudara-saudara di Nusa Tenggara, Sumatera, Sulawesi, dan Jawa. Dari mereka, kita dapat memahami persoalan Indonesia melalui pengalaman orang yang menjalaninya.

Rawatlah perkenalan itu setelah pulang. Jangan menunggu ada pemilihan berikutnya untuk kembali menanyakan kabar.

Pada akhirnya, jabatan akan selesai dan kursi akan berganti pemilik. Yang tinggal dalam ingatan orang adalah bagaimana kita memperlakukannya: apakah kita mendengar ketika ia berbicara, hadir ketika dibutuhkan, dan tetap menyapa ketika tidak ada kepentingan yang hendak diperjuangkan.

Bagi saya, itulah makna Gus Ipul, sahabat tanpa batas.

Sebuah kesaksian pribadi tentang hubungan yang terpelihara, sekaligus harapan agar persaudaraan antardaerah terus tumbuh. Sebab, ketika persahabatan membuat kita lebih peduli kepada kehidupan sesama, ia turut menjadi kekuatan untuk merawat Indonesia.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry