
“Jangan hanya menjadi penonton perubahan. Jadilah generasi yang menentukan arah perubahan.”
CATATAN PERADABAN
Oleh: Dr. H. ROMADLON SUKARDI, MM*
ADA sebuah kesadaran baru yang sedang tumbuh di tubuh Nahdlatul Ulama. Kesadaran bahwa zaman telah berubah. Bukan sekadar berubah dari zaman analog menuju digital, dari televisi menuju YouTube, dari koran menuju media sosial, atau dari mimbar menuju podcast. Yang sedang berubah adalah panggung peradaban itu sendiri.
Dan di tengah perubahan itulah nama Gus Ipang Wahid menjadi menarik untuk diperbincangkan.
H. Irfan Asy’ari Sudirman Wahid, yang akrab dipanggil Gus Ipang, bukan sekadar putra keluarga besar Tebuireng. Ia adalah putra almarhum KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), cucu KH Abdul Wahid Hasyim, sekaligus cicit Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Dengan demikian, ia berada pada generasi keempat dalam garis keturunan Hadratussyaikh.
Namun yang membuat sosok Gus Ipang penting bukan semata-mata karena garis darahnya. Yang menarik adalah bagaimana ia membaca masa depan. Ia datang dari tradisi pesantren, tetapi bekerja di dunia kreatif. Ia berasal dari keluarga ulama, tetapi memahami bahasa branding. Ia tumbuh dalam kultur NU, tetapi mengerti bagaimana algoritma bekerja. Ia mengenal tradisi, tetapi tidak alergi terhadap teknologi. Dan mungkin justru di situlah letak relevansinya bagi NU abad kedua.
Dari Panggung Mimbar ke Panggung Digital
Dulu, kekuatan dakwah berada di mimbar. Kiai berbicara, jamaah mendengarkan. Pengaruh dibangun melalui pengajian, majelis taklim, madrasah, pesantren, radio dan televisi.
Tetapi hari ini, seorang anak muda bisa membuka telepon genggamnya dan dalam hitungan detik bertemu dengan jutaan informasi. Ia bisa belajar agama melalui YouTube, mendapatkan nasihat melalui TikTok, mengenal tokoh melalui Instagram, membentuk opini melalui podcast, bahkan bertanya kepada kecerdasan buatan.
Inilah ruang kehidupan generasi baru. Karena itu Gus Ipang sejak beberapa tahun lalu sudah mengingatkan bahwa NU harus merangkul generasi muda yang melek digital. Pada 2021 ia bahkan menyebut bahwa era ke depan adalah era milenial, transformasi digital, kewirausahaan, dan pemberian manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Ia juga menegaskan pentingnya dakwah digital.
Hari ini, gagasan tersebut mendapatkan momentum baru. Dalam struktur PBNU masa khidmah 2026-2031, Gus Ipang mendapat amanah sebagai Wakil Ketua Umum VII bidang Digital Native, Teknologi, Budaya, dan Komunikasi. Ini bukan sekadar pembagian jabatan. Saya melihatnya sebagai sinyal zaman. Bahwa NU mulai menyadari, masa depan organisasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menguasai podium, tetapi juga oleh siapa yang mampu menguasai ekosistem digital.
“Anak Muda Jangan Hanya Menjadi Audience”
Gagasan Gus Ipang yang paling menarik bagi saya adalah keberaniannya melihat anak muda bukan sebagai objek komunikasi, tetapi sebagai subjek perubahan. Ini penting. Selama ini banyak organisasi berbicara kepada anak muda. Gus Ipang ingin lebih jauh: anak muda harus diberi ruang untuk berbicara, menjadi kreator, menjadi komunikator, menjadi produsen pengetahuan, menjadi pembangun narasi, menjadi pembuat konten, menjadi penguasa teknologi, dan yang paling penting, mampu membawa nilai-nilai NU ke dalam bahasa zamannya.
Dalam forum-forum yang diikutinya, Gus Ipang berulang kali menekankan bahwa NU dan pesantren harus hadir di ruang Gen Z dan Gen Alpha. Sebab kalau anak muda hidup di TikTok, Instagram, YouTube, podcast dan ruang digital lainnya, maka dakwah tidak mungkin terus-menerus hanya menunggu mereka datang ke ruang konvensional. Dakwah harus datang ke tempat mereka berada.
Bukan Mengubah NU, Tetapi Mengubah Cara NU Hadir
Ini bagian yang menurut saya sangat penting. Transformasi digital tidak berarti NU harus meninggalkan tradisi. Justru sebaliknya. Tradisi harus diberi kendaraan baru agar mampu berjalan menuju masa depan. Kitab kuning tetap kitab kuning. Pesantren tetap pesantren. Tawadhu tetap tawadhu. Adab tetap adab. Ahlussunnah wal Jamaah tetap menjadi fondasi. Tetapi cara menyampaikannya tidak harus selalu sama.
Inilah yang disebut Gus Ipang sebagai kebutuhan untuk membuat NU lebih related dengan zaman. Ia bahkan mendorong rebranding dan repositioning media NU serta pendekatan budaya pop agar NU lebih dekat dengan Gen Z dan Gen Alpha. Menurutnya, budaya tidak boleh hanya menjadi romantisme masa lalu, tetapi harus ikut membentuk masa depan.
Saya kira ini adalah cara berpikir yang sangat penting. Tradisi tanpa adaptasi bisa menjadi museum. Tetapi adaptasi tanpa tradisi bisa kehilangan identitas. Maka NU membutuhkan keduanya: akar yang kuat dan sayap yang panjang.
Dari Santri Penghafal Kitab Menjadi Santri Pengendali Algoritma
Saya membayangkan satu frase baru untuk pesantren masa depan: “Santri bukan hanya melek kitab, tetapi juga melek algoritma.”
Santri tidak cukup hanya memahami bagaimana membaca teks. Ia juga harus memahami bagaimana teks dibaca oleh masyarakat digital. Santri harus mengerti komunikasi, mengerti desain, mengerti video, mengerti artificial intelligence, mengerti data, mengerti ekonomi digital, mengerti keamanan informasi, mengerti bagaimana hoaks bekerja, mengerti bagaimana algoritma membentuk opini. Dan tetap: mengerti adab.
Karena teknologi tanpa moral bisa menjadi alat manipulasi. Tetapi moral tanpa penguasaan teknologi akan kesulitan menjangkau dunia. Gagasan ini semakin terlihat dalam agenda Gus Ipang di PBNU. Ia mendorong transformasi digital pesantren agar santri tidak hanya kuat dalam agama, tetapi juga memiliki keilmuan aplikatif. Bahkan program Talent DNA santri telah diuji coba di Pesantren Tebuireng.
Di titik inilah saya melihat sebuah paradigma baru: Pesantren tidak boleh menjadi museum masa lalu. Pesantren harus menjadi laboratorium masa depan.
AI: Ancaman atau Amanah?
Kita sedang memasuki zaman yang mungkin belum pernah dibayangkan oleh generasi pendiri NU. Artificial Intelligence. AI bukan lagi cerita masa depan. Ia sudah berada di tangan anak-anak kita. Mereka menggunakannya untuk mencari informasi, membuat gambar, menulis, belajar, bekerja, bahkan membentuk opini.
Gus Ipang mengingatkan bahwa perkembangan AI berlangsung sangat agresif dan NU harus masuk ke dalam ranah tersebut agar tidak tertinggal. Bagi saya, ini bukan sekadar persoalan teknologi. Ini persoalan kedaulatan peradaban. Pertanyaannya bukan: “Apakah NU siap menggunakan AI?” Pertanyaan yang lebih besar adalah: “Apakah NU siap ikut menentukan bagaimana AI digunakan oleh generasi muda Muslim Indonesia?” Karena kalau tidak, teknologi akan membentuk generasi. Tetapi kalau NU hadir, maka nilai dapat ikut membentuk teknologi.
NU Harus Mempunyai Generasi Digitalnya Sendiri
Saya membayangkan suatu hari nanti NU memiliki: 100.000 santri content creator, 10.000 digital preacher, 1.000 ahli AI dari pesantren, 1.000 startup berbasis nilai Islam dan pesantren, 1.000 media digital Nahdliyin yang profesional, dan jutaan anak muda NU yang tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi menjadi produsen narasi peradaban.
Inilah yang saya kira menjadi salah satu makna terdalam dari gagasan Gus Ipang. Bukan sekadar membuat NU viral. Bukan sekadar mengejar jumlah followers. Bukan sekadar membuat konten yang banyak ditonton. Tetapi: mengubah jumlah warga NU menjadi kekuatan sumber daya manusia dan kekuatan narasi peradaban.
Dari “Ojo Dadi Penonton” Menuju “Dadi Pemain”
Ada ungkapan Jawa yang sederhana: “Ojo mung dadi penonton.” Jangan hanya menjadi penonton. Dalam konteks digital, kalimat ini memperoleh makna baru. Jangan hanya menonton TikTok. Jangan hanya menonton YouTube. Jangan hanya scrolling Instagram. Jangan hanya memberikan komentar. Jangan hanya menjadi konsumen algoritma. Tetapi: jadilah pembuat konten, jadilah pembuat gagasan, jadilah pembangun narasi, jadilah penggerak perubahan, jadilah penjaga akhlak di ruang digital.
Anak muda NU harus naik kelas: dari audience menjadi creator, dari follower menjadi leader, dari consumer menjadi producer.
Gus Ipang dan “DNA Peradaban” Keluarga Wahid
Ada sesuatu yang menarik jika kita membaca perjalanan Gus Ipang dalam perspektif sejarah keluarga. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mendirikan NU dalam konteks zamannya. KH Abdul Wahid Hasyim membawa NU memasuki ruang pendidikan, kebangsaan dan kenegaraan. Gus Dur membawa gagasan demokrasi, pluralisme, kemanusiaan dan keterbukaan ke panggung nasional bahkan global. Gus Sholah memperkuat pesantren, pendidikan, kemanusiaan dan Tebuireng. Dan kini Gus Ipang bergerak pada ruang yang berbeda: ruang digital, komunikasi, budaya kreatif dan teknologi.
Tentu kita tidak sedang mengatakan bahwa mereka memiliki gagasan yang sama. Tidak. Zamannya berbeda. Tantangannya berbeda. Panggungnya berbeda. Tetapi ada satu benang merah: kemampuan membaca zaman. Hasyim Asy’ari membaca zaman kolonial. Wahid Hasyim membaca zaman pembentukan negara. Gus Dur membaca zaman demokratisasi dan globalisasi. Gus Sholah membaca zaman transformasi pesantren. Dan Gus Ipang kini membaca: zaman algoritma.
Kembali ke Jombang, Bukan untuk Bernostalgia
Ada ungkapan Gus Ipang yang sangat menarik ketika berbicara tentang Muktamar NU ke-35 di Tambakberas. Menurutnya, kembali ke Jombang tidak boleh hanya menjadi nostalgia. Jombang harus menjadi titik pijak untuk melakukan lompatan menuju masa depan. Saya sangat sepakat. Sebab peradaban tidak dibangun dengan cara terus-menerus melihat kaca spion. Sejarah adalah akar. Tetapi masa depan adalah tujuan.
Maka ketika NU kembali berkumpul di tanah kelahiran para pendirinya, pertanyaan terpenting bukan hanya: “Apa yang telah dilakukan NU selama satu abad?” Tetapi: “Apa yang akan dilakukan NU untuk seratus tahun berikutnya?” Dan salah satu jawabannya mungkin berada di tangan generasi digital NU.
*Dari Tebuireng ke TikTok, dari Kitab Kuning ke Artificial Intelligence*
Bayangkan suatu hari seorang santri Tebuireng membaca kitab kuning pada pagi hari. Siangnya ia belajar coding. Sore ia berdiskusi tentang geopolitik. Malam ia membuat podcast. Besoknya ia menggunakan AI untuk menerjemahkan khazanah Islam ke berbagai bahasa dunia. Ia tidak meninggalkan pesantren. Ia justru membawa pesantren ke dunia.
Inilah transformasi yang sesungguhnya. Bukan mengganti pesantren dengan teknologi. Tetapi menggunakan teknologi untuk memperluas manfaat pesantren.
Catatan Peradaban
Gus Ipang mungkin sedang mengajak NU melakukan sesuatu yang sederhana tetapi sangat fundamental: mengubah cara memandang anak muda. Jangan melihat Gen Z sebagai generasi yang harus terus-menerus dinasihati. Lihat mereka sebagai generasi yang bisa diberi amanah. Jangan hanya mengatakan bahwa anak muda harus mengikuti NU. Buatlah NU cukup relevan sehingga anak muda merasa: “NU adalah rumah saya.” Jangan hanya membuat program untuk anak muda. Libatkan anak muda dalam merancang program. Dan jangan hanya berbicara tentang masa depan anak muda. Berikan anak muda kesempatan untuk ikut menentukan masa depan.
Mungkin inilah pesan terbesar Gus Ipang: “Saatnya anak muda NU tidak hanya hadir di panggung digital, tetapi mengambil alih panggung digital dengan ilmu, kreativitas, teknologi, akhlak, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.”
Sebab perang peradaban hari ini tidak selalu berlangsung dengan senjata. Ia berlangsung melalui: narasi, algoritma, budaya, informasi, dan siapa yang mampu memengaruhi pikiran generasi berikutnya.
Karena itu, kalau NU ingin tetap menjadi kekuatan peradaban pada abad kedua, maka NU tidak cukup hanya mempunyai jutaan jamaah. NU membutuhkan jutaan manusia yang berkualitas. Tidak cukup mempunyai banyak pesantren. NU membutuhkan pesantren yang menjadi pusat inovasi. Tidak cukup memiliki banyak anak muda. NU membutuhkan anak muda yang berani menciptakan masa depan. Dan tidak cukup memiliki warisan sejarah. NU harus mampu mewariskan masa depan.
Di sinilah gagasan Gus Ipang menjadi penting. Ia tidak sedang mengajak NU meninggalkan masa lalu. Ia sedang mengingatkan bahwa: masa lalu adalah akar, tetapi anak muda adalah cabang yang akan menentukan ke mana pohon NU tumbuh.
Dan di zaman ketika dunia berada di dalam genggaman telepon pintar, barangkali panggung terbesar NU berikutnya bukan lagi hanya di masjid, pesantren, kampus, atau gedung-gedung organisasi. Panggung itu ada di layar. Dan di atas panggung itulah, anak-anak muda NU harus tampil. Bukan sebagai penonton. Bukan sebagai figuran. Tetapi sebagai: PEMAIN UTAMA PERADABAN DIGITAL INDONESIA.(*)





































