Gus Heri (kanan) menerima penghargaan dari Ketum FJN (kiri)

SURABAYA I duta.co – Kemandirian ekonomi santri menjadi salah satu agenda penting dalam melanjutkan perjuangan Nahdlatul Ulama (NU). Semangat Nahdlatut Tujjar atau kebangkitan kaum saudagar perlu dihidupkan kembali dengan pola yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).

Gagasan tersebut disampaikan Founder Santripreneur Academy Nusantara (SAN) Foundation, Heri Cahyo Bagus Setiawan, atau Gus Heri saat menerima penghargaan tokoh Nahdliyin Inspiratif dari Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN), Kamis (29/10/2026).

Menurutnya, perjuangan santri saat ini tidak lagi terbatas pada bidang pendidikan dan penguatan keagamaan. Santri juga perlu mengambil peran lebih besar dalam membangun kemandirian ekonomi melalui kegiatan usaha yang mampu menopang kehidupan mereka sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Saya terus terang masih kecek-kecek ya dalam bahasa Indonesia itu masih klasteri sehingga saya merasa ini belum pantas tetapi saya senang bisa bersilaturahmi dengan teman-teman FJN yang tentu ini akan menjadi satu semangat baru buat saya bahwa yang namanya khidmah itu tidak selalu harus kemudian dengan kegiatan-kegiatan pendidikan saja tetapi bagaimana dengan berekonomi lalu kemudian ekonomi itu membangun sebuah ekosistem dan ekosistem bertanggung lalu terjadilah sebuah usaha di kalangan para santri,” ujarnya.

Gus Heri menilai, potensi ekonomi santri sebenarnya sangat besar. Selama ini, banyak santri yang telah menjalankan berbagai aktivitas ekonomi di daerah masing-masing. Namun, aktivitas tersebut belum seluruhnya terorganisasi dan terhubung dalam ekosistem usaha yang kuat.

Karena itu, penguatan kewirausahaan santri perlu dilakukan secara berkelanjutan. Santri tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengaji, tetapi juga perlu dibekali keterampilan membangun usaha, mengelola bisnis, dan memanfaatkan peluang ekonomi.

Gus Heri mengingatkan bahwa semangat kemandirian ekonomi bukanlah gagasan baru dalam sejarah NU. Jauh sebelum organisasi tersebut berdiri, telah berkembang gerakan Nahdlatut Tujjar yang menempatkan kebangkitan ekonomi sebagai bagian penting dari perjuangan umat.

Ia mengaitkan semangat tersebut dengan perjuangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah dalam membangun kekuatan ekonomi bersama para saudagar, termasuk Haji Hasan Gipo.

Menurutnya, gerakan ekonomi tersebut tidak semata-mata bertujuan memperkaya individu. Sebaliknya, aktivitas usaha diarahkan untuk mendukung organisasi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat.

“Karena itulah kemudian kalau hari ini santri itu malas berekonomi bahwa dia sebetulnya sedang melupakan sejarah kebangkitan Nahdlatul Ulama itu juga berawal dari kebangkitan malam saudagar kebangkitan ekonomi,” tegasnya.

Gus Heri juga menyoroti praktik wakaf pasar yang dikaitkannya dengan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Menurut dia, langkah tersebut memperlihatkan bagaimana aktivitas ekonomi dapat menjadi instrumen untuk menghidupkan masyarakat.

Pasar bukan sekadar tempat transaksi jual beli, melainkan juga ruang perputaran uang yang memungkinkan masyarakat di sekitarnya memperoleh manfaat ekonomi. Semangat inilah yang perlu diterjemahkan kembali dalam konteks kehidupan santri masa kini. Kemandirian ekonomi harus dibangun melalui usaha yang berkelanjutan, sekaligus tetap berorientasi pada kepentingan umat.

Di tengah perkembangan teknologi, Gus Heri menekankan pentingnya memperbarui pola gerakan ekonomi santri tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya. Jika dahulu gerakan ekonomi dibangun melalui jaringan saudagar dan aktivitas perdagangan konvensional, kini santri memiliki peluang memanfaatkan digitalisasi, teknologi kecerdasan buatan, serta berbagai inovasi untuk mengembangkan usaha.

“Ini namanya spiritnya tetap nah datuk tejar tapi polanya yang harus berubah karena sekarang ada teknologi AI, digitalisasi, digitalisasi tapi tetap spiritnya spirit nah datuk tejar,” ungkapnya.

Ia mengonsepsikan pengembangan gerakan tersebut sebagai peralihan dari Nahdlatut Tujjar menuju gerakan entrepreneur atau kewirausahaan santri. Melalui pendekatan ini, santri diharapkan tidak hanya menjadi pelaku ekonomi skala kecil, tetapi juga mampu membangun usaha yang produktif, mandiri, dan memiliki daya saing.

Santripreneur Academy menjadi salah satu ikhtiar untuk mendorong tumbuhnya semangat tersebut. Gerakan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas santri dalam berwirausaha sekaligus membangun kesadaran bahwa aktivitas ekonomi merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Gus Heri berharap, penguatan kewirausahaan dapat memperluas kontribusi santri terhadap perekonomian nasional, terutama melalui sektor usaha mikro dan kecil yang tumbuh dari lingkungan masyarakat.

Melalui penguatan gerakan santripreneur, Gus Heri berharap semangat Nahdlatut Tujjar tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Nilai-nilai kemandirian, kebersamaan, dan kebermanfaatan ekonomi perlu terus dihidupkan melalui model usaha yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. (zi)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry