
Oleh: KH Imam Jazuli Lc., MA
APAKAH NU sedang tidak baik-baik saja? Jawaban ini bisa macam-macam. Tapi yang jelas, hingga hari ini “buntut” konflik internal di PBNU masih belum tuntas. Untuk itu NU butuh penyegaran. Di tengah laju zaman yang serba cepat, di mana Jakarta bukan lagi sekadar ibu kota, melainkan pusaran politik, ekonomi, dan kebijakan, NU membutuhkan nahkoda yang tidak hanya alim, tapi juga “melek” kota.
Nah, jika melihat itu, maka saya sudah melihat sosok yang ideal itu. Dia ada di Selatan Jakarta. Namanya, Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Ma’mun Lc., MA atau akrab disapa Gus Faiz. Saat pernah berbincang dengannya sesekali atau dua kali, atau mendengar ceramahnya, ingatan saya melayang ke masa lalu.
Tentu saja melihat figurnya, fokus saya ke almaater tercinta yaitu Al-Azhar, lalu ke KMNU (PCINU) dan ke almaghfurlah KH Hasyim Muzadi. Ada getaran keilmuan yang tenang, retorika yang terukur, dan hikmah yang menyejukkan—persis seperti mendengarkan sang kiai besar di posisi yang krusial.
Mengapa NU membutuhkan Gus Faiz? Ini Argumennya. Pertama, jelas sanad keilmuan yang kokoh, dengan kombinasi dua kiblat. Gus Faiz bukan santri kaleng-kaleng. Beliau ditempa langsung oleh ayahandanya, KH Syukron Ma’mun—singa podium yang masyhur itu. Tak cukup di situ, beliau menuntaskan dahaga ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir.
Bayangkan, perpaduan tradisi pesantren tradisional (turots) dengan wawasan Al-Azhar yang moderat, plus penempaan di tanah Arab lainnya (Madinah dan Syuriyah), membuat Gus Faiz matang secara fiqh dan ushul.
Selain itu, dia sosok aktivis NU tulen, bukan karbitan. Gus Faiz bukan tipe “kiai santai” yang hanya menunggu undangan. Beliau pernah memimpin PCINU Mesir, tempat berkumpulnya pemikir NU muda. Kini, beliau adalah Katib Syuriah PBNU dan Ketua MUI DKI Jakarta. Jabatan ini membuktikan bahwa beliau adalah tulang punggung organisasi, bukan aksesoris organisasi.
Kelebihan lainnya adalah dia “orang dalam” Betawi yang Tinggal di Jakarta. Ini keunggulan strategis yang sering dilupakan. Gus Faiz adalah tokoh Betawi (berdomisili di Jakarta) yang memimpin Pesantren Besar Daarul Rahman di Jagakarsa. Tinggal di Jakarta artinya beliau siap “ngantor” setiap saat.
PBNU hari ini butuh pimpinan yang standby di pusat kebijakan. Saat ada gejolak nasional, Gus Faiz bisa langsung bertindak, bertemu pengambil kebijakan, tanpa harus menunggu tiket pesawat dari daerah.
Selain itu, ada hal lain yang urgen: dia sosok yang bisa menjadi jembatan antara kiai sepuh dan keder muda NU. Kealimannya diakui kiai sepuh, sementara gaya bicaranya mudah diterima kiai muda dan kaum milenial. Beliau adalah figur yang “nyambung” di semua kalangan.
Tantangan NU dan Pesantren ke depan adalah pentingnya mengembangkan pesantren transformatif, jembatan anatara salafiyah dan modern yang tetap kiai-sentris, tetati cepat dan efisiensi. Dan, Gus Faiz adalah perpaduan keduanya. Dia memimpin pesantren besar (Daarul Rahman) yang tertata, namun juga lincah di panggung organisasi nasional.
Gus Faiz bisa “mengayomi” seperti langit, namun “menginjak bumi” rata dengan tanah. Jika PBNU ingin terus relevan, bergerak cepat, dan kokoh secara keilmuan di tengah arus modernitas, maka Gus Faiz bukan sekadar alternatif. Beliau adalah jawaban. Wallahu’alam bissowab.





































