Cerpen: Gus Jakfar

Adzan subuh membangunkan tidurku yang berisi mimpi indah, bertemu bidadari. Aku kemudian bangun, mengambil baju dan sorbanku, aku membuka pintu kamarku lalu berjalan menuju masjid pondok.

            “Allahu akbar”, takbirku memulai solat subuh, ya hari ini aku menjadi imam solat subuh dimasjid pondok, inilah kewajibanku sebagai anak dari seorang kiai yang mempunyai pondok maka mau tak mau aku harus juga menjadi wakilnya. Seperti hari ini dikala abah sakit maka aku yang menggantikannya, sebenarnya abah mempunyai 5 anak tapi semuanya sudah menikah dan sudah tidak tinggal disini.

            Mereka sudah mendirikan pondok-pondok sendiri, jadi jika abah tidak bisa mengimami maka akulah yang akan menjadi wakilnya. “Allahu akbar”, takbirku kembali, aku rukuk dan jamaahpun mengikuti gerakanku. Orang-orang memanggilku “Gus”, hanya Gus saja tak ada embel-embel lainya seperti Gus Mus, Gus Dur, aku hanya dipanggil Gus tak lebih. Kenapa aku dipanggil hanya dengan Gus, memang namaku adalah Agus dan para santri aku suruh untuk memanggil aku Gus saja tidak dikasih embel-embel namaku karena nanti akan tumpang tindih.

            Aku adalah Gus dari pondok pesantren Tugurejo Ponorogo, dan sudah barang yang lumrah jika gus itu mempunyai ilmu yang banyak, selain sebagai penerus pondok ini, ilmu itu berguna juga untuk merubah Negara ini, seperti yang dilakukan Gus Dur dan Gus Mus. Merekalah gus-gus yang selalu menjadi idolaku yang selalu memenuhi impianku untuk menjadi orang seperti mereka itu.

            Tak hanya kepada abah aku memperoleh ilmu, aku juga memperoleh ilmu dari kiai-kiai lain di Ponorogo ini, 25 tahun lebih aku belajar dari satu pondok kepondok lainnya. Tentunya jangan menanyakan kenapa lamanya aku belajar, tentu bukan karena aku bodoh atau aku hanya malas-malas sehingga aku tak lulus-lulus. Malah aku setelah lulus langsung berguru pada kiai lainnya sampai 25 tahun, bahkan jika abah tidak menyuruh aku segera kembali kepondok mungkin belajarku bisa 50 tahun, mungkin sampai ke Jombang atau Kediri.

            Memang pernah aku satu dua kali aku sulit menerima pelajaran sehingga aku dongkol dikelas itu, tapi bagiku itu buka barang tabu, itulah proses belajar. Kenapa harus malu karena belajar itu tak mengenal usia, andaikan sampai sepuluh tahun aku tidak naik kelas itu niscaya aku akan terus berusaha untuk bisa lulus, tak perlu malu dalam belajar.

            Dalam perjalanan mondok itu aku menemukan bermacam-macam ilmu, tipe orang, sosial orang, pendidikan orang dan lain-lain. Dulu aku mondok dekat dengan sekolah umum SMA, aku amati ternyata sistem belajarnya jauh berbeda. “beda Gus, jika disekolah umum itu gurunya hanya mengajar, tidak perduli dengan moral muridnya, makanya aku mondok disini Gus”, kata Ipul, teman mondokku yang juga kalau pagi dia sekolah disekolah umum.

            “mencari ijazah Gus, supaya nanti tidak sulit kerja”, jawabnya saat aku menanyakan kenapa dia tiap pagi bersekolah disekolah umum. Ternyata hanya mencari ijazah, jadi ilmunya yang tiap pagi hingga siang didapatnya itu tidak berguna sama sekali?, aku berfikir ini jika pemerintah tak mengeluarkan ijazah lalu apa yang akan dia cari.

            Itulah salah satu beda pesantren dan sekolah umum, kata Aji salah satu temanku dipondok yang lainnya,” tentu beda jauh Gus, sampean pernah dengar tidak ada kiyai atau ustad memperkosa muridnya?, tentu tidakkan Gus. Dan disekolah umum banyak yang begitu pencabulan, pelecehan dan lain-lainnya”, hal ini membuatku bingung juga kok ada seperti itu, guru adalah contoh murid kok malah memberi contoh yang jelek-jelek.

            “satu lagi Gus, pernah ada guru yang menghukum muridnya karena muridnya nakal malah dihukum Gus, dimasukkan penjara”. Katanya yang tambah membuatku bingung setengah mati, padahal hampir setiap hari aku dihukum oleh guruku karena aku selalu bangun kesiangan saat solat subuh, dan diluar sana guru yang mengajarkan disiplin malah dihukum. Ini membuat diriki geleng-geleng kepala.

            Berbicara tentang disiplin, aku mau sedikit bicara kenapa anak-anak pesantren rambutnya rapi-rapi itu kalau dipondokku bukan untuk apa-apa tapi hanya sebagai alat untuk mengajarkan disiplin. Dan setelah dia lulus dari pondok maka terserah dia mau memanjangkan atau tetap memendekkan rambutnya, karena Nabi kita rambutnya juga panjang bahkan dikatakan panjang rambut Nabi itu sebahu.

            Jadi bukan masalah boleh tidak boleh tapi masalah disiplin ini harus selalu diajarkan sedini mungkin. Aku kadang bingung dengan pendidikan diluar pesantren, pernah aku mendengar orang tua marah karena rambut anaknya dipotong oleh gurunya. Kok bisa terjadi, ini yang edan  siapa guru atau orang tuanya. Padalah dipondokku dalam sebulan selalu diadakan operasi rambut, rambut yang panjang langsung dipotong dan itu tidak ada yang komplen dari orang tua murid. Ini ada guru yang mengajarkan disiplin kok malah dihukum.

            Disaat seperti ini, banyak remaja yang hamil, remaja semakin bejat kelakuannya, banyak remaja yang berani melawan orang tuanya, banyak remaja yang suka minum-minuman keras. Pemerintah sibuk bagaimana solusinya, system pendidikan yang bagaimana yang paling tepat untuk mengatasi permasalahan ini.

            Lalu timbullah bermacam-macam kurikulum, satu tahun kurikulum berganti sebanyak 3 kali juga bukan masalah. Sampai akhirnya setelah berganti-ganti ketemulah kurikulum yang mengedepankan moral anak didik. “duh Gus, itu sudah terlambat, coba pemerinta mau menengok pendidikan kita Gus, dari dulu hingga sekarang secara garis besar pendidikan pesantren selalu sama, mengedepankan moral santri, bagaimana mencetak santri yang bermoral, berdisiplin tinggi serta jujur dan cerdas, jadi menurut saya itu cara yang lama, sudah dipakai sejak guru abah sampean bahkan mungkin lebih lama lagi Gus”, kata salah seorang kiyai yang menjadi guruku saat aku mendiskusikan pendidikan Negara ini.

            Begitulah diskusi kami, memang benar kata kiyaiku itu, Negara ini terlalu kasep menerapkan sistem pendidikan moral, mungkin bukan gagal tapi akan sulit karena sudah dua generasi yang melewati pendidikan yang ruwet ini, disamping saat ini kebutuhan manusia hanya mau yang praktis-praktis saja, bahkan sekolah juga mau yang jika lulus langsung kerja, langsung dapat uang. Maka timbullah sekolah-sekolah praktis.

            Memang baik sekolah itu karena menjanjikan pekerjaan langsung, tapi mereka sering melupakan moral muridnya, intinya mereka menawarkan sekolah yang cepat dan praktis langsung dapat kerja dan hal ini disambut meriah oleh orang-orang tua murid. Walaupun pemerintah menganjurkan pendidikan moral tapi karena dasar remaja sekarang mau yang praktis-praktis saja, maka jika ada ekstra ngaji, atau yang lainnya yang berhubungan dengan moral mereka cenderung kurang minat dan bahkan tidak mau mengikutinya.

            Andai mereka menerapkan system pesantren yang mengharuskan santrinya tinggal dilingkungan pondok maka mau tidak mau mereka harus mengikuti semua peraturan pondok dan jika dia suka bolos maka akan dikeluarkan tak pandang itu anak pejabat atau petani. “system pondok yang menerapkan disiplin, bermoral jujur dan dekat dengan Tuhan, seharusnya diikuti oleh system pendidikan Negara. Banyak tokoh Negara dari pesantren, ada Cak Nun, Gus Dur, Gus Mus, Wahid hasyim kepala departeman agama pertama, Hasyim asarii pendiri NU sekaligus penggerak dan penyemangat perang 10 November disurabaya, karena Bung Tomo waktu itu sowan  kepadanya”, kata kiaiku lebih lanjut. Dan akupun mengamini pendapatnya.

            “Assalamualaikum!”, kataku mengakhiri solat jamaah subuh, jangan tanyakan kenapa aku solat tapi pikiranku melayang-layang jauh. Aku sendiri tidak tahu mengapa dan yang jelas solatku akan diterima karena pahala solat jamaah itu tinggi dan pasti diterima karena jika imam tidak khusyuk namun ada makmum yang khusyuk walaupun hanya satu maka diterima solat itu. Jika dua-duanya tidak khusyuk maka berkah jamaahnya yang menjadikan solat diterima.

            Dan jangan salahkan aku jika seorang Gus kok solatnya tidak khusyuk, jangankan hanya Gus seorang sahabat besar imam Ali pun solatnya tidak khusyuk. Baiklah mending kita ngaji supaya pahala kita bertambah dari pada kamu mengurusi khusyuk tidak khusyuk.

 

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan