
BOJONEGORO | duta.co – Peternak sapi lokal saat ini lebih suka mengawinkan indukannya dengan indukan dari luar negeri. Tidak salah karena peternak menginginkan sapinya bisa memiliki bobot yang besar.
Namun yang perlu diperhatikan adalah keberlangsungan indukan lokal agar bisa terus berproduksi atau menghasilkan anak tanpa kendala. Sebab jika sapi lokal mengandung janin yang besar tanpa kontrol dari dokter hewan yang kompeten maka justru ke depan akan berakibat fatal. Indukan tidak bisa lagi mengandung karena mengalami gangguan reproduksi.
Edukasi itu disampaikan Prof Dr Hery Agoes Hermadi, guru besar dari Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga (FKH Unair) saat menggelar pengabdian masyarakat di Desa Palembon, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Selasa (5/5/2026).
Pengmas yang dilakukan adalah rangkaian kegiatan berkelanjutan yang digelar FKH Unair bersama Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro di Desa Palembon yang merupakan desa binaan FKH Unair selama dua hari 4-5 Mei 2026.
Prof Hery menjelaskan indukan sapi lokal dikawinsilangkan dengan dari luar memang akan menghasilkan anakan yang besar. Anakan jika dari dalam kandungan itu besar akan menyebabkan masalah bagi indukannya. “Harus ada kontrol bagaimana janinnya itu tidak terlalu besar di dalam. Besarnya di luar saja. Ini perlu kontrol dari peternak dan dokter hewan,” jelasnya.
Karena ketika dibiarkan membesar di dalam maka akan mengalami masalah ketika persalinan. Biasanya akan mengeluarkan nanah. Jika sudah mengeluarkan nanah maka sudah mengalami infeksi parah.
“Walau tidak mengeluarkan nanah tapi tetap harus waspada, kadang peternak merasa itu bukan sebuah masalah karena tidak mengeluarkan nanah. Tetap harus dilakukan pencucian rahim dengan antiseptik dan antibiotik agar infeksi itu tidak terjadi. Sehingga indukan masih bisa hamil kembali. Kalau dibiarkan tidak akan bisa hamil,” jelasnya.
Prof Hery berharap sapi lokal tetap bisa terus menjadi ‘produsen’ anakan sapi potong yang produktif. Di mana anakannya nantinya bisa dipotong dan dikonsumsi seluruh masyarakat Indonesia.
“Tidak masalah dikawinsilangkan dengan sapi luar tapi harus dilakukan pemantauan. Ini yang kadang lalai. Dokter hewan daerah harus memiliki kompetensi menangani masalah ini,” tuturnya.
Selain Prof Hery, pengmas juga diisi dosen FKH Unair yang lain yakni drh. Oky Setyo Widodo, MSi. Dalam hal ini drh. Oky membahas Manajemen Pakan Ternak khususnya sapi yang efektif hingga bisa menghasilkan sapi yang berkualitas.

Dikatakan drh. Okky, pakan memang harus efektif karena biayanya mencakup 60 persen hingga 70 persen dari total biaya produksi.
Selain itu pakan adalah penentu utama performa ternak dari pertumbuhan, reproduksi, produksi susu/telur. Juga nutrisi yang tepat berdampak pada kesehatan ternak itu sendiri. “Pakan berpengaruh pada kesehatan reproduksi ternak,” katanya.
Menjelaskan masalah pakan pada peternak di Desa Palembon, dilakukan secara sederhana. Oky tidak menjelaskan secara teoritis namun sangat simpel dan informatif.
“Kita analogikan dengan diri kita. Kalau mau sehat dan produktif maka makanannya harus bergizi. Bukan hanya pakan murah dan mudah didapat,” jelasnya.
Selama ini peternak masih menganggap pakan itu asal kenyang. Tanpa memperhatikan takaran dan kandungan gizinya. “Mereka masih hijau-hijauan terus menerus. Padahal pakan hijau itu juga ada takarannya, maksimal 10 persen dari berat badan sapi setiap harinya,” ungkapnya. lis




































