Taklshow saat grand opening FK Untag Surabaya menghadirkan dr. Reisa Broto Asmoro, Prof Dr dr Med Puruhito, Sp.B, Sp.BTKV, Subsp.VE (K), FICS dan Prof Dr dr H Dikman Angsar, SpOG, Rabu (9/7/2025). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Pendidikan kedokteran di Indonesia harus menekankan pada kolaborasi antara teknologi kedokteran dengan nilai-nilai kemanusiaan dan pengabdian.

Hal itu diungkapkan Prof Dr dr Med Puruhito, Sp.B, Sp.BTKV, Subsp.VE (K), FICS saat menjadi pembicara dalam talkshow bertema ‘Patriot Merah Putih Mewujudkan Generasi Medis Penjaga Napas Bangsa’, saat grand launching Fakultas Kedokteran, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Rabu (9/7/2025).

“Dokter patriotik adalah semangat dokter dengan jiwa patriot merah putih yang diusung oleh Fakultas Kedokteran Untag Surabaya,” tegasnya.

Senada Prof Puruhito, Prof Dr dr H Dikman Angsar, SpOG juga menekankan urgensi pendidikan dokter yang berbasis nilai dan karakter kebangsaan. Menurutnya, menjadi dokter tidak cukup hanya menguasai ilmu medis, namun juga harus memiliki dedikasi terhadap kemanusiaan dan pengabdian kepada bangsa. “FK Untag Surabaya hadir sebagai institusi yang menjembatani kecanggihan ilmu kedokteran dengan jiwa nasionalisme,” ujarnya.

Sementara itu, dr Reisa Broto Asmoro menyoroti pentingnya sistem pernapasan dalam pendidikan kedokteran, mengingat tingginya beban penyakit pernapasan di Indonesia, tuberkulosis yang menempati peringkat dua dunia, pneumonia sebagai penyebab utama kematian balita, dan polusi udara yang memperparah asma serta kanker paru.

“Kita harus apresiasi lagi FK Untag Surabaya yang memang unggul dan fokusnya di bidang pernapasan,” ujarnya.

Dokter Reisa juga menekankan pentingnya komunikasi medis, yaitu kemampuan dokter menyampaikan informasi kesehatan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat.

Peluncuran Fakultas Kedokteran Untag Surabaya digelar di Auditorium R. Soeparman Hadipranoto, Graha Wiyata Lantai 9, dengan mengusung tema ‘Patriot Merah Putih Mewujudkan Generasi Medis Penjaga Napas Bangsa’.

Pembukaan ini merupakan tindak lanjut dari terbitnya SK Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI No. 69/A/O/2024 tentang Izin Pembukaan Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter yang diselenggarakan oleh Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya.

Fakultas ini memiliki visi besar yakni Menjadi Fakultas Kedokteran yang Unggul Berbasis Nilai, Karakter Bangsa, dan Berjiwa Patriot, serta fokus pada ‘Kedokteran Pencegahan dengan Penekanan pada Penyakit Infeksi Sistem Pernapasan, khususnya Pneumonia’.

Dekan FK Untag Surabaya dr Poerwadi, SpB dalam sambutannya mengenang perjuangan tujuh tahun mendirikan fakultas ini. “Walaupun saya sudah berumur, umur saya sudah 76 tahun, tapi berkat semangat dari sesepuh saya Prof. Puruhito dan Prof. Dikman, saya masih bersedia untuk berdiri di sini, demi untuk nusa dan bangsa. Untuk mendidik dokter-dokter yang berjiwa nasionalis dan patriotik,” tegasnya.

Dokter Poerwadi juga mengenang pengalamannya sebagai dokter muda di Bungku, Sulawesi Tengah, yang membentuk karakter patriotiknya. “Saya sangat terpanggil dan menghayati Untag itu bagaimana, terlebih tentang pemaknaan PERTIWI. Saya akan mempertaruhkan nama saya demi kualitas ini,” tandasnya.

Rektor Untag Surabaya, Prof  Mulyanto Nugroho menyatakan bahwa pendirian FK merupakan bagian dari implementasi Catur Dharma Untag dengan penciri khusus patriotisme. “Semua fakultas di Untag Surabaya, termasuk FK yang baru ini, dididik menjadi patriotik-patriotik yang mendahulukan kepentingan bangsa,” jelasnya.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr. Emil Elestianto Dardak yang turut hadir, mengapresiasi perjuangan pendirian FK. “Setelah tujuh tahun perjuangan, akhirnya kampus nasionalis ini berhasil melahirkan Fakultas Kedokteran. Indonesia sangat membutuhkan dokter, dan kami bangga karena Jatim menjadi rumah dari FK yang tak hanya mencetak dokter kompeten tapi juga patriotik,” ujarnya.

Prosesi peluncuran ditandai dengan pemindaian tangan (hand scan) oleh Rektor, Ketua YPTA, Dekan FK, dan Wakil Gubernur Jatim. Acara dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata dan sambutan dari Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dyah Sawitri, yang menyebut FK Untag sebagai kontribusi strategis. “FK ini menjadi aset strategis untuk pendidikan tinggi di Jatim karena riset yang dilakukan adalah riset yang berdampak,” ujarnya.

Acara juga dihadiri oleh jajaran struktural YPTA Surabaya, sivitas akademika, para kepala bagian dan TU, hingga guru dan siswa dari 30 SMA se-Jawa Timur, serta kepala puskesmas dari Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. ril/lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry