GP Ansor saat melapor ke Polres Malang (foto atas – tribunsantri), Foto bawah Kiai Sa'adullah Basuni (kanan) saat menyampaikan klarifikasi permohonan maaf dan Gus A’am Wahib.

SURABAYA | duta.co –  GP Ansor Kabupaten Malang melaporkan Kiai Sya’dullah Basuni ke Satreskrim Polres Malang Sabtu (5/1/2019). Husnul Hakim, Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Malang, mengatakan, Kiai Sa’adullah telah menghina NU saat ceramah di Desa Kidal Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

“Kami telah melaporkan kasus ujaran kebencian ke Polres Malang dengan membawa bukti berupa video berdurasi dua menit,” ujarnya saat ditemui SURYAMALANG.COM, Sabtu (5/1/2019).

Kasus ini memantik keprihatinan Barisan Kiai dan Santri Nahdliyin (BKSN). H Agus Solachul A’am Wahib, Ketua BKSN mengaku sedih menyaksikan semua itu. Dia prediksi, perpecahan internal nahdliyin tidak bisa dihindari ketika pengurus NU melanggar khitthah, berpolitik praktis. Akibat lain, kiai dan NU menjadi bulan-bulanan.

“Ini semua dampak dari pelanggaran khitthah NU. Tak ada asap kalau tidak ada api. Sampai kapan pun, ‘larinya’ Rais Am untuk merebut kekuasaan akan menjadi bahan rasan-rasan umat. Ini pelanggaran khitthah terberat,” jelas Gus A’am Wahib kepada duta.co Minggu (6/1/2019).

Seperti diberitakan, dalam laporan yang disampaikan ke Polres Malang, Husnil Hakim bersama anggota Ansor, Banser dan unsur lain di NU itu, menyebut adanya dugaan ujaran kebencian. Menurutnya, dalam ceramah yang telah direkam di video berdurasi dua menit itu, Kiai Sa’adullah menghina KH Ma’ruf Amin sebagai PKI.

Tak hanya itu, dugaan ujaran kebencian yang dilontarkan Sa’adullah Basuni juga menghina Banser serta menyebut agama dan ras tertentu. Selain membawa barang bukti berupa video, Husnul juga membawa saksi dari Banser yang sedang berada di lokasi kejadian.

“Ujaran kebenciannya dilakukan pada waktu sholawatan di Tumpang. Karena ini menyangkut institusi kami dan instansi Nahdatul Ulama kami akan laporkan,” tegasnya sambiol menegaskan bahwa cuplikan video tersebut sudah ramai di media sosial sejak dua hari lalu.

“Di tempat terbuka yang bersangkutan melakukan tindakan yang sarat dengan ujaran kebencian kepada Cawapres 01, KH Maruf Amin. Menyebut beliau sebagai pengikut PKI, pengikut Singkek/Cina, dan melakukan demi uang, disertai hujatan yang mengarah kepada degradasi personal Kiai Maruf,” demikian kronologi yang diterima duta.co.

Kiai Sa’adullah Basuni sendiri sudah membuat video klarifikasi. Dalam rekamannya, salah satu pemuka agama asal Sukorejo, Pasuruan ini meminta maaf kepada beberapa komponen Nahdlatul Ulama (NU) yang merasa tersakiti.

Video berdurasi sekitar dua menit tersebut, juga sempat beredar ke dunia maya dan pesan berantai melalui WhatsApp (WA). Pihaknya menyampaikan jika apa yang dia sampaikan saat mengisi pengajian di Kecamatan Tumpang, bukanlah kalimat titipan kampanye.

Ia juga membantah, jika kalimat yang dia ucapkan mengandung unsur kampanye hitam. “Terkait pernyataan saya yang berkaitan dengan NU, Banser, dan Ansor serta beberapa komponen lain yang merasa tersinggung, saya mohon maaf. Memang tidak semuanya seperti apa yang saya ucapkan, namun yang saya maksud adalah oknum. Saya menyampaikan kalimat tersebut karena rasa saking cintanya saya kepada NU dan Banser,” demikian Kiai Sa’adullah dalam rekaman video klarifikasi yang beredar di masyarakat.

Ia juga mengaku jika sudah ditegur langsung oleh instansi yang ada di Jakarta. “Terhadap seluruh jamaah maupun murid KH Ma’ruf Amin, saya minta maaf jika ada yang tersakiti, atau bahkan dianggap merugikan,” imbuhnya.

Diadu Domba Kekuatan Politik

Itulah sebabnya, Gus A’am Wahib berharap semua pihak, termasuk GP Ansor dan Banser harus memahami sebab akibat. Apa yang disampaikan Kiai Sa’adullah adalah dampak dari perpolitikan di negeri ini, terlebih dampak dari pelanggaran khitthah NU yang dilakukan oleh pengurus NU.

“Orang kalau cinta NU, pasti tidak terima orgaisasi ini dipermainkan. Tidak terima kalau khitthah NU diinjak-injak. Tidak terima kalau NU dipakai alat merebut kekuasaan. Inilah yang terjadi sekarang, menyedihkan bukan?,” tegasnya.

Akibat lain, tegasnya, warga NU berantem sendiri. Saling lapor polisi. “Ini sudah kita prediksi. Kita sedang diadu domba kekuatan politik. Mereka itu tertawa menyaksikan kita saling serang, saling lapor polisi. Sungguh saya menangis ketika berada di makam Almahghfurlah KH Wahab Chasbullah jika ingat semua ini,” tegasnya lirih. (mky,rm)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.