Dokter Mata dari RSM Undaan, dr Lydia Nuradianti, SpM saat memeriksa salah satu pasien di RSM Undaan Surabaya. DUTA/istimewa

SURABAYA | duta.co – Glaukoma kini menjadi perhatian para dokter mata di seluruh Indonesia. Karena penderita gangguan syaraf mata dan peningkatan tekanan bola mata ini semakin lama semakin bertambah.

Tidak pandang usia, jenis kelamin dan kelas sosial. Padahal gangguan ini bisa dihindari dengan deteksi dini.

Kenyataannya masyarakat masih saja terlambat datang ke dokter mata. Mereka baru ke dokter setelah kondisi parah, penglihatan sudah menurun drastis bahkan sudah tidak bisa melihat sama sekali.

Data di Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya menyebutkan pada 2016 penderita glaukoma sebanyak 2.496. Pada 2017 penderita sebanyak 4.965 dan pada 2018 sudah mencapai 8.054 penderita.

Dari jumlah itu 52 persen pasien sudah dalam keadaan buta. Penyakit ini menyebabkan kebutaan nomor dua di Indonesia.

Dan Indonesia rentan mengalami hal ini karena dari data empat hingga lima dari seribu kelahiran menderita glaukoma.

Tak mengherankan jika di setiap Maret seluruh dokter mata di dunia termasuk di Surabaya memberikan edukasi dan sosialisasi pada masyarakat tentang bahayanya glaukoma. Karena pada minggu kedua Maret dirayakan sebagai World Glaukoma Week.

Salah satu dokter mata dari RSM Undaan, dr Lydia Nuradianti, SpM mengaku prihatin dengan kondisi ini. Karena banyak anak-anak muda yang terkena hingga mengakibatkan kebutaan.

“Mereka sampai harus berhenti kuliah, berhenti kerja. Usia 20, 21 tahun sudah terkena penyakit ini. Masa depan mereka hancur, produktivitas mereka menurun bahkan sampai tidak bisa beraktivitas. Kasihan sekali,” ujar Lydia yang juga anggota Persatuan Dokter Ahli Mata Indonesia (Perdami) Jawa Timur ini.

Dokter Lydia menjelaskan, mengapa pasien sering kali datang terlambat berobat. Karena memang glaukoma ini tidak diawali dengan gejala-gejala awal yang mencurigakan.

Tapi lambat laun penglihatan mulai berkurang dari arah pinggir hingga akhirnya yang dilihat hanya bagian tengah.

“Dan mereka datang baru dalam kondisi seperti itu. Kadang yang satu sudah tidak bisa melihat dan yang satu lagi bisa melihat tapi di tengah saja,” tuturnya.

Biasanya dengan kondisi seperti itu, dokter mata tetap harus melakukan tindakan. Jika tidak parah bisa dengan obat-obatan hingga laser.

 Tapi jika sudah parah maka dilakukan operasi. Dikatakan dr Lydia, semua tindakan yang dilakukan dokter mata itu tidak bisa menambah fungsi penglihatannya melainkan hanya mempertahankan kondisi yang sudah ada. “Setidaknya tidak semakin parah,” tukas dokter yang juga praktik di RS Delta Surya Sidoarjo ini.

Bagaimana Glaukoma Bisa Terjadi?

Glaukoma terjadi karena tekanan bola mata melebihi standar normal yakni antara 10 hingga 21. Jika tekanan lebih dari itu jika tidak segera ditangani akan semakin meninggi.

Namun glaukoma dapat terjadi pada beberapa pasien di mana tekanan bola mata masih dalam kisaran yang dianggap normal atau normal tension glaucoma.

Namun karena adanya gangguan vaskuler sistemik akhirnya glaukoma bisa menyerang.

Selain itu, biasanya orang akan rentan terkena glaukoma karena faktor keturunan. Jika orang tua menderita glaukoma maka anaknya harus segera konsultasi ke dokter mata.

Karena risikonya empat hingga lima kali dibandingkan orang yang tidak memiliki  keturunan glaukoma.

Selain itu kata dr Lydia, pemakaian obat tetes mata yang mengandung steroid yang berkepanjangan. Ini terjadi biasanya pada orang-orang yang seringkali memakai lensa kontak atau contact lens.

Orang yang pakai lensa kontak sering mengalami mata merah. Mereka akan suka menggunakan obat tetes mata yang mengandung steroid karena obat itu akan dengan cepat membuat bola mata menjadi putih kembali.

“Steroid itu diperlukan tapi untuk kasus-kasus tertentu dan harus di bawah pengawasan dokter. Kalau pakai obat ini harus kontrol ke dokter mata,” ungkap dr Lydia.

Tidak hanya itu, sering mengkonsumsi obat-obatan pegalinu juga bisa menyebabkan glaukoma. Sakit gigi yang terus menerus juga perlu diwaspadai. Juga sakit kepala seperti migrain hingga ke bagian belakang.

Karenanya deteksi dini perlu dilakukan. Kontrol ke dokter mata juga harus dilakukan walau tidak ada keluhan apapun. Karena glaukoma tidak disertai dengan tanda-tanda apapun. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.