Farah Nuriannisa, S.Gz., M.P.H.
Dosen S1 Gizi, Fakultas Kesehatan

KANKER merupakan penyakit multifaktorial yang ditandai oleh proliferasi/perkembangan sel yang tidak terkontrol akibat mutasi genetik, perubahan epigenetik, dan gangguan sistem kekebalan tubuh.

Dalam beberapa dekade terakhir, bukti ilmiah menunjukkan bahwa faktor gizi memiliki peran penting dalam memodifikasi risiko kanker, serta dalam mendukung keberhasilan terapi dan kualitas hidup pada pasien kanker.

Penelitian epidemiologi telah menjelaskan adanya hubungan erat antara pola makan dengan kejadian beberapa jenis kanker. Diet tinggi buah dan sayur, yang mengandung antioksidan seperti vitamin C, E, flavonoid, serta karotenoid, terbukti mampu menurunkan stres oksidatif dan peradangan/inflamasi kronis yang berkontribusi terhadap karsinogenesis atau pembentukan sel kanker.

Serat pangan juga diketahui berperan dalam menurunkan risiko kanker kolorektal melalui peningkatan volume dan kecepatan transit feses, serta fermentasi serat oleh bakteri/mikrobiota dalam usus yang menghasilkan asam lemak rantai pendek dengan efek protektif.

Di sisi lain, konsumsi tinggi daging merah (sapi, babi) dan daging olahan (nugget, sosis, smoked beef, corned beef) yang mengandung nitrosamin serta produk hasil proses pemanggangan seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina heterosiklik, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, lambung, dan pankreas.

Obesitas, akibat kelebihan asupan energi dan lemak, juga merupakan faktor risiko untuk berbagai jenis kanker seperti kanker endometrium, payudara postmenopause, dan esofagus..

Pada pasien kanker, risiko malnutrisi atau penurunan status gizi secara signifikan terjadi akibat adanya efek dari penyakit serta terapi yang diterima oleh pasien seperti kemoterapi, radioterapi, dan pembedahan. Malnutrisi kanker (cancer-related malnutrition) seringkali bersifat multifaktorial dan kompleks, mencakup penurunan asupan, gangguan absorpsi, serta perubahan metabolisme tubuh akibat peradangan yang terjadi, sehingga tubuh perlu membakar atau menggunakan cadangan atau simpanan zat gizi dalam tubuh.

Kondisi ini dapat berkembang menjadi cachexia, yaitu keadaan yang ditandai dengan hilangnya massa otot, yang ditandai dengan penurunan berat badan secara drastis dalam jangka waktu pendek.
Intervensi gizi yang tepat sangat penting dalam mendukung terapi kanker.

Prinsip utama meliputi pemenuhan kebutuhan energi dan protein, pengaturan mikronutrien, serta mempertahankan atau meningkatkan massa otot. Terapi gizi dapat dilakukan dengan meningkatkan asupan energi dan protein, mengurangi asupan lemak dan karbohidrat (terutama karbohidrat sederhana seperti gula), serta memodifikasi lingkungan makan pasien.

Pasien kanker, terutama yang menjalani terapi kemoterapi, sering mengalami mual dan muntah sebagai efek samping pengobatan. Salah satu modifikasi lingkungan makan yang dapat diterapkan adalah makan di sudut rumah atau RS yang dekat dengan ventilasi (misalnya memposisikan kursi makan di dekat jendela atau di teras), tidak mengonsumsi minuman sebelum makan, serta mengonsumsi makanan yang kering (tidak berkuah).

Zat gizi bioaktif juga sering menjadi perhatian dalam penelitian kanker. Asam lemak omega-3, yang terdapat pada minyak ikan, memiliki potensi menekan zat pemicu peradangan dan mendukung sintesis protein otot. Vitamin D berperan dalam regulasi siklus sel, sementara fitokimia seperti sulforaphane, curcumin, dan resveratrol diteliti karena efek antikarsinogeniknya.

Walau demikian, suplemen nutrisi harus digunakan secara individual dan hati-hati karena potensi interaksi dengan kemoterapi. Secara keseluruhan, pendekatan terapi gizi pada pasien kanker harus bersifat holistik, berbasis bukti, dan terintegrasi dalam tim multidisiplin.

Edukasi gizi, konseling personal, serta intervensi berbasis kebutuhan metabolik individual sangat krusial dalam mendukung keberhasilan terapi kanker dan meningkatkan kualitas hidup pasien. *

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry