keterangan foto merdeka.com

KUALA LUMPUR | duta.co – Memalukan! Kecurangan Pemilu dilakukan secara massif dan kini bocor ke publik. Dua buah video viral di warganet. Pertama, menayangkan penemuan tumpukan kartu suara yang sudah dicoblos 01 untuk Pilpres. Kedua, video menayangkan proses pencoblosan yang begitu vulgar.

Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) RI untuk Kuala Lumpur, Malaysia menjelaskan kronologi penemuan surat suara Pilpres 2019 tercoblos untuk pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Selain pilpres, surat suara Pileg 2019 juga sudah tercoblos untuk sejumlah caleg DPR Dapil DKI Jakarta II.

Ketua Panwaslu Kuala Lumpur Yaza Azzahara Ulyana menyampaikan kejadian tersebut terjadi pada hari ini, Kamis (11/4). Peristiwa bermula dari aduan relawan Sekber satgas BPN PADI (Prabowo-Sandi) Malaysia bahwa ada dugaan penyelundupan surat suara yang dilakukan oleh oknum tertentu di dua lokasi.

“Mendengar laporan tersebut, kami bersama seorang anggota Panwaslu KL atas nama Rizki Israeni Nur menuju ke lokasi,” kata Yaza dalam keterangan tertulis, Kamis (11/4) seperti dikutip cnnindonesia.

Tidak hanya itu. Anggota Satgas BPN kemudian memberi kabar baru bahwa ada gudang serupa di Bandar Baru Bangi, Selangor. Panwaslu baru mengeceknya pukul 17.00 usai memberi keterangan ke kepolisian.

Di lokasi kedua, mereka menemukan 158 karung berisi 216-230 surat suara per karung. Yaza menyebut total ada sekitar 40-50 ribu surat suara.

“Kali ini surat suara yang di coblos sama, yaitu capres 01 dengan Caleg DKI Dapil 2 Nasdem nomor 2. Terdapat juga beberapa lembar surat suara tercoblos caleg Demokrat nomor urut 3,” tuturnya.

Pada pukul 13.00 waktu setempat, keduanya sampai di lokasi pertama yang beralamat di Taman Universiti Sungai Tangkas Bangi 43000 Kajang, Selangor. Tempat itu merupakan sebuah lot toko yang dipenuhi surat suara.

Surat suara itu, kata Yaza, terbungkus dalam 20 tas diplomatik, 10 plastik hitam, dan 5 karung goni berwarna putih dengan tulisan Pos Malaysia.

“Diperkirakan jumlah surat suara yang berada di lokasi pertama sejumlah 10-20 ribu buah dan jumlah yang kurang lebih sama juga berada di lokasi kedua,” ujar dia.

Panwaslu Kuala Lumpur mengambil sampel surat suara dan menemukan sudah tercoblos untuk paslon 01 dan caleg nomor 3 Partai Nasdem di Dapil Jakarta II.

Lalu pukul 13.30 enam anggota Polis Diraha Malaysia Sungai Tangkas mendatangi lokasi. Setelah meminta keterangan, kepolisian lokal menyarankan KBRI untuk mengamankan surat suara tersebut. Kemudian pada 14.20 kepolisian memasang garis polisi.

Dugaan kecurangan kertas suara Pemilu 2019 yang tercoblos di Malaysia dinilai sebagai fenomena gunung es karena bisa saja terjadi di negera lain.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) bersama Sentra Penegakkan Hukum Terpadu (Sentra Gakkumdu) diminta untuk mendalami kasus ini dengan tetap menjunjung tinggi netralitas.

Anggota Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dradjad Wibowo mengaku sangat malu melihat video surat suara tercoblos di Malaysia. Pasalnya dalam video itu nampak juga polisi Diraja Malaysia ikut hadir di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

“Ada video di mana polisi Diraja Malaysia ikut hadir di TKP. Saya sampai malu melihatnya. Karena pihak asing ikut terlibat dalam kejadian ini,” kata Dradjad saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (11/4).

Perlu diketahui, di salah satu video viral, beberapa tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia bersama beberapa pihak menggerebek sebuah gudang yang isinya surat suara tercoblos. Di situ mereka menemukan surat suara sudah dicoblos untuk pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Maruf Amin.

Ada pula surat suara calon legislatif yang sudah dicoblos ke beberapa nama caleg. Salah satunya yakni Caleg Partai Nasdem, Davin Kirana. Davin merupakan putra dari Dubes RI untuk Malaysia Rusdi Kirana.

Terkait itu, Dradjad yang juga Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengaku masih berusaha memegang teguh asas praduga tidak bersalah. Tapi video tersebut dan berbagai kejadian lain menurut dia memberi indikasi yang kuat tentang terjadinya kecurangan yang masif dan terstruktur.

“Kejadian lain itu seperti bagi-bagi bingkisan yang marak di berbagai daerah, politik amplop hingga berbagai tekanan oleh oknum-oknum aparat,” imbuhnya.

Maka dari itu, Dradjad mengaku semakin sangsi kalau kecurangan serupa juga terjadi di negara lain. Bukan hanya di Malaysia.

“Jangan-jangan kejadian di Malaysia itu tidak berdiri sendiri. Jangan-jangan ini hanya puncak gunung es saja. Meski demikian, saya masih menjunjung tinggi praduga tidak bersalah,” tandasnya. Kita tunggu, adakah keseriusan aparat penegak hukum? (rmol,cnni)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.