Hasil penelitian ini mencengangkan. Ini suara guru dan dosen. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Hasil survey yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kepada 2.181 orang muslim, terdiri dari 1.522 siswa, 337 mahasiswa, 264 guru yang tersebar di 34 provinsi, 68 kabupaten dan kota di Indonesia, sangat menyedihkan.

“Bayangkan, ada 48,95 persen siswa/mahasiswa merasa pendidikan agama memiliki porsi yang besar dalam mempengaruhi mereka agar tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Miris sekali. Sudah begitu, pemahaman guru PAI (Pendidikan Agama Islam red) tentang Islam yang toleran sudah hilang. Saatnya pemerintah merevolusi guru PAI dan dosen-dosen ekstrem,” tegas Achmad Yani Albanis, Sekretaris Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah (PPKN) kepada duta.co, Jumat (18/5/2018).

Di sisi lain, ujarnya, digitalisasi harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat. Berdasar survey tersebut, kemudahan mengakses internet membuat anak-anak kita (Generasi Z) memiliki banyak relasi, tidak hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Mudah terhubung dengan dunia luar, Generasi Z lebih berpikiran terbuka. Masalahnya, ketika ditanya soal pemahaman agama, jawaban mereka sangat mencengangkan.

“Benar-benar gila! Sepertiga Generasi Z setuju jika Jihad adalah perang, 1 dari 5 siswa setuju bahwa bom bunuh diri adalah jihad, sepertiga Generasi Z setuju jika orang yang murtad, tidak masalah dibunuh, dan sepertiga Generasi Z setuju jika perbuatan intoleran kepada minoritas tidak masalah,” jelasnya.

Masih dari hasil survey PPIM UIN Jakarta, yang dilakukan 1 September – 7 Oktober 2017, mengatakan, sumber rujukan Generasi Z adalah 50,89% berasal dari media sosial. Ironisnya, hasil survey ini juga mengungkapkan 49% guru dan dosen tidak setuju jika pemerintah melindungi kelompok yang dianggap menyimpang. 86,55% guru dan dosen setuju pemerintah melarang keberadaan kelompok yang dianggap menyimpang. 53,74% guru dan dosen setuju bahwa Yahudi itu musuh Islam. 65,53% guru dan dosen tidak setuju rumah ibadah lain di lingkungannya.

“Jika pemerintah diam, maka, anak-anak kita akan terjangkit virus intoleran, wajah Indonesia akan semakin muram. Ini tidak cukup hanya dengan teriak-teriak moderat. Berikan pemahaman pada anak-anak kita, bahwa beragama adalah sebuah keniscayaan, sunnatullah yang harus dinikmati sebagai anugerah Tuhan, bukan ancaman dan musuh yang selalu harus diawasi dan dicurigai,” tegasnya.

Karenanya, Yani mengusulkan revolusi guru dan dosen, evaluasi besar-besaran rekrutmen pengajar PAI harus dilakukan. Bagaimana pengajar, dosen yang moderat menjadi kunci sekaligus landasan kuat toleransi dan keberagaman mereka. “Tanpa itu, omong kosong,” jelasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.