“…PDI-P adalah Parpol yang menjadikan Jokowi Presiden RI. Bahkan bangsa Indonesia pernah diberitahu bahwa Jokowi adalah petugas partai. PKB sendiri yang amat sangat kebelet jadi cawapres  Jokowi, sudah pula memasang jargon JOIN (Jokowi-Imin), kurang berkuasa apanya?…”

Oleh: Choirul Anam*

JUDUL di atas berasal dari dawuh kiai sepuh, KH Anwar Iskandar, pengasuh pondok pesantren “Al-Amin”, Kediri. Kiai Anwar memang, merupakan ‘palang-pintu’ kiai-kiai sepuh pendukung fanatik Gus Ipul (GI) yang, pada umumnya, pemegang otoritas tertinggi dalam struktur kepengurusan PWNU Jawa Timur. Tetapi, karena saya cukup lama bergandengan dengan Kiai Anwar Iskandar, maka dalam tulisan ini saya sebut saja Gus War—sebagaimana biasa saya memanggil.

Seperti diberitakan merdeka.com, Minggu (8/7), Gus War mengaku tidak terkejut atas kekalahan GI, karena sejak awal sudah tahu GI akan dikalahkan.  “Banyak laporan masuk ada campur-tangan kekuasaan. GI bukan kalah, tapi sengaja dikalahkan,” katanya. Siapa yang mengalahkan Gus? “Siapa yang bisa melawan kekuasaan, ada gubernur, ada petinggi negeri yang memiliki beragam sumber daya,” ujarnya. Wow, serius nih Gus!  Berarti, Gubernur Soekarwo dan Presiden Joko Widodo, layak sebagai tertuduh. Benarkah?

Gus War harus bisa membuktikan. Sebab, jika tidak, dawuh kiai sepuh hanya akan menjadi viral fitnahan. Dosa! Setahu saya, GI sudah sangat berkuasa dan perkasa. Dia adalah petahana Wagub dua periode. Seluruh lorong di Jawa Timur sudah dijelajahi. Popularitas dan elektabilitasnya pun (menurut lembaga survey merangkap dukun) membubung tinggi di atas awan. Koalisi Parpol pengusung GI (PKB, PDI-P, GERINDRA dan PKS) adalah juga Parpol penguasa berkekuatan 58% (58 kursi DPRD setara 10.894.120 suara).

Bukan cuma itu. PDI-P adalah Parpol yang menjadikan Jokowi Presiden RI. Bahkan bangsa Indoneia pernah diberitahu bahwa Jokowi adalah petugas partai. PKB sendiri yang amat sangat kebelet jadi cawapres  Jokowi, sudah pula memasang jargon JOIN (Jokowi-Imin), kurang berkuasa apanya? Itupun masih ditambah lagi PKS. Parpol yang kurang bersahabat dengan nahdliyin ini berhasil dijinakkan GI. Dan GERINDRA, yang bak burung garuda perkasa, juga manut saja dikombongkan GI di bawah fatwa kiai sepuh “wajib pilih GI-Puti”, yang katanya telah melakukan konfirmasi kepada Allah SWT. Nah, lengkaplah sudah kekuatan modal dan keperkasaan GI-Puti untuk berlaga dalam Pilgub.

Mestinya, GI tinggal menambah 2 juta suara saja pasti menang. Sebab modalnya sudah kelewat besar, 58 kursi setara 10,8 juta suara lebih. Tapi faktanya (hasil rekap KPUD Jatim), GI-Puti hanya memperoleh 9.076.014 suara (46,45%). Kata pedagang kaki lima di Pasar Keputran: tidak balik modal, karena dagangannya tidak memiliki selling point, dagangan GI-Puti tidak layak jual.  Sehingga, rakyat Jatim yang semakin pintar dan kritis, lebih suka membeli (memilih) barang yang ditawarkan Khofifah-Emil.  Jadi, jangan menyalahkan pemerintah, dan jangan pula menuduh kekuasaan ikut campur-tangan. Kurang modal kuat apa, kurang berkuasa apanya GI-Puti dalam kontestasi? Lho kok masih juga kalah sama Khofifah-Emil yang bermodal pas-pasan. Kata Cak Lontong, mikir…mikir…!

Memang, harus dipikir dan diakui, dengan modal besar dan kekusaan beragam belumlah cukup untuk mengalahkan Khofifah-Emil. Kenapa? Sebab, Khofifah-Emil merupakan kader terbaik NU yang memang sulit dikalahkan. Jangankan GI-Puti, biarpun (misalnya) Gus War-Gus Mutawakkil sendiri yang maju berlaga, juga akan digilas. Jauh sebelum tahapan Pilgub dimulai, saya dan kawan-kawan sempat ketemu Mensos Khofifah. Saya tanya dua hal: Apakah presiden mengizinkan sampean mundur dari Mensos? Dijawab dengan penuh keyakinan, insya Allah mengizinkan. Lalu saya tanya lagi, apakah presiden membolehkan sampean berkomunikasi dengan pimpinan Parpol? Juga dijawab dengan kalimat dan keyakinan yang sama. Sejak itu, saya dan kawan-kawan yakin sepenuh hati bahwa Khofifah akan maju lagi dan pasti menang!. Lho kok…..bisa?

Bisa! Berdasar catatan saya, sejak awal reformasi 1998, Khofifah telah berhasil membangun jaringan kader militan (terutama di Jatim melalui Muslimat NU) yang beyond party—melebihi kekuatan partai. Dan kekuatan ini pernah diuji-coba dua kali dalam Pilgub (2008 dan 2013) tidak berubah bahkan bertambah. Karena itu, ketika saya bertemu kawan-kawan PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah—Ormas baru berbadan hukum yang lahir November 2017), yang kala itu masih belum yakin Khofifah bakal maju Pilgub, segera saya nyatakan bahwa Khofifah pasti maju lagi dan menang.

Kemudian saya terangkan secara singkat peta kekuatan Khofifah di Pilgub Jatim 2008. Waktu itu, Khofifah berpasangan dengan Brigjen (purn) TNI Mujiono berjuluk KAJI, diusung 13 Parpol gurem berkekuatan 16,72% setara dengan 3.430.717 suara. Sesaat setelah pemungutan suara, semua quick count lembaga survey memenangkan KAJI 50,05%. Tetapi setelah melalui perjalanan Pilgub terpanjang dalam sejarah Jatim, akhirnya hasil rekap KPUD Jatim berbalik dan KAJI hanya mendapatkan 49,80% setara dengan 7.669.721 suara. Namun, dari angka tersebut menunjukkan bahwa antara modal dan perolehan terdapat selisih plus sebesar 4.239.004 suara. Suara inilah sesungguhnya bisa diklaim sebagai kekuatan Khofifah.

Lantas pada Pilgub 2013, kekuatan Khofifah dipertaruhkan kembali. Waktu itu Khofifah berpasangan dengan Jenderal Polisi Herman, mantan Kapolda Jatim, berjuluk BERKAH diusung 6 Perpol gurem berkekuatan 15,55% setara dengan 2.531.795 suara. Saya cuma mengikuti dari jauh, karena jauh hari sudah saya sarankan agar lewat jalur independen mengingat banyaknya rintangan yang menghadang jika melalui parpol. Tetapi Khofifah tetap saja berjibaku sampai harus mengadu ke DKPP. Tetapi yang perlu dicatat, dengan modal cupet dan penuh rintangan itu, pasangan BERKAH masih mampu meraih 38,03% setara dengan 6.630.840 suara. Ini menandakan, kekuatan Ketum Muslimat NU sebesar 4 juta suara lebih dalam Pilgub 2008, tetap konstan dan tidak berubah pada Pilgub 2013.

Karena itu, ketika rombongan Ketum DPP PPP, Ir HM Romahurmuziy, MT (Romi), datang ke kantor, dan kala itu yang saya tahu Ketua DPW PPP Jatim sudah ‘diikat’ GI dan Gus War, lalu saya tanya Romi, siapa pasangan cagub-cawagub yang akan diusung PPP? Dijawab Romi belum ada, karena masih menunggu hasil Raker DPW PPP Jatim. Saat itu pula saya tunjukkan peta kekuatan Khofifah-Emil yang sulit dikalahkan.

Benar kata KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah), Dr KH Asep Saifuddin Chalim, KH Afifuddin Muhajir, dan Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim, Prof Dr Zainuddin Maliki, MA, bahwa Paslon Khofifah-Emil selain memiliki fisik-mental prima, juga mempunyai kapasitas keilmuan, pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk memimpin Jatim lebih baik lagi. Dan benar, Khofifah-Emil akhirnya  mengalahkan GI-Puti yang bermodal kuat dan didukung koalisi parpol penguasa.

Jadi bukan kekuasaan dan bukan pula gubernur maupun petinggi negeri yang mengalahkan GI-Puti (seperti dituduhkan Gus War), melainkan  paslon gubernur terpilih Khofifah-Emil yang bermodal 42% (42 kursi DPRD setara dengan 8,3 juta suara), yang berhasil memperoleh 53,55%  atau 10.465.218 suara. Kata pedagang pasar Blawuran, sudah kembali modal.

Selamat Menikmati Perubahan

Bahkan waktu itu saya katakan kepada kawan-kawan PPKN, kalau KPUD berhasil menaikkan partisipasi pemilih sebesar 75% dari DPT Pilgub Jatim sekitar 31 juta (berarti sekitar 23 juta suara yang diperebutkan), maka Khofifah-Emil akan meninggalkan GI-Puti jauh di belakang dengan perkiraan selisih 10% atau akan mengantongi suara sekitar 13 jutaan. Tetapi karena KPUD hanya mampu menaikkan partisipasi pemilih di bawah prediksi (katanya 69%), maka Khofifah-Emil pun telah berhasil mengembalikan modal partai pengusung.

Karena itu, dapatlah diperkirakan dalam Pileg tahun depan (2019), peta kekuatan parpol di Jatim akan mengalami perubahan. Bisa jadi, Partai Demokrat akan menjadi partai pemenang di Jawa Timur, disusul parpol pengusung lainnya. Tetapi dengan catatan, para caleg yang ditampilkan harus bersih dari noda kriminal, dekat dan mau berjuang untuk kepentingan rakyat serta berperi-laku politik sebagaimana 9 Pedoman Berpolitik Warga NU yang telah digariskan oleh PBNU.

Mengapa? Sebab, warga nahdliyin Jawa Timur telah sangat faham mana politik kiai yang tercermin dalam 9 pedoman berpolitik dan mana pula kiai politik yang cuma ahli memainkan kepentingannya sendiri. Selamat menikmati perubahan, dan semoga parpol pengusung gubernur terpilih memperoleh kejayaan dalam laga Pileg mendatang! Wallahu’alam. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.