JOMBANG | duta.co — Di tengah riuh notifikasi dan candu layar sentuh, PCNU Jombang memilih cara sunyi: mematikan gawai selama tiga jam. Bukan simbolik. Bukan seremonial. Tapi disiplin waktu yang ingin dijadikan gerakan bersama.

Gagasan itu lahir dalam forum Nahdlatul Ulama tingkat cabang, Muskercab II, yang digelar Ahad (3/5/2026) di Gedung Serbaguna PCNU. Nama gerakannya sederhana dan membumi: “Telung Jam Lali HP” pukul 17.00 sampai 20.00 WIB, waktu yang selama ini justru paling sibuk oleh layar.

Bagi panitia, ini bukan sekadar imbauan moral. Ini respons atas situasi yang mereka sebut sudah mengkhawatirkan.

Koordinator Steering Committee Muskercab II, KH Sholahuddin Fathurrahman, menyebut fenomena ini sebagai krisis karakter yang pelan tapi pasti.

“Anak-anak hari ini kehilangan waktu belajarnya, kehilangan waktu bicaranya dengan orang tua, bahkan kehilangan waktu khusyuknya. Semua direbut layar,” ujarnya.

Jam 17.00–20.00 dipilih bukan tanpa alasan. Itu waktu magrib, waktu keluarga berkumpul, waktu anak-anak seharusnya mengaji, belajar, dan berinteraksi langsung di rumah. Waktu yang kini paling sering diisi dengan scroll tanpa henti.

Forum yang dihadiri ratusan peserta dari unsur MWCNU, lembaga, banom, hingga jajaran Syuriah dan Tanfidziyah itu sepakat: persoalan gawai bukan lagi urusan pribadi, tapi sudah menjadi problem sosial yang perlu gerakan kolektif.

Muskercab II tak berhenti pada isu gawai. Sejumlah rekomendasi strategis juga lahir. Mulai dari komitmen menjaga integritas pelaksanaan Muktamar NU ke-35, penguatan kemandirian ekonomi umat melalui sertifikasi aset jam’iyah dan pengembangan UMKM, hingga penguatan sinergi dengan aparat keamanan.

PCNU Jombang bahkan secara terbuka mendorong kolaborasi dengan kepolisian dan TNI dalam memerangi penyakit masyarakat: judi online, narkoba, dan minuman keras.

Seluruh jajaran pengurus NU dari tingkat kecamatan hingga desa diminta segera menggerakkan sosialisasi hasil Muskercab ini. Kaderisasi pun diperketat. Pengurus diwajibkan mengikuti pendidikan kader sebagai fondasi gerakan.

Gerakan “Telung Jam Lali HP” mungkin terdengar sederhana. Tapi di mata para kiai, inilah bentuk perlawanan paling nyata terhadap zaman yang pelan-pelan mencuri perhatian, waktu, dan karakter generasi muda.

Tiga jam tanpa gawai. Tiga jam untuk keluarga. Tiga jam untuk ibadah. Tiga jam untuk mengembalikan yang pelan-pelan hilang. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry