WILIS : Gerakan penanaman kopi digelar Kantor Perwakilan BI bersama kelompok tani dan karang taruna (duta.co/Nanang Priyo)

KEDIRI | duta.co – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri  bersama KUB Omah Kopi, petani, pokdawaris, karang taruna dan Perum Perhutani melaksanakan penanaman kopi arabika jenis comsati sebanyak 25 ribu batang di Kecamatan Sendang dan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung, Kamis (08/11/2018).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Acara ini sekaligus ajang kampanye Gerakan Peduli Lingkungan melalui pengelolaan dan pemanfaatan pupuk organik limbah ternak yang di fermentasi serta melakukan gerakan pengembangan wisata.

Disampaikan Djoko Raharto, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, kegiatan ini sebenarnya sudah dimulai sejak awal Tahun 2017. Berawal dari bibit kopi 30 ribu batang dan dibantu proses hulu hilir yang hasilnya kian berkembang. Hal ini, kemudian memicu semangat petani dalam budidaya tanaman kopi.

“Kegiatan ini murni inisiatif petani dan lembaga – lembaga yang mendukung. Diawali Tahun 2017, kami sudah mengirim petani ke Balai Penelitian Kopi dan Coklat di Jember, untuk belajar tanaman sekaligus melakukan pelatihan untuk proses pengolahannya,” terangnya.

Selain itu, para petani juga dilatih mengolah limbah dari kotoran sapi yang selama ini dibuang ke sungai karena berdampak pencemaran lingkungan.

“Pengolahanya dengan memfermentasikan kotoran sapi menjadi pupuk organik. Sehingga yang selama ini petani mengambil pupuk dari bawah bisa memanfaaatkan limbah tersebut,” jelas Kepala Kantor BI.

Mengenai potensi pariwisata di wilayah kopi yang layak jual. Juga di dukung dengan keindahan alam budaya setempat serta materi nilai ekonomisnya yang di kombinasikan dengan produk unggulan, setempat seperti susu, teh, dan coklat di promosikan oleh warung pokdawaris.

Mengenai  pengolahanya kopi tersebut akan di kumpulkan dan di olah oleh omah kopi mandiri. Mulai dari pemilihan biji kopi berkualitas sampai siap untuk di pasarkan menjadi produk.

“Biasa saya mengambil kopi hanya yang berkualitas untuk saya kemas dan saya pasarkan. Sejauh ini pasar kopi hanya bisa mencukupi wilayah lokal saya, mungkin akan meluas jika hasil dari petani mengalami peningkatan,” jelas Kristian Yuono, Ketua Kelompok Omah Kopi. (riz/nng)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.