Keterangan foto tirto.id

SURABAYA | duta.co –  Gerak cepat intel Kodim 0809 Kediri menghalau buku-buku Partai Komunis Indonesia (PKI) patut diacungi jempol. Razia di toko buku Q Ageng yang beralamat di Jalan  Brawijaya 67, Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kediri, menunjukkan betapa masif gerakan mereka. Belum lagi adanya ‘pertemuan darat’ kader-kader komunis yang terus berjalan.

“Hari ini mereka mendapat kesempatan emas. Mereka bisa keluar masuk di kantor-kantor pemerintah. Bahkan di antara mereka sudah berada di Gedung DPR RI, Senayan. Kiai dan santri tak boleh diam, kita dukung razai Kodim 0809 Kediri,” tegas H Agus Solachul A’am Wahib, Ketua Barisan Kiai dan Santri Nahdliyin (BKSN) yang notabene pendukung Prabowo Sandi kepada duta.co Jumat (28/12/2018).

Menurut Gus A’am Wahib, ancaman terdekat bangsa ini bukan khilafah, melainkan ideologi komunis. Mengapa? “Karena kader-kader PKI terus bergerak. Mereka sudah membuat jaringan internasional, menuntut ganti rugi materiil atas peristiwa G/30/S 1965. Mereka mendapat dukungan dari kelompok liberal,” jelasnya.

Ketua Barisan Kiai dan Santri Nahdliyin (BKSN), H Agus Solachul A’am Wahib

Hari ini, lanjutnya, kader-kader PKI sudah menyiapkan perang literasi. Mereka membuat buku-buku dengan jumlah banyak dan murah. Jangan heran kalau kemudian dijumpai tokok buku yang penuh dengan karya anak-anak keturunan PKI.

“Buku berjudul ‘Aku Bangga Jadi Anak PKI’ karya Ribka Tjiptaning, kader PDI-P termasuk yang diamankan petugas di Kediri,” terangnya.

Yakin Prabowo-Sandi yang Bisa Atasi

Sebagai ideologi, lanjut putra Menteri Agama RI ke-8 KH Wahib Wahab Chasbullah ini, komunisme tidak akan pernah mati dan akan terus ada. Buktinya sampai saat ini masih ada beberapa negara seperti China, Korea Utara dan Kuba yang masih mempertahan sebagai ideologi negara meski mengalami beberapa penyesuaian di sana sini sesuai perkembangan zaman.

“Meski telah mengalami kebangkrutan politik di mana-mana, namun metode gerakan dan perilaku politiknya, tetap sama. Mereka ini anti agama. Kita bisa simak bersama, di Indonesia sudah ada partai yang terang-terangan anti agama, tidak percaya akhirat, menolak perda syariah,” lanjutnya.

Menurut Gus A’am Wahib, kebangkitan komunisne di Indonesia saat ini tak lagi dalam bentuk seperti dulu, era akhir tahun 50 an dan awal-awal tahun 1960 lalu, di mana orientasinya merebut kekuasaan negara, saat ini mereka lebih memilih muncul dengan isu-isu populis kerakyatan seperti isu HAM dan lingkungan hidup.

“Dari situ mereka memperkuat partai dan parlemen. Munculnya partai baru yang anti Islam, bisa jadi bagian dari strategi mereka. Inilah yang harus diantisipasi. Kita harus kawal jangan sampai warga dimanfaatkan untuk kepentingan mereka. Kader NU, kiai dan santri harus siap menjadi ‘pagar hidup’ NKRI dan Pancasila. Itulah sebabnya, BKSN pilih Prabowo-Sandi yang diyakini mampu mengimbangi kekuatan komunis di Indonesia,” tegasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.