Rektor UBHARA, Brigjen Pol (Purn) Drs Edy Prawoto, SH, MHum, saat melakukan tanam pohon "Gerakan Bumiku Hijai" di Magister Ilmu Hukum Pascasarjana UBHARA Surabaya, Jumat (2/5/2019}

SURABAYA | duta.co –  Lebih kurang 40 Mahasiswa Magister Ilmu Hukum, Pascasarjana Universitas Bhayangkara (UBHARA) Surabaya, angkatan Tahun 2018 menggelar aksi tanam pohon bertajuk “Gerakan Bumiku Hijau” di halaman kampus, Jumat (3/5/2019).

“Di Gerakan Bumiku Hijau, kita sengaja melibatkan 40 mahasiswa dan berusaha mengajak dan membangun budaya akademisi, bahwa menanam pohon itu penting sebagai perwujudan kepedulian dan kecintaan pada keberlanjutan lingkungan,” ungkap Titus Wijaya SH, Ketua Pelaksana “Gerakan Bumiku Hijau” di sela-sela acara.

Dan lanjut Titus, menanam pohon kali ini tidak hanya sekedar menamam melainkan juga memperhatikan seni keindahan. “Makanya dari 100 pohon yang kita tanam, tidak sembarang pohon, melainkan sengaja kita pilih yang berkualitas, seperti tabebuya, pucuk merah, dan melati,” jelasnya.

Dr Suparto Wijoyo , penggagas acara yang juga dosen pengampu Hukum Lingkungan di Pascasarjana UBHARA mengungkapkan, “Gerakan Bumiku Hijau” ini merupakan agenda penting pelibatan mahasiswa dalam penyelamatan lingkungan.

“Ini mengimplemantasikan pelajaran dalam perkuliahan hukum lingkungan di Magister Ilmu Hukum, Pascasarjana UBHARA. Jadi kuliah ini yang saya ampu ini bermakna akademik sekaligus ekologik,” ungkapnya.

Jadi lanjut Suparto, gerakan mahasiswa itu secara teologis masuk dalam tanah Fiqih sedekah oksigen. “Karena itu saya mengapresiasi setiap perkuliahan ini mahasiswa selalu tergerak untuk bertindak nyata, bukan sekadar pasal-pasal hukum semata. Salam hijau buat mahasiswa Magister UBHARA,” ungkapnya.

Sementara Rektor UBHARA, Brigjen Pol (Purn) Drs Edy Prawoto, SH, MHum, mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi mahasiswa Magister Hukum ini. Dan aksi tanam pohon ini merupakan kegiatan yang berkesinambungan. “Ini juga merupakan salah satu upaya untuk membangkitkan pemahaman arti lingkungan pada mahasiswa. Ingat belajar tidak hanya di awang-awang tapi juga menapak bumi, artinya tidak sekedar belajar teori tapi jaga mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata,” ucapnya.

Apalagi, lanjutnya, di era industri 4.0 ini basicnya adalah teknologi, tapi kalau hanya teknologi saja bisa terjadi distorsi. Oleh karena itu harus diikuti dengan masyarakat 5.0. “Masyarakat 5.0 adalah masyarakat yang berbudaya, beretika dan bermartabat,” tegasnya

Artinya, lanjutnya, bila tidak diimbangi dengan masyarakat 5.0 maka tidak akan tahu mana yang benar dan mana yang salah. “Ilmu tidak digunakan untuk membodohi orang lain, sebaliknya ilmu itu untuk digunakan dan diterapkan sebaik-baiknya,” urainya.

Dan masyarakat yang berbudaya, beretika dan bermartabat itu adalah masyarakat yang mampu menjaga lingkungannya. Ingat kondisi saat ini bahkan di Negara-negara maju sudah bericara lingkungan. Karena lingkunganlah yang menopang kehidupan masyarakat. “Lingkungan yang tidak sehat masyarakatnya tidak sehat. Itu pasti. Karenanya saya sangat mengapresiasi acara yang digagas mahasiswa ini,” tandasnya.

Sekedar diketahui, masyarakat 5.0 adalah suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based) yang dikembangkan oleh Jepang.  Konsep ini lahir sebagai pengembangan dari revolusi industri 4.0 yang dinilai berpotensi mendegradasi peran manusia.

Melalui Masyarakat 5.0, kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan mentransformasi big data yang dikumpulkan melalui internet pada segala bidang kehidupan (the Internet of Things) menjadi suatu kearifan baru, yang akan didedikasikan untuk meningkatkan kemampuan manusia membuka peluang-peluang bagi kemanusiaan.  Transformasi ini akan membantu manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Turut  hadir di ‘Gerakan Bumiku Hijau”, Dr Hj Musriha, Dra Ec, MSi,  Direktur Pasca Sarjana Universitas Bhayangkara Surabaya dan Wredha Danang Widoyoko, SHI, MH, CLA,  Ketua Program Studi Magister Hukum serta Presiden BEM UBHARA. rum