Seorang barista perempuan sedang memperlihatkan keterampilannya membuat topping di atas secangkir kopi di TGC Coffee Basuki Rahmad, Selasa (1/10). DUTA/wiwiek

Gerai-gerai kopi di Kota Pahlawan bertebaran. Namun semua adalah brand global dengan konsep yang rata-rata seragam. Tapi, TGC Coffee Roatery and Retalier memiliki konsep berbeda. Tempat ini 100 persen mempekerjakan barista perempuan.

—-

TGC Coffee sudah memiliki tiga cabang. Satu di Loop Surabaya, satu di Bali dan satu lagi di Basuki Rahmad Surabaya.

Ketiga lokasi menerapkan konsep desain resto yang berbeda. Satu dengan desain layaknya di kapal pesiar, di Bali dengan desain Yunani dan di Basuki Rahmad dengan desain rumah Jepang.

Yang sama adalah ketiganya menyediakan bahan berkualitas dengan 100 jenis kopi yang bisa dipilih sesuai selera. Selain itu di setiap cabang TGC Coffee mempekerjakan barista yang semuanya perempuan.

Bisa dibayangkan, bagaimana perempuan mengaduk kopi dan harus cekatan melayani para tamu yang datang. Ternyata mereka tak kalah dengan barista laki-laki. Terbukti saat grand launching kafe tersebut di kawasan Basuki Rahmad Surabaya, Selasa (1/10).

Barista-barista perempuan memperagakan bagaimana dia menyeduh kopi, memberikan tampilan menarik pada sajian minuman kopi hingga mempersilahkan pengunjung untuk menikmatinya. Semua tidak ada bedanya.

Dan mereka ternyata adalah pada alumni dari sekolah menengah kejuruan (SMK) yang ada di Surabaya. “Saya mempekerjakan anak-anak lulusan SMK. Kita memilih lulusan terbaik dari dua SMK mitra di Surabaya,” ujar pemilik TGC Coffee, Daniel Ko.

Mempekerjakan barista perempuan dikatakan Daniel bukan tanpa alasan. “Supaya tidak dicaplok pesaing. Dan kadang susah tuh mempekerjakan barista perempuan,” tambahnya.

Barista perempuan, kata Daniel memiliki mood yang naik turun. Mood itu tentu saja mempengaruhi adukan kopi yang mereka buat. Daniel menyadari hal itu.

Ketika barista perempuan sedang dalam masa haid atau menstruasi, maka dia melarangnya untuk menyeduh kopi. Dia hanya diperbolehkan untuk melayani tamu.

Hal itu sudah dibuktikan Daniel, ketika masa haid, pasti seduhan kopi sang barista tidak akan meresap ke hati konsumen.

“Kita sudah pernah tes. Ada 11 seduhan kopi yang dibuat 11 barista. Tiga sedang menstruasi ternyata dan kopi ketiganya langsung out,” tukasnya.

Dengan cara ini, kualitas minuman kopi di TGC bisa tetap terjaga. “Bagi saya tidak masalah, tidak ada ruginya. Ini menjadi ciri khas kafe saya dengan barista perempuan,” ungkapnya.

Melayani konsumen juga dengan cekatan. DUTA/wiwiek

Selain itu, daya tarik lain dari kafe ini ada menyediakan 100 jenis kopi mulai lokal hingga luar negeri.

Bahkan ada kopi termahal di dunia yakni jenis geisha dari Kosta Rika. Harganya Rp 30 juta per kilogram. Juga ada yang dari Utopia yang hanya diproduksi sebanyak 800 kilogram per tahun.

“Harganya mahal memang. Konsumen bisa menikmatinya seharga Rp 150 ribu per gelas ukuran 200 mili liter,” jelasnya.

Untuk saat ini, diakui Daniel masih belum banyak yang menikmati jenis kopi mahal tersebut. Tapi, lambat laun penikmatnya mulai bertambah. Bahkan, konsumen sudah mulai mengakuinya.

“Kita ingin edukasi konsumen. Belum banyak tak apa, yang penting mereka kenal dulu. Dan yang sudah kenal itu pasti kembali untuk menikmatinya. Di Bali kami sudah membuktikannya,” tukasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry