
JOMBANG | duta.co — Suasana Kantor PCNU Jombang di Jalan Gatot Subroto, Minggu (7/12/2025), mendadak berubah menjadi arena pertempuran digital. Sorak-sorai suporter, teriakan jargon khas setiap tim, dan tatapan tegang para pemain yang terpaku pada layar ponsel membuat gedung itu serupa arena e-sport profesional. Hari itu, puluhan pelajar dari berbagai kecamatan dan kampus di Jombang berkumpul dengan satu tujuan: merebut gelar terbaik dalam NU Student Game Turnamen Mobile Legends.
Kegiatan yang diinisiasi PC IPNU–IPPNU Jombang ini bukan sekadar lomba. Ia menjadi ruang temu anak-anak muda yang membawa semangat kompetisi sehat, mengenakan identitas kecamatan atau Pimpinan Anak Cabang (PAC), hingga perwakilan perguruan tinggi atau Pimpinan Komisariat (PK). Masing-masing datang membawa nama besar yang ingin dijaga.
Sejak pagi, atmosfer antusias sudah terasa. Para pemain sibuk menyusun strategi, sementara suporter memenuhi sisi ruangan dengan yel-yel khas. Setiap pertandingan berlangsung intens, cepat, dan sarat kejutan. Sistem gugur membuat semuanya makin dramatis—satu kesalahan kecil bisa memupus mimpi menjadi juara.
“Anak-anak ini punya kecenderungan besar pada e-sport. Dan kami ingin menyediakan ruang yang benar-benar kompetitif, bukan sekadar kompetisi ala warung kopi,” ujar Eka Shasmita Devy, Steering Committee lomba, yang sejak pagi tampak hilir mudik memastikan jalannya pertandingan tanpa celah.

Turnamen kali ini diikuti lebih dari 20 tim dari 21 PAC dan 7 PK perguruan tinggi. Semua peserta berada dalam rentang usia maksimal 24 tahun, batas usia resmi keanggotaan IPNU–IPPNU. Bagi organisasi pelajar ini, e-sport bukan lagi sekadar hiburan, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan remaja masa kini.
“Tujuan kami jelas, menyediakan wadah agar bakat teman-teman tersalurkan secara positif. E-sport itu dunia mereka, dan kami ingin hadir di sana untuk memfasilitasi,” tambah Shasmita.
Menariknya, turnamen ini bukan akhir. Shasmita menegaskan bahwa pihaknya sudah menyiapkan langkah lanjutan. “Setelah ini, kami akan membentuk komunitas e-sport dari peserta yang terlibat. Kami ingin mereka terus berkembang. Kalau ada kompetisi tingkat profesional, kami siap kirim delegasi,” katanya dengan penuh optimisme.
Setelah pertarungan panjang dan melelahkan, pemenang akhirnya ditetapkan. Juara 1 diraih PAC Ngoro, Juara 2 PAC Mojowarno, dan Juara 3 PAC Bandarkedungmulyo. Kemenangan itu disambut riuh para pendukung. Para pemain yang sejak pagi tegang akhirnya tersenyum lepas, sebagian saling berpelukan, merayakan kerja keras yang terbayar.
“Semoga prestasi dan bakat teman-teman ini bisa dibawa ke hal-hal positif, terutama dunia kompetisi sportif,” tutur Shasmita.
Ia menegaskan e-sport kini bukan aktivitas sampingan. Ia berkembang menjadi ruang kreatif, arena talent scouting, sekaligus tempat para pelajar membangun jejaring pertemanan baru.
Dan hari itu, Jombang menjadi saksi bagaimana para pelajar menunjukkan ketangguhan, kekompakan, dan sportivitas melalui layar kecil di genggaman mereka cermin bahwa generasi muda sedang bergerak, tumbuh, dan membangun dunianya sendiri. Dunia di mana strategi, refleks, solidaritas, dan keberanian bertaut dalam satu arena digital. (din)





































