
“Ketika badai fitnah datang, Khofifah tidak menanggapi dengan retorika tandingan. Ia justru memeluk senyap dan berserah pada langit. Lebih dari 50 kiai sepuh berkumpul dalam istighatsah dan munajat, memohon perlindungan bukan hanya bagi dirinya, tapi juga untuk marwah kepemimpinan Islam Nusantara.”

Oleh Dr H ROMADLON, MM*
Genderang politik (2029) itu ditabuh terlalu dini. Dalam iklim politik nasional yang makin dinamis dan cair serta penuh spekulasi, aroma kontestasi Pilpres 2029 sudah tercium, bahkan sebelum tinta pelantikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengering.
Baru sebulan menjabat sebagai Gubernur Jatim periode kedua, genderang perang politik itu terdengar nyaring. Sasaran utamanya bukan sekadar capaian kinerja, melainkan karakter personal, integritas spiritual, dan arah kepemimpinannya.
Ini bukan sekadar dinamika politik biasa. Ada desain sistematis, terstruktur, dan masif untuk merusak reputasi dan memotong jalan kepemimpinan seorang perempuan nahdliyyin yang lahir dari rahim pesantren, besar dalam gerakan sosial, dan tertempa oleh kearifan ulama nusantara.
Kepemimpinan dan Tradisi Ahlussunnah*
Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), kekuasaan bukanlah panggung ambisi, tetapi amanah yang sarat tanggung jawab dunia-akhirat. Pemimpin sejati adalah khadim al-ummah—pelayan umat—yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh manusia dan Tuhan.
Gubernur Khofifah merupakan personifikasi dari nilai-nilai itu. Aktivismenya di Muslimat NU, rekam jejak birokratisnya di Kementerian Sosial, dan jejaring spiritualnya dengan para kiai sepuh menjadikan sosoknya sebagai anomali positif dalam lanskap politik nasional—rasional dalam kebijakan, spiritual dalam sikap, dan eksekutorial dalam implementasi.
Bagi Gubernur Khofifah, menebar rahmat dan salam bukan sekadar slogan, tapi menjadi ruh dari perjuangan kepemimpinan yang berpihak pada kemanusiaan. Memberdayakan anak yatim, piatu, kaum dhuafa, serta masyarakat lemah bukan hanya bentuk kepedulian sosial, melainkan juga ikhtiar spiritual untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan yang merata.
Begitu juga lantunan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. menjadi bagian dari semangat kolektif untuk membangun Jawa Timur yang penuh berkah (barokah), di mana nilai-nilai religius dan sosial saling menguatkan. Dari desa hingga kota, dari pesantren hingga kampus, dari pasar hingga kantor pemerintahan—semua bergerak bersama dalam harmoni.
Inilah pijakan utama Gubernur Khofifah untuk menapaki era Gerbang Baru Nusantara—Gerakan Transformasi Pembangunan yang bukan hanya mengandalkan kekuatan infrastruktur, tetapi juga membangun fondasi spiritual, budaya, dan solidaritas sosial sebagai kekuatan utama menuju Indonesia Emas 2045.
Bank Jatim dan Isu Teknis yang Dipolitisasi
Dua isu keuangan yang kini digoreng di ruang publik—yakni kasus pembobolan Bank Jatim Jakarta (Rp500 miliar) dan kerugian investasi Bank Jatim Syariah (±Rp100 miliar)—sejatinya merupakan ranah operasional internal BUMD. Dalam tata kelola korporasi, tanggung jawab berada pada direksi, bukan kepala daerah.
Namun dalam logika politik yang manipulatif, fakta kerap dikaburkan. Media sosial, buzzer anonim, dan infografis menyesatkan membentuk opini bahwa gubernur bertanggung jawab langsung atas fraud manajerial. Ini bukan sekadar misinformasi, tetapi bagian dari kampanye sistematis untuk membunuh karakter.
Doa Para Kiai: Benteng Nyata
Ketika badai fitnah datang, Khofifah tidak menanggapi dengan retorika tandingan. Ia justru memeluk senyap dan berserah pada langit. Lebih dari 50 kiai sepuh berkumpul dalam istighatsah dan munajat, memohon perlindungan bukan hanya bagi dirinya, tapi juga untuk marwah kepemimpinan Islam Nusantara.
Doa para kiai bukan sekadar simbol religiositas, melainkan peneguh legitimasi spiritual. Kepemimpinan Khofifah bukan sekadar jabatan administratif, tetapi bagian dari amanah peradaban yang dijaga oleh restu ulama dan doa langit.
2029 dan Fitnah yang Terstruktur
Pakar komunikasi politik dari UGM dan Unair mencatat bahwa pola serangan terhadap Khofifah sangat mirip dengan kampanye hitam di Pilpres 2019. Terdeteksi setidaknya 25 akun anonim yang secara aktif menyebarkan hoaks, meme sarkastik, dan framing digital dengan isu-isu populis dan menyesatkan: Pertama, Membandingkan kinerja Jatim dengan provinsi lain secara parsial; Kedua, Mendorong penghapusan pajak kendaraan tanpa kalkulasi fiskal; ketiga, menuduh lambannya respon terhadap krisis meskipun data menunjukkan sebaliknya.
Namun, di balik penggiringan opini negatif tersebut, terdapat fakta objektif bahwa, pertama, adanya kepatuhan pajak kendaraan Jatim mencapai: 80%. Jika potensi kerugian fiskal jika pajak dihapus mencapai: ± Rp4,9 triliun. Dan Utang daerah Jatim: terendah secara nasional (Rp68 miliar) dibandinkan daerah lain nencapai triliunan rupiah.
Ketika Fitnah Menggila
Sementara opini dibelokkan, Khofifah tetap bekerja dalam senyap. Ia fokus pada rakyat kecil, santri, pelaku UMKM, dan keluarga rentan.
Salah satu lompatan signifikan adalah perluasan program beasiswa kuliah gratis hingga jenjang S3. Pemprov Jatim telah menjangkau lebih dari 5.600 mahasiswa, termasuk 123 santri ke Al-Azhar Kairo, dan 130 mahasiswa S3 yang belajar di sembilan kampus terbaik. Ini merupakan sinergi nyata antara negara dan pesantren.
Selain itu, masih terdapat bukti nyata atas keberhasilan program Pemprov Jatim: Misalnya, Kredit Mesra (tanpa bunga) telah menjangkau 32.000 UMKM, Revitalisasi 1.500+ pesantren produktif dilaksanakan, Penurunan angka pengangguran dari 5,36% (2019) menjadi 4,11% (2023) dan juga Kenaikan IPM Jawa Timur dari 71,5 (2018) menjadi 74,2 (2023).
Oleh karena itu, capaian-capaian gemilang yang telah ditorehkan Gubernur Khofifah selama tahun pertama kepemimpinannya bukan sekadar prestasi administratif, melainkan buah dari niat yang tulus dan pengabdian yang ikhlas sebagai bagian dari ibadah. Semua itu dijalankan dalam rangka menolong agama Allah—melalui keberpihakan nyata kepada anak yatim, piatu, kaum dhuafa, fakir miskin, serta kelompok rentan lainnya.
Kepemimpinannya bukan hanya berbasis kebijakan, tetapi juga disertai dengan kekuatan spiritual: Shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. menjadi bagian dari nafas perjuangan. Doa dan kerja bergandengan tangan dalam setiap program yang diluncurkan. Itulah kekuatan yang membedakan—mengubah tugas pemerintahan menjadi ladang pengabdian.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Muhammad ayat 7: “Yā ayyuhalladzīna āmanū in tanṣurullāha yanṣurkum wa yuthabbit aqdāmakum,” yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Ayat ini menjadi fondasi spiritual yang terus menguatkan langkah Gubernur Khofifah: bahwa siapa pun yang bersungguh-sungguh dalam membela kebenaran dan kemaslahatan umat, maka pertolongan Allah akan datang, dan keberpihakannya akan melahirkan keberkahan serta kemuliaan di dunia maupun akhirat.
Gubernur Khofifah tidak bekerja demi headline. Ia bekerja agar dapur para ibu-ibu tetap mengepul, anak-anak miskin tetap bisa sekolah, dan pesantren tetap menjadi benteng moral bangsa.
Gubernur Khofifah tidak mengejar tepuk tangan, tetapi atas dasar keikhlasan keberkahan. Di tengah hiruk pikuk politik yang kerap memanipulasi emosi rakyat, Khofifah justru memperkuat ketahanan keluarga, membuka akses pendidikan bagi yang terpinggirkan, dan menghidupkan ekonomi umat dari bawah—dari pasar tradisional, pesantren produktif, hingga UMKM berbasis pondok pesantren.
Di saat banyak pemimpin sibuk membangun citra, Gubernur Khofifah justru membangun jaringan kasih dan gotong royong: dari gerakan peduli difabel, layanan kesehatan gratis untuk lansia, hingga pemberdayaan perempuan berbasis komunitas. Setiap langkahnya bukan sekadar program, tapi bagian dari ibadah sosial yang ditanamkan dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah.
Gubernur Khofifah bukan hanya gubernur di atas kertas, ia adalah ibu yang merangkul, guru yang membimbing, dan santri yang taat kepada dawuh para kiai. Ketika namanya dijadikan sasaran hoaks dan fitnah, ia tak menjawab dengan kemarahan, tetapi dengan kesabaran dan pelayanan yang lebih mendalam. Sebab ia tahu, kemuliaan pemimpin justru diuji ketika difitnah, dan kebesaran jiwa terlihat saat tetap melayani mereka yang mencaci.
Dari Sunyi Tumbuh Pemimpin Sejati
Pertama, Khofifah membuktikan bahwa kepemimpinan sejati bukan dibentuk dari sorotan kamera, tetapi dari konsistensi dalam badai. Ia tidak mengejar popularitas, melainkan keberkahan dan tanggung jawab.
Kedua, ketika fitnah menjadi instrumen politik, ia justru mengajarkan kita tentang istiqamah: membalas cacian dengan kerja, menghadapi tipu daya dengan keteguhan, dan menyerahkan semuanya kepada Sang Maha Kuasa.
Ketiga, sebagai *trend growth of the day*—dalam era politik yang penuh sensasi dan manipulasi digital, pemimpin sejati justru tumbuh dari kesenyapan. Dan dari kesenyapan itulah, akan lahir cahaya yang menerangi masa depan Indonesia. Wallahu A’lamu Bishawwab.
*Dr. H. ROMADLON, MM adalah Pemberdaya Masyarakat di Bidang Sosial dan Pendidikan Islam. Wakil Ketua PW ISNU Jatim. Ketua Komisi Hubungan Ulama dan Umara MUI Provinsi Jatim. Ketua Yayasan Sosial dan Pendidikan Al-Huda Insan Kamila Grogol Kediri.





































